<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650</id><updated>2012-02-11T06:43:19.438-08:00</updated><category term='Nagoya'/><category term='Nongsa'/><category term='Muka Kuning'/><title type='text'>Batam Dalam Kenangan</title><subtitle type='html'>Kisah-kisah Inspiratif tentang Petualangan, Persahabatan, Cinta dan Pengorbanan dengan Latar Belakang Pengalaman Hidup di Pulau Batam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-267075156323584051</id><published>2008-11-10T22:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T22:46:25.978-08:00</updated><title type='text'>Milis Alumni Batam</title><content type='html'>Kepada teman-teman, saudara, mas, mbak, abang, adik, bapak, ibu yang merasa pernah 'menimba ilmu' di sekolah kehidupan di Batam, silakan bergabung dengan milis mybatam@yahoogroups.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini temapt silaturahim, berbagi cerita sekaligus bernostalgia tentang kehidupan yang pernah dijalani selama tinggal di Pulau Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bergabung, kirim email kosong ke mybatam-subscribe@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bergabung,&lt;br /&gt;Admin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-267075156323584051?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/267075156323584051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=267075156323584051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/267075156323584051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/267075156323584051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2008/11/milis-alumni-batam.html' title='Milis Alumni Batam'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-4874797286687645767</id><published>2008-04-07T19:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T22:14:42.228-07:00</updated><title type='text'>Mirip Ayat-ayat Cinta</title><content type='html'>Aku membaca novel Aat-ayat cinta pada saat edisi pertama diluncurkan. Waktu itu aku masih di Tanjung Balai Karimun. Membaca buku cerita ini, aku jadi ingat sebuah kisah yang terjadi sekitar tahun 2000. Kisah antara Fahmi dan Nana. Keduanya nama yang disamarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Fahmi adalah teman satu grup. Saat itu usia kami sudah memasuki kisaran 24-25, jadi sudah masanya untuk memasuki jenjang pernikahan. Walimah adalah pembicaraan yang paling hangat. Dan lebih hangat lagi ketika mengetahui bahwa Fahmi sudah melakukan khitbah. Siapa akhwat yang beruntung akan mendaminginya (waktu itu) masih belum kami ketahui. &lt;em&gt;Amni&lt;/em&gt;, begitu istilah kami. Sesuatu yang belum boleh menjadi konsumsi publik. Masih dirahasiakan, karena dikhawatirkan menjadi fitnah. Yang pasti jika sudah saatnya nanti undangan akan diedarkan dan kami juga yang harus menjadi &lt;em&gt;event organizer&lt;/em&gt; acaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik persiapan Fahmi menuju saat yang paling membahagiakan, tersisas sebuah cerita yang cukup dramatis, mirip ayat-ayat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Fahmi menerima sebuah kartu pos dari Nana, sahabat lamanya waktu masih di SMP. Saat itu masih menyelesaikan program profesi sebagai dokter di sebuah universitas ternama di Jogja. Kartu pos bergambar kampus megah yang terkenal itu sangat sederhana. Dengan tulisan sederhana pula. Hanya ucapan selamat idul fitri dan ucapan salam, berikut tanda nama di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang membuat Fahmi berpikir adalah sang pengirim. Sudah lama sekali ia tidak pernah kontak lagi dengan Nana. Praktis sejak lulus SMP dulu. berarti sudah 9 tahun tidak pernah bertemu atau kontak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah bertemu sekali saat ada acara reuni SMP sekitar tahun 1996, saat itu Fahmi sudah bekerja di Batam, namun teman-teman seangkatannya hampir semuanya masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu Nana berpenampilan anggun dengan pakaian muslimah yang membungkus tubuhnya. Penampilannya tetap bersahaja seperti dulu, namun sekarang lebih terkesan intelek. Nana sahabat Fahmi dulu, sekarang sudah menjadi calon dokter. Saat itu bersama-sama teman seangkatan pergi silaturahim ke guru-guru. Saat itulah pertama kali melihat Nana setelah 5 tahun lulus dan setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Memang beberapa kali pernah kirim-kirim email dan telepon saat orangtua Nana wafat, sekedar berbela sungkawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kartupos itu, Fahmi jadi terbayang masa-masa silam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika Fahmi teringat kembali kenangan semasa SMP. Nana adalah sekretaris kelas. Tulisannya sangat bagus. Ia juga siswi yang cerdas. Ayahnyas seorang pensiunan guru agama. Kehidupan keluarganya sangat religius. Sebagai seorang anak kampung, dari keluarga miskin dan tinggal jauh di pedesaan, Fahmi sering minder saat berada di kelas. Beruntung Fahmi termasuk siswa yang pintar di kelasnya sehingga teman-temannya segan. Tidak banyak yang memberikan perhatian kepada Fahmi apalagi mau bersahabat dengannya. Hanya beberapa orang saja yang sering membantu Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah Nana. Sebagai 'orang kota' begitu yang ada dalam benak Fahmi, Nana termasuk orang yang berjiwa sosial, baik hati. Penampilannya yang supel, rajin, disiplin, pintar, dan menjadi kesayanyan semua guru. Ia masuk dalam tim cerdas cermat, pramuka, petugas upacara dan sering mewakili sekolah dalam perlombaan akademik. Pokoknya Nana adalah siswi yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan yang tidak pernah terlupakan adalah ketika mereka berdua mewakili sekolah dalam perlombaan tingkat eks-Karesidenan Pati, Olimpiade Matematika dan Bahasa Inggris. Nana masuk tim Bahasa Inggris dan Fahmi masuk tim matematika. Kebetulan keduanya meraih juara yang sama. Beberapa kali mereka dipanggil dalam acara penyerahan hadiah, dan seremonial lainnya baik di sekolah maupun dalam acara khusus. Ada rasa bangga dalam diri Fahmi. Juga senang. Itulah kenangan bersama Nana yang tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin Nana sekarang sudah "&lt;br /&gt;"Ah, kenapa aku jadi mengingatnya lagi..." batin Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini masanya sudah berbeda. Ia yang sekarang sudah menjadi seorang aktivis dengan segala keesibukannya. Ia juga telah membatasai hubungan dengan lawan jenis, sehingga tidak pernah lagi menghubungi teman-teman sekolahnya, kecuali hanya sekedar menyapa dan bertukar informasi seperlunya. Dia tidak pernah membayangkan sesuatu yang lebih dari itu. Apalagi sekarang ia sudah meng-khitbah seorang akhwat pilihannya. Sebentar lagi akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin ini ujian sebelum menikah...." batin Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun banyangan itu tidak pernah lenyap dari pikirannya. Siang, sore, malam, pikiran dan bayangan tentang Nana selalu menghiasi pikirannya. Sesekali ia tergoda dengan pikiran yang aneh-aneh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana, yang pernah ia kagumi karena kebersahajaan, kesederhaaan dan sering membantunya untuk mengurus beasiswa dan keringanan biaya sekolah. Nana yang tidak pernah menjauhinya meskipun tahu Fahmi adalah orang miskin. Nana yang selalu menganggap Fahmi sebagai saingan beratnya dalam pelajaran matematika. Nana yang pernah bersama-samanya dalam beberapa kali perlombaan. Nana ang selalu dijodoh-jodohkan dengannya oleh teamn-teman kos ketika masih sekolah di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pagi hari, Fahmi belum bisa menghapus bayangan tentang Nana. Ia mengambil kembali kartu pos itu. Ia masukkan dalam tas kerjanya lalu ia bernagkat ke kantor. Sepanjang jalan ia berpikir bagaimana caranya menghilangkan bayangan itu. Hingga tiba di meja kerjanya, ia letakkan kartu pos itu di meja. Ia berpikir untuk menggunting kartu pos itu lalu membakarnya agar ia bisa melupakan bayangan itu. Ia buka laci di abwah meja. Diambilnya sebuah buku kecil daftar alumni SMP yang ada dalam tumpukan dokumen pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi mengambil telepon di mejanya memutar sebuah nomor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum.." suara lembut seorang perempuan terdengar dari seberang.&lt;br /&gt;"Ini Fahmi ya, bagaimana kabarnya?" begitu suara wanita yang masih ia kenali dengan baik meskipun sudah lama tidak ia hubungi. Sudah bertahun-tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, aku baik saja. Terima kasih kartuposnya, bagus sekali. Aku senang menerimanya." ucapnya datar tanpa dibuat-buat.&lt;br /&gt;"Kuliahmu bagaimana? Aku dengar sebentar lagi kamu sudah meraih gelar profesi sebagai dokter. Selamat ya." lanjut Fahmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucapkan kalimat pengantar, Fahmi lalu menyampaikan tujuan utamanya. Ia ingin menyampaikan kabar serius itu kepada Nana, agar ia tahu kondisinya sekarang sekaligus emngabarkan keadaan dirinya. Fahmi juga sempat menanyakan bagaimana rencana Nana ke depan. Dengan normatif sahabat lamanya itu menjawab:&lt;br /&gt;"Ya seperti wanita pada umumnya, setelah selesai kuliah, menjalani profesi dan berharap segera membina rumah tangga. Kamu sendiri bagaimana?" begitu jawab Nana sambil menanyakan rencana Fahmi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nana, Insya Allah sebentar lagi aku menikah. Aku sudah meminang seseorang. Mungkin dalam bulan ini atau bulan depan. Nanti kalau sempat datang ya..."  begitu jawab Fahmi dengan datar. Dengan tenang ia mengabari sahabatnya itu dengan harapan itu akan mengurangi perasaan yang menghantuinya sepanjang hari kemarin. Ia ingin memastikan bahwa Nana adalah masa lalu, sekarang ia bersiap untuk memasuki hidup baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia justru menangkap reaksi lain dari seberang.&lt;br /&gt;Suasana menajdi sunyi. Keduanya terdiam di tempat masing-masing. Saat itu ada perasaan yang lain lagi dalam diri Fahmi. Ia menangkap ada sesuatu yang berbeda dengan Nana. Kenapa tiba-tiba ia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na, ... kamu masih disana?" &lt;br /&gt;masih belum ada jawaban. Tapi ia tahu Nana masih ada di seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na, kamu kenapa?... ada yang salah?" Fahmi mencoba mencari jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fahmi, kamu serius kan?" tanya Nana dari seberang ingin meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, aku serius. Insya Allah dalam bulan ini, atau paling lambat bulan depan." jawab Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh tahu dengan siapa, kok selama ini kamu tidak pernah cerita.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang harus diceritakan? Ini juga keputusan yang cepat. Sebelumnya aku merencanakan tahun depan. Tapi ada tawaran dari seorang ustadz, setelah melihat biodatanya, mempertimbangkan dan musyawarah dengan keluarga, aku menerimanya." begitu Fahmi menjelaskan proses khitbahnya yang berlangsung dengan cepat. Ia juga meneceritakan bahwa akhwat calonnya itu belum ia kenal sebelumnya. Ia hanya yakin bahwa yang bersangkutan memiliki latar belakang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seberang suara Nana hanya terdengar datar. Fahmi menangkap sebuah perasaan lain. Namun ia pura-pura tidak mengetahuinya. Ia justru berusaha meyakinkan Nana untuk bisa hadir nanti di acara yang rencananya ia laksanakan di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fahmi, kamu kok seperti seperti itu ..." tiba-tiba Fahmi dikejutkan suara yang membuatnya bingung.&lt;br /&gt;"Kenapa, Na? Apa maksudmu?" &lt;br /&gt;"Kenapa kamu tiba-tiba memberi kabar seperti itu..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi mulai menangkap maksud Nana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mengungkapkan semua yang terjadi. Fahmi menceritakan ulang beberapa kejadian yang mereka alami bersama, rencana pernikahannya sampai saat kemarin ia menerima kartupos dari Nana dan bayangan yang menyelimuti beankanya sampai ia tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fahmi, maafkan aku jika kartupos itu mengganggu pikiranmu. Aku sama sekali tidak tahu jika kamu sudah mendapatkan pilihanmu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika boleh berterus terang, sesungguhnya aku juga memendam perasaan ini sejak kita satu kelas dulu. Aku juga mengagumi dirimi sebagai seorang yang tangguh dalam kehidupan. Aku bangga denganmu, meskipun dari desa dan tergolong kurang mampu, kamu bisa berprestasi, bahkan sampai saat ini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara Nana mulai parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku berusaha untuk bertahan, dengan segala perasaan ini. Sebagai seorang wanita, tidak mungkin aku yang memulai. Aku benar-benar ingin sesuatu engkau ungkapkan dalam pertemuan kita empat tahun lalu. Atau dalam surat-suratmu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi mencoba menahan gejolak dalam hatinya. Juga airmatanya.&lt;br /&gt;Di seberang suara Nana semakin bercampur tertahan. Fahmi yakin Nana sedang menahan airmatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku selalu senang ketika mendapatkan kabar tentangmu, dari teman-teman kita. Aku juga bangga ketika kamu sudah bekerja di perusahaan ternama. Aku bangga ketika kamu bisa belajar ke luar negeri. Melanjutkan kuliah lagi. Aku senang ketika mendapat email darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan aku selalu menunggu itu semua. Aku sampai hampir menutup pintu hatiku untuk lelaki yang mendekatiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika ada orang yang datang ke rumah, mengatakan ingin meminang aku, dengan sopan dan hati-hati aku sampaikan ke keluargaku aku belum siap. Meskipun aku yakin Kak Ul tahu apa yang tersimpan di hatiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku berharap yang datang adalah kamu, Fahmi. Sejujurnya aku berharap suatu hari, akulah orang yang akan engkau pilih. " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi tidak sanggup berkata-kata. Lama keduanya terdiam.&lt;br /&gt;Namun ia tidak ingin terperangkap dalam romantika masa lalunya. Kini ia telah memilih. Mungkin ini hanya ujian untuk melihat kekuatan tekadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi telah memilih jawabannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-4874797286687645767?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/4874797286687645767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=4874797286687645767' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4874797286687645767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4874797286687645767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2008/04/mirip-ayat-ayat-cinta.html' title='Mirip Ayat-ayat Cinta'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-2193155832615908434</id><published>2008-04-07T18:50:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T19:19:19.284-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muka Kuning'/><title type='text'>Langgam Kenangan Muda</title><content type='html'>Perubahan, itulah hasil yang diharapkan dari sebuah pembinaan. Begitu &lt;em&gt;taujih&lt;/em&gt; dari pembina kami yang sering diulang pada setiap pertemuan pekanan. Dan hari ini Aa Agus kemali mengulang perkataannya yang selalu membekas dalam hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Jumat sore. Sepulang kerja, aku meluncurkan sepeda motor GL Pro kebanggaanku ke Muka Kuning, tepanya di salah satu kamar di Blok R. Disana telah menungu Heri, Aji, Tiyo, Kana, Fahri, dan ada beberapa lagi yang belum datang. Aa Agus yang tempat kerjanya tidak jauh dari kantorku juga sudah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, aku selalu menunggu hari Jumat sore. Bukan karena akhir pekan lalu aku pergi berlibur seperti karyawan di PT pada umumnya. Namun karena hari Jumat sore adalah jadwal pertemuan mingguan kami. Disinilah kami akan mendapatkan gizi yang bermanfaat untuk spiritual kami. Aa Agus dengan begitu sabar memberikan wejangan sekaligus membimbing kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah menjadi seperti saudara. Kami telah melalui banyak hal dengan kebersamaan ini. Makan, minum, tidur, olahraga, wisata, melihat konser nasyid, kerja bakti sampai demo. Semua kami lakukan bersama-sama. Kami juga sering mengingatkan satu sama lain. Mengingatkan waktu sholat, saling membangunkan untuk tahajud, saling menyetorkan hafalan, tukar menukar buku, diskusi bersama, bedah buku dan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang kami rasakan adalah perubahan yang ada dalam diri kami. Dulu kami adalah remaja yang hamir tidak punya pegangan hidup. Kesana kemari terombang-ambing roda pergaulan lingkungan industri di kawasan Muka Kuning ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kami tidak memiliki harapan dan cita-cita yang pasti. Hanya menjalani hidup begitu saja, bekerja, pulang, istirahat, bergaul dengan lingkungan sekitar sesama pekerja. Namanya pekerja yang semuanya berusia muda, pergaulannya ya ada yang baik dan ada yang tidak baik. Ada yang sesuai norma agama ada juga yang melanggar syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah umum dalam pandangan orang di Muka Kuning ini, pergaulan laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang biasa. Orang-ornag muda yang berudaan, pacaran, berboncenan sepeda, duduk berdua di bawah pohon atau di taman seribu janji, adalah pemandangan yang biasa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi kami itu adalah masa lalu. Sekarang hati kami telah terpatri dalam satu janji, untuk mencintai hanya kepada Yang Maha Pencipta. Hati kami telah terpaku dalam satu prinsip, mencintai dan dicintai dalam satu sarana suci, pernikahan. &lt;br /&gt;Dan kami yakin masa itu akan datang jika saatnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jadi ingat sebuah nasyid dari grup Suara Persaudaraan, ang berjudul &lt;em&gt;Langgam Kenangan Muda&lt;/em&gt; syairnya sangat menyentuh hati kami. Dan nasyid ini juga yang telah memberikan sebuah penyadaran bagi kami tentang hakikat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Duhai kawan aku punya cerita&lt;br /&gt;Kisah tentang dua anak manusia&lt;br /&gt;Yang terhunjam sebatang panah asmara&lt;br /&gt;Kemudian mendapat hidayah Robb-nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kini harus memilih&lt;br /&gt;Antara sahabat dan Robb-nya terkasih&lt;br /&gt;Sahabat lama pun kini ditinggalkan&lt;br /&gt;Cinta suci hanyalah milik Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh segere banyune ing sendang&lt;br /&gt;Ilang susahe wis mari rak mriyang&lt;br /&gt;Banyune bening nyenyeger ati&lt;br /&gt;Mugerak lali ning Allah kang suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, Allah, Allah ghoyyatuna&lt;br /&gt;Muhammad qudwatuna&lt;br /&gt;Al-Quran dusturuna&lt;br /&gt;Jihad, jihad, jihad sabiluna&lt;br /&gt;Al-Mautu Fisabilillah atsma 'amalina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, Allah, tujuan hidup kami&lt;br /&gt;Muhammad tauladan kami&lt;br /&gt;Al-Quran penuntun kami&lt;br /&gt;Jihad, jihad, jihad jalan kami&lt;br /&gt;Syahid di jalan Allah cita kami tertinggi &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku jadi rindu suasana itu. Aa Agus, Heri, Tiyo, Kana... Blok R, Muka Kuning.. jejak langkah menuju sebuah perubahan. Jumat sore yang tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;muka kuning, 1998, dimanakah kalian sekarang, saudaraku?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-2193155832615908434?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/2193155832615908434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=2193155832615908434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/2193155832615908434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/2193155832615908434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2008/04/langgam-kenangan-muda.html' title='Langgam Kenangan Muda'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-3527315686235047428</id><published>2007-10-08T19:38:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T20:33:02.452-07:00</updated><title type='text'>Surat Kepada Hang Nadim</title><content type='html'>Aku menemukan buku lama yang tersimpan di salah satu sudut lemari buku ini. Sebuah buku kumpulan puisi berjudul "&lt;strong&gt;Hikayat Perjalanan Lumpur&lt;/strong&gt;" karya seorang penyair Melayu, Syaukani Al Karim. Aku tersentak kembali membaca sebuah judul puisi tentang Kota Batam, &lt;em&gt;Surat Kepada Hang Nadim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Kucoba mencari rinduku d Batam, namun kakiku terus saja memijak genangan air mata.&lt;br /&gt;Di jalanan, di gedung-gedung, di hotel-hotel berbintang, d plaza-plaza: wajag asing bersendau gurau, menukar mimpi dengan kesenangan, sementara anak negeri yang lusuh merenungi nasib di rumah kumuh, merenda kepahitan dengan corak bunga-bunga.&lt;br /&gt;"Ini negeri tak bertuan. Tolong bayar dengan dollar," seorang pelacur berteriak dalam hingar-bingar lampu diskotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggiran, anak-anak berbaris menjunjung dulang, menjajakan mimpi ke setiap wajah.&lt;br /&gt;"Hang Nadim sedang menangis dan kami menjual air matanya. Belilah, tuan, agar kami mendapat tempat di negeri kami yang asing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di batam, tawa tidak akan diam karena tangis, kemanusiaan ringkih, keadilan hanya mendaki bukit-bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di batam, angin dari jauh menghabiskan semua yang tersisa dari senyum, semua yang tersisa dari tawa, semua yang tersisa untuk kebahagiaan.&lt;br /&gt;"Maaf, aku tak sempat jatuh cinta," ucap seorang kuli sambil mengelap peluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini negerimu, nak. Sayangilah."&lt;br /&gt;Namun sejarah telah mewariskan tangis, masa depan mengurai derita, kekalahan mendalamkan tikam, dan air mata rindu itu terus jatuh: menjelma menjadi jalan-jalan, gedung-gedung, hotel-hotel berbintang, plaza-plaza, diskotik-diskotik, juga menjadi gelombang di lautan nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di batam, aku kehilangan negeri.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, pertama kali membaca puisi ini, sekitar tahun 1999, aku merasa memang apa yang disampaikan Syakani dalam puisinya ini banyak benarnya. Tapi aku yakin sekarang sudah banyak perubahan. Apalagi ketika Batam berusaha dengan sekuat tenaga mengubah citranya yang sebelumnya "hanya" digambarkan oleh sebagian kalangan dengan kehidupan gedung-gedung, jalan-jalan, pabrik, hotel, diskotik sekarang sudah sangat jauh berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, Bandar Dunia yang Madani. Itulah slogan yang dimiliki kota kepulauan ini. Dan ternyata itu bukan hanya sekedar slogan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2005, pemberantasan kegiatan maksiat marak dilakukan oleh para petugas kepolisian dan pemerintah daerah. Penutupan lokalisasi, pemberantasan judi dan  penertiban perumahan liar telah banyak merubah wajah kota ini. Seiring dengan itu pembangunan fasilitas ibadah, kegiatan keagamaan dan pertumbuhan sekolah-sekolah religius yang spektakuler. Untuk ukuran kota seperti Batam, jumlah pesantren yang ada tergolong menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, pada suatu kesempatan pengajian Manajemen Qolbu, di Masjid Nurul Islam, sekitar tahun 1999, Aa Gym pernah berkata "Jadikanlah Batam sebagai kota pesantren, pesantren kehidupan."&lt;br /&gt;Dan saat ini aku benar-benar melihat, begitu maraknya kegiatan keagamaan. Kawasan industri Muka Kuning layaknya lautan jilbab setiap harinya, para pekerja yang hilir mudik dengan busana yang menyejukkan hati. Masjid-masjid yang hampir tidak pernah senggang dengan aktivitasnya, jamaahnya selalu penuh, dan yang menakjubkan, kita akan temukan di Batam, hampir semua masjid diaktifkan oleh para anak muda, sesuatu yang membanggakan. Setiap tahun, Masjid Raya Batam menyelenggarakan Ramadhan Fair, Itikaf 10 hari terakhir juga selalu ramai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga menemukan, banyak sekali teman-teman, sahabat, kenalan, yang menemukan 'hidayah' kembali ketika di Batam. Ada yang dulu di kampung halaman belum bisa mengaji, tiba di Batam bisa mengaji dengan baik, bahkan sekarang sudah menjadi Ustadz dengan hafalan Quran yang menakjubkan, pemahaman agama yang juga mengesankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terhitung Ibu-ibu muda yang sekarang menjadi penggerak majelis taklim, organisasi keislaman da lainnya, yang dulu ketika baru menginjakkan kaki di Batam belum mengenal benar tentang Islam, kemudian mereka belajar, mengkaji ilmu agaman, mondok di pesantren dan sekarang menjadi ustadzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, yang beberapa tahun sebelumnya pernah mendapat julukan Kota Terkotor di Indonesia, tahun kemarin mendapat Piala Adipura sebagai Kota Terbersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang belum seideal yang dibayangkan. Tapi aku yakin Batam akan menjadi kota harapan. Aku membayangkan, suatu saat nanti, kota Batam akan menjadi Andalusia-nya Indonesia. Pusat peradaban, pusat kebudayaan, pusat kemajuan teknologi, dan pusat berkembangnya ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku yakin, jika Hang Nadim bisa melihat semuanya, dia nanti akan bangga. "Batam, telah melampaui apa yang pernah aku bayangkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kepada Akh Ria Saptarika, Bapak Wakil Walikota Batam, semoga dalam kepemimpinan seorang Dai, Batam benar-benar akan menjadi Bandar Dunia yang Madani, Insya Allah.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-3527315686235047428?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/3527315686235047428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=3527315686235047428' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/3527315686235047428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/3527315686235047428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/10/surat-kepada-hang-nadim.html' title='Surat Kepada Hang Nadim'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-2836470232024572638</id><published>2007-09-26T18:02:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T20:11:07.771-07:00</updated><title type='text'>Aa, Kok Tidur di Luar?</title><content type='html'>Beruntung aku dikaruniai seorang suami yang baik seperti dia. Sekarang sudah 7 tahun lebih berumah tangga hampir tak pernah sekalipun ia menyakitiku secara fisik. Ia orang yang paling sabar yang pernah kukenal. Jika ia marah atau tidak suka dengan sesuatu, ia hanya mensikapinya dengan diam. Sejak pertama kami menikah begitulah cara pelampiasan kemarahan yang ia katakan padaku sewaktu hari pertama pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menikah ketika sama-sama bekerja di Batam. Aku bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Batamindo, Muka Kuning, sebagai senior operator. Dan dia bekerja di sebuah perusahaan asing juga, di kawasan Sekupang. Kami menikah tanpa pacaran sebelumnya, bahkan boleh dibilang kami tidak saling mengenal sebelum menikah. Ya memang hampir semua teman-temanku juga menikah dengan cara yang sama sepertiku. Jadi hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu usiaku sudah hampir 25 tahun, usia yang krusial bagi seornag gadis sepertiku. Apalagi keluargaku di Jawa Barat sudah beberapa kali menanyakan kapan aku menikah. Hampir semua orang menanyakan hal itu saat aku pulang kampung atau menelpon menanyakan kabar mereka. Akhirnya ketika ada seorang ibi muda yang aku kenal baik menawarkan proposal seorang lelaki yang ingin menikah langsung saja aku terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tidak ada sesuatu yang aku pertimbangkan saat itu, siapapun dia asal dia lelaki yang Muslim, shalih dan taat akan aku terima. Tentang hal lain urusan nanti, pikirku. Akhirnya setelah aku baca biodatanya aku menyatakan bersedia dengan syarat dipertemukan dulu untuk &lt;em&gt;taáruf&lt;/em&gt; dengannya. Setelah bertemu dengannya aku semakin yakin dan dengan mantap menerima pinangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya berlangsung dengan cepat ketika dua minggu kemudian dia datang ke orangtuaku untuk &lt;em&gt;khitbah&lt;/em&gt;, sebulan kemudian kami menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, kami tinggal di rumahnya, lebih tepat asrama yang disediakan perusahaan, di kawasan elit Perumahan Green Court. Kehidupan kami jalani dengan penuh kebahagiaan. Meskipun suamiku adalah orang yang sibuk, namun ia selalu memperhatikan kebutuhanku sebagai istrinya. Ia sering membawakan oleh-oleh untukku. Memang hal yang sederhana, dan mungkin bagi orang lain tidak terlalu istimewa, namun bagiku adalah sesuatu yang menyenangkan ketika suamiku pulang membawa pisang goreng, kadang bawa mie ayam, martabak atau beberapa buah apel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bekerja di kantor, suamiku punya pekerjaan sampingan menjual buku-buku, kaset dan minyak wangi. Dia juga aktif di beberapa organisasi sosial, remaja masjid, yayasan dan Ikatan Dai Muda Kota Batam. Sebagai seorang pendakwah, ia sering diundang mengisi ceramah di masjid, sekolah atau di majelis taklim PT. Dan karena aktifitasnya itulah ia sering pulang malam. Bahkan kadang jika kegiatannya harus bermalam di tempat lain aku harus rela untuk di rumah sendiri. Biasanya aku mengajak teman-teman yang dulu se-dormitori denganku untuk menginap di rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memanggilnya Aa. Meskipun dia bukan orang Sunda sepertiku tapi aku lebih senang memanggilnya demikian. Dia juga senang dipanggil demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa termasuk orang yang romantis. Sangat mengerti perasaan wanita seperti aku yang menjadi istrinya. Pernah suatu kali pulang dari tugas luar kota ia memberikan aku serangkai bunga yang ia beli di kota tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat ketika ia pergi ke Jakarta untuk &lt;em&gt;training&lt;/em&gt; selama seminggu, aku dikagetkan oleh seorang petugas pengantar &lt;em&gt;delivery order&lt;/em&gt; dari sebuah restoran siap saji yang ada di kawasan Nagoya yang datang datang ke rumah mengantarkan sebuah paket makanan ayam goreng. Katanya ada kiriman dari Jakarta. Ternyata suamiku mengirim paket makanan ayam goreng itu melalui internet dan restoran capat saji yang sudah online itu mengirim melalui cabangnya yang ada di Nagoya. Di luar paket tersebut ada sebuah kertas dengan pesan singkat "&lt;em&gt;Selamat Makan Siang, Aa Kangen sama Ade' -- dari XXXX tertulis jelas nama suamiku disana&lt;/em&gt;." Aku sangat senang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga sering menuliskan surat cinta untukku. Terutama sebelum ia pergi untuk beberapa hari lamanya, baik urusan pekerjaannya maupun urusan tugasnya sebagai seorang dai. Sebelum berangkat biasanya ia meninggalkan dua buah surat. Yang satu surat untuk aku baca setelah ia berangkat dan satu surat lagi pesannya untuk dibaca kalau dia tidak pulang selamanya. Ah.. Aa memang sering membuatku berdebar. Tapi katanya itu adalah sunah Nabi, meninggalkan wasiat sebelum bepergian. Dan entah kenapa itu lebih membuatku merasa tenang ketika ia meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya, selain ungkapan cinta dan sayang, ia selalu berpesan agar aku selalu menjaga sholat, rutin membaca Al Quran, berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang shalih dan menjaga rumah beserta isinya. Satu surat lagi menurutnya adalah daftar hutang piutang yang ia miliki, tapi aku belum pernah membukanya karena Alhamdulillah ia selalu pulang, hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa juga orang yang tidak banyak mengeluh dengan keadannya, termasuk juga keadaanku. Ia tidak pernah marah kalau sampai di rumah ternyata tidak ada makanan yang sesuai seleranya. Ia selalu menikmati apapun makanan yang aku sediakan. Dan ia juga selalu mengatakan bahwa makananku enak, padahal aku sendiri yang memasak kadang merasa kalau masakanku kurang lezat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Aa termasuk orang yang berakhlak baik kepada istrinya. Katanya ia ingin mencontoh Rasul, yang selalu berakhlak baik kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari, ia pulang agak larut malam. Aku yang menunggunya sampai tertidur. Karena sudah mengantuk berat aku pindah ke kamar yang letaknya di belakang. Biasanya kalau Aa tidak pulang atau terlambat pulang ia menelepon dulu. Tapi entah kenapa malam itu ia tidak menelpon. Aku sudah tidak dapat menahan rasa kantuk sehingga aku terlelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kagetku muncul ketika terbangun, aku tidak mendapatkan suamiku di sisiku. Wah, Aa belum pulang, pikirku. Jam menunjukkan pukul 03.00 Wib. Lampu di ruang tamu masih menyala, aku coba menyibakkan tirai jendela. Loh motornya sudah di rumah. Berarti Aa sudah pulang. Aku coba buka tirai lebih lebar dan menyebar pandangan ke beberapa sudut rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg. Pandanganku seakan tak percaya melihat sesosok tubuh yang kukenal tidur di depan pintu samping dekat dapur. Dengan beralaskan kain spanduk yang biasa tersimpan di gudang samping rumah, dan sebuah sarung yang menyelimutinya. Aku merasa bersalah melihat kondisi suamiku. Segera aku buka pintu samping dan aku bangunkan Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aa kok kenapa tidur di luar? Kenapa tidak bangunkan Ade?... Aa.... Ade minta maaf..." aku memeluknya dan airmataku mengalir pelan karena penyesalanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Aa terlihat tenang saja. Ia mencium pipiku dan keningku sambil tersenyum dan menyeka air mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru Aa yang minta maaf, karena pulang terlambat tanpa &lt;em&gt;ngasih&lt;/em&gt; tahu Ade..." jawab Aa sambil melipat kain spanduk dan masuk ke rumah. Aku mengunci kembali pintunya. Lalu aku mengambilkan minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan Aa kedinginan di luar.. tuh banyak bekas gigitan nyamuk.. Kenapa Aa tidak telepon atau ketuk pintunya sampai Ade bangun? " lanjutku dengan mimik menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah dulu kalau pulang terlambat, mengetuk pintu 3 kali tidak dibukakan, beliau tidur di luar... Sebenarnya Aa sudha ketuk pintunya juga beberapa kali, tapi mungkin Ade kecapaian jadi Aa putuskan tidur disana saja. HP-nya sedang mati, baterieinya habis. Lagian kan ada kain spanduk banyak, bisa dijadikan alas." jawab suamiku dengan kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah yuk kita wudhu, masaih ada waktu, kita sholat lail berjamaah. Aa nggak apa-apa kok. Aa tidak marah sama sekali. Justru Aa bersyukur bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan Rasul." lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami pun mendirikan sholat. Ia membaca surat An Naba pada rakaat pertama, dilanjutkan beberapa ayat surat Al Baqarah pada rakaat kedua. Aku tidak sanggup menahan haru atas semua kejadian yang aku lalui bersamanya. Sungguh, Allah telah memberikan kepadaku anugerah terindah dengan diberikan suami seperti Aa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian hari itu, beberapa kali Aa tidur lagi di luar. Dua bulan setelah itu pernah terjadi hal yang hampir sama, waktu itu Aa lupa bawa kunci yang telah digandakan. Dan terulang lagi beberapa kali pada bulan-bulan berikutnya. Jika aku terbangun tengah malam dan tidak mendapatinya disisiku padahal ia tidak pamit untuk menginap, sudah hampir pasti ia tidur di luar seperti malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Aa... sekarang sudah ada 4 orang buah hati anugerah ilahi yang menerangi dan meramaikan rumah tangga kita. Engkau masih saja seperti yang dulu. Sekarang sholat malam kita tidak hanya berdua, ada di sulung yang rajin ikut serta dan si Mbak yang juga tidak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kami sudah tidak di Batam lagi, namun kota Pulau itu telah menanamkan banyak kenangan bagiku. Benar kata orang yang sama-sama pernah merantau di Batam. Kota Batam, Kota Cinta, Kota Kenangan. ()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk Aa : Maaf ya Ade ceritakan ini, Ade kangen saat-saat indah bersama Aa...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-2836470232024572638?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/2836470232024572638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=2836470232024572638' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/2836470232024572638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/2836470232024572638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/aa-kok-tidur-di-luar.html' title='Aa, Kok Tidur di Luar?'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-5010063632644284481</id><published>2007-09-25T20:51:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T00:19:30.094-07:00</updated><title type='text'>Episode di Pondok Cinta</title><content type='html'>Ini kisah dari seorang teman yang tinggal di dormitory Blok P. Namanya Fatiya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tinggal di dormitory untuk para operator. Salah satu lantai di Blok P, Batamindo, Muka Kuning. Seperti dorm pada umumnya, kami tinggal dalam jumlah yang banyak. Ada 12 orang yang menjadi penghuni rumah tinggal kami ini. Masih lumayan dibanding dormitori lain yang kadang sampai berpenghuni 16 orang. Jangan bandingkan dengan dorm para leader atau teknisi yang cuma dihuni 4 orang. Malah ada yang cuma 2 orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga dormitori, kami tidak bisa memilih tempat tinggal yang orang Indonesia pada umumnya menyebut asrama ini. Kami hanya tinggal menempati saja, karena sudah ditentukan oleh perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyebut tempat tinggal kami sebagai pondok cinta. Nggak tahu bagaimana awalnya, yang jelas kami selalu berusaha menyayangi satu sama lain. Meskipun kami berasal dari daerah yang berbeda, juga rentang usia yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling senior, kami memanggilnya Teh Fitni. Dia sudah lebih dari 5 tahun bekerja di perusahaan elektronik yang paling favorit ini. Tapi sampai sekarang masih menjadi operator. Kami menganggap Teh Fitni sebagai orangtua bagi kami, karena disamping usianya yang memang sudah tergolong dewasa, menjelang 30 tahun, mojang Bandung yang cantik ini juga memiliki sifat keibuan, mengayomi dan sangat baik hati. Bahkan ada yang memanggilnya Mami, karena di rumah ini dialah yang lebih banyak mengurus kami. Entah kenapa para lelaki tidak segera melamar Teh Fitni, sehingga sampai seusia yang lebih dari cukup itu ia masih berstatus gadis. Padahal wajahnya lumayan cantik, katanya kalau orang Sunda memang wajah standarnya ya lebih cantik dari paras biasanya. Ia juga dewasa, pintar, baik hati, dan mudah bergaul dengan siapapun, kecuali dengan lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Fitni memang sangat tertutup dengan lawan jenis. Dia memakai kerudung lebar, hampir sampai menutup seluruh tangannya. Dia aktif di beberapa kegiatan, terutama Majelis Taklim perusahaan dan Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI). Kadang-kadang memang ada tamu lelaki yang mencarinya, tapi paling cuma berbicara masalah kegiatan, mengantar buku, undangan rapat, dan sejenisnya, itupun mereka hanya berbicara sebentar. Teh Fitni malah kadang hanya menerima tamunya dari balik pintu. Kalaupun menemui tamu lelakinya di luar pintu, dia hanya berbicara sambil menunduk. Entahlah, Teh Fitni seperti orang aneh, sama sekali tidak pernah bercerita tentang lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebagian besar diantara kami sudah punya pacar. Dewi yang baru datang dari Semarang, rekrutan tahun lalu, sekarang sudah punya pacar, seorang teknisi. Beberapa orang diantara kami bahkan sering dikunjungi pacarnya pada hari-hari libur kerja. Tapi kami sudah menyepakati peraturan jam kunjungan ke dormitori kami, tata tertib berkunjung dan lainnya, berdasarkan saran dari Teh Fitni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Fitni orang yang rajin menolong. Dia juga teman curhat yang baik. Meskipun dia mengaku tidak punya pacar dan tidak punya pengalaman pacaran, kami tetap saja menjadiannya sebagai teman curhat. Dia selalu memberikan pandangan-pandangan yang sangat baik, dengan kedewasaan berpikir dan selalu saja dia menyangkutkan dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana ajaran yang kami pegang. Enaknya, Teh Fitni tidak pernah menghakimi kami. Dia tidak pernah berkata dengan keras atau melarang kami pacaran. Dia hanya mengingatkan batas-batasnya, selalu mengingatkan waktu sholat dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga sering membelikan kami oleh-oleh. Sepulang dari kegiatan di masjid, ia kerap membawa pulang gorengan, atau makanan kecil lainnya. Apalagi kalau habis mengikuti acara di luar Muka Kuning, ia selalu membawa oleh-oleh. Meskipun sederhana, kami senang mendapat perhatiannya. Waktu pulang ke Bandung, Teh Fitni membawakan kami masing-masing diberi souvenir yang cantik-cantik. Ada uang mendapat tas kecil, dompet, gantungan, hiasan dinding, bahkan ada yang dibawakan kaos lengan panjang. Kami selalu dibuat senang olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Shinta, salah satu penghuni kamar ini yang aslinya dari Pekanbaru, mengalami musibah, orangtuanya meninggal dunia. Teh Fitni yang meneghiburnya bahkan menemaninya pulang kampung. Teh Fitni juga yang mengumpulkan bantuan dari teman-teman PT sampai teman-temannya di RMNI. Saat tiba-tiba Komala, yang juga asli dari Bandung tiba-tiba sakit dan harus dirawat di Harapan Bunda, Teh Fitni bahkan rela mengambil cuti untuk menjaga Komala di RS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasan Teh Fitni adalah selalu mengingatkan kami untuk menjada kebersihan dormitori. Katanya kebersihan sebagian dari iman, dan ciri wanita yang shalihah. Harus diakui, meskipun kami semua sama-sama wanita, tidak semuanya tertib dalam menjaga kebersihan. Ada yang sering meletakkan barang pribadinya begitu saja. Pulang kerja, karena capek, apalagi kalau shift second, wah terasa sekali capeknya. Jam 11 malam masuk rumah seperti tinggan separuh tenaga. Biasanya teman-teman suka meletakkan barang begitu saja, sepatu dicampakkan sembarangan, uniform disampirkan ke kursi, pintu, pinggiran tempat tidur, dll. Handuk juga sering mampir di semua tempat. Dan saat seperti itu biasanya Teh Fitni yang merapikannya. Tiba-tiba saja pagi hari kami dapatkan, handuk sudah tertata rapi di jemuran. Sepatu sudah tertata rapi, baju-baju kami juga terlipat atau digantung rapi di dekat lemari masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari aku pulang kegiatan agak terlambat. Oh iya, aku berbeda dengan Teh Fitni. Aku lebih senang berpenampilan simple. Rambut potong agak pendek, pakaian juga yang simple, celana jeans, t-shirt lengan pendek dan selalu membawa tas gantungan. Aku ikut kegiatan Karang Taruna dan Argapala, kelompok pecinta alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang ke dormitori sore itu aku teringat bahwa aku masih punya cucian yang belum selesai. Aku termasuk orang yang agak malas mencuci. Kemarin sebelum berangkat acara kemah aku sempat merendam pakaianku dalam 2 ember. Satu ember besar untuk berbagai jenis pakaianku seminggu dan satu ember kecil berisi unform agar tidak terkena noda luntur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah aku celingukan kesana-kemari karena tidak mendapatkan ember-emberku. Wah gawat, pikirku. Bajuku dimana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Teh Fitni menjulurkan wajahnya dari balik sekat yang membatasi dapur dengan kamar mandi. "Fatiya, ya.... Maaf dhek, bajunya Teteh cuciin, mungkin sekarang udah kering, itu dijemuran.." teriak Teh Fitni enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar ucapan Teteh kami ini. Kok bisa-bisanya mencucikan bajuku yang seabrek gitu. Saat aku mendekat mau meminta penjelasan, Teh Fitni sudah menimpali kembali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soalnya Teteh kasihan sama Tiya, nanti kalau pulangnya sora, bajunya belum dicuci, takut nggak dapat panas lagi. Kan uniformnya besok dipakai kerja, masuk pagi kan? Kebetulan Teteh juga sedang senggang, ya sudah Teteh cuci saja... nggak apa-apa kan?" lanjut Teh Fitni yang membuatku semakin merasa tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku mengucapkan terima kasih karena masih bingung seakan tidak percaya, si Teteh sudah mengemasi maskannya, sudah pamitan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi Teteh sudah goreng ikan sama tempe, ada sayur asam di meja dan di kulkas masih ada kue kecil. Nanti buat makan malam Tiya sama Komala ya. Yang lainnya tadi sudah makan, yang masuk malam biasanya sudah siap-siap makan malamnya. Teteh mau ada acara di Nuris (Masjid Nurul Islamm-pen) mungkin pulang agak malam. Dah ya Tiya, istirahat aja, kan capek habis camping. Wassalamuálaikum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja si Teteh mencium pipiki kanan dan kiri lalu berlalu keluar kamar. Hanya kibasan jilbab panjangnya yang aku rasakan. Aku hampir tidak percaya dengan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Fitni, ah... air mata ini tiba-tiba saja tidak terbendung. Begitu baiknya dirimu kepada kami yang engkau anggap sebagai adik-adikmu sendiri. Masih ada orang sebaik dirimu Teh... Engkau bukan hanya seorang bidadari di rumah ini, engkau adalah bidadari kehidupan kami. Cantik wajahmu, cantik juga hatimu.()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;buat alumni Blok P # sekian # sekian # sekian, kapan ya kita bisa bertemu lagi...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-5010063632644284481?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/5010063632644284481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=5010063632644284481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5010063632644284481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5010063632644284481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/episode-di-pondok-cinta.html' title='Episode di Pondok Cinta'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-8615137173974374947</id><published>2007-09-24T19:24:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T20:49:15.438-07:00</updated><title type='text'>Hilangnya Sebuah Mobil</title><content type='html'>Tidak mudah mempercayai seseorang, dan tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya, apalagi di kota seperti Batam ini, yang merupakan tempat berlabuhnya berbagai macam tipe manusia dan dari berbagai daerah, dengan karakter dan sifat yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itulah yang dialami Suwarto. Ayah seorang anak itu sama sekali tidak menaruh sedikitpun curiga kepada Irfan, teman yang sudah dianggap adiknya itu. Bagaimana tidak. Irfan adalah remaja yang ia didik untuk bekerja di bengkel mobil tempat ia bekerja. Selama bersamanya Irfan belum pernah sekalipun menunjukkan ciri bahwa ia akan mendustainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Suwarto mengenal Irfan ketika seorang temannya datang ke bengkelnya untuk menanyakan apakah bisa menerima anak PKL di bengkelnya tersebut. Memang bengkel miliki Suwarto cukup dikenal dan sering dijadikan tempat praktek oleh siswa STM bahkan mahasiswa. Di samping karena manajemen bengkelnya bagus, pengelolaannya yang profesional, menangani berbagai merek kendaraan, dikerjakan oleh teknisi yang sudah ahli dan sudah mendapatkan sertifikasi untuk bengkel standard nasional. Dan Suwarto adalah salah seorang teknisi senior di bengkel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah sering menangani siswa PKL, dan lagipun ia kenal baik dengan temannya itu, maka Suwarto pun mendaftarkan Irfan untuk PKL di bengkel itu selama 3 bulan. Selama waktu itu Irfan boleh membantu pekerjaan bengkel dan hanya mendapat fasilitas makan siang. Dan sejak saat itu pula Irfan sudah langsung diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari berikutnya Irfan menunjukkan sikap sebagai pelajar yang baik. Ia selalu membantu Suwarto dalam melakukan pekerjaannya. Mengambilkan &lt;em&gt;toolset&lt;/em&gt;, membersihkan onderdil, mengganti oli dan pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Suwarto juga tanpa segan-segan memberikan penjelasan yang dibutuhkan oleh Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, mereka semakin dekat dan akrab. Irfan sering bermain ke rumah Suwarto, dan Suwarto juga sering memberikan bantuan kepada Irfan. Kadang-kadang Suwarto mengajaknya makan siang bersama di rumah, kadang mentraktirnya makan di luar. Irfan juga banyak belajar tentang agama kepada Suwarto. Kebetulan Suwarto termasuk orang yang taat dan memiliki wawasan yang luas. Meskipun kerja di bengkel, Suwarto selalu mengikuti perkembangan politik, situasi sekitar pada umumnya. Suwarto juga termasuk orang yang gemar membaca, terbukti di rumahnya banyak buku-buku bacaan dari berbagai jenis ilmu, mulai buku-buku Islam, buku politik, buku tentang mesin otomotif, karya sastra dan beberapa jenis majalah yang tersusun rapi berdasarkan periode terbitnya. Terlihat bahwa Suwarto memang memiliki kegemaran membaca yang cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, mereka berdua semakin akrab hingga waktu PKL berakhir. Irfan akhirnya pulang kampung di daerah bagian barat Sumatera. Ia harus melanjutkan sekolah, membuat laporan dan meneruskan hingga lulus. Katanya setelah lulus ia ingin kembali ke Batam lagi dan mencoba mengadu nasib di kota ini. Suwarto tidak lupa berpesan, menitip salam untuk keluarganya, guru pembimbing di sekolah dan mengimgatkan untuk sering-seirng menghubunginya, apalagi jika nanti sudah lulus dan datang ke Batam lagi, Irfan disuruhnya mampir ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih setahun kemudian, Suwarto hampir tidak pernah mendengar kabar Irfan, hanya beberapa kali setelah selesai PKL Irfan menghubunginya untuk konsultasi pembuatan laporan dan mengirimkan laporan PKL-nya melalui pos untuk ia tandatangani, setelah itu ia tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga suatu hari ia dikagetkan oleh kedatangan Irfan di rumahnya. Penampilan Ifran sudah berubah. Ia berpenampilan seperi seorang aktifis. Celananya dipotong di atas lutut dan mengenakan kopiah haji. Ia juga mengenakan baju koko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Datang ke Batam kok nggak bilang-bilang, kapan sampainya?" Tanya Suwarto ketika Irfan sudah ia persilakan duduk di ruang tamunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Pak To, Fan sebenarnya sudah satu bulan disini, tapi menghubungi Pak To malu, takut merepotkan. Sekarang Fan sudah punya pekerjaan." jelas Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, iya? Kerja dimana" sambung Suwarto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Usaha kecil-kecilan, berdagang. Tapi sekarang sedang ada peluang bagus. Fan mau membuat kue, pasarnya sudah ada. Tapi Fan modalnya belum cukup. Makanya Fan datang kesini, mau minta tolong Bapak. Fan perlu tambahan modal.. " jawab Irfan tanpa segan-segan langsung mengungkapkan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa kira-kira perlu modalnya, kalau banyak ya aku nggak punya. Tahu sendiri kan bagaimana keuanganku." jawab Suwarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak banyak kok Pak, cuma 500 ribu saja, untuk tambahan beli tepung dan gula. Peralatannya sudah ada." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melajutkan pembicaraan seperlunya, akhirnya mereka berpisah. Suwarto memberikan uang yang diminta bekas anak didiknya itu. Irfan berjanji akan mengembalikan bulan depan jika kuenya sudah laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian Irfan datang lagi, tapi tidak untuk membayar hutangnya yang 500 ribu itu. Dia malah menceritakan omset kuenya yang sudah bertambah banyak. Pelanggannya juga bertambah setiap hari. Dalam waktu sebulan ia sudah bisa mengirim 1500 paket kue ke warung-warung dan toko di Batu Aji dan sekitarnya. Bahkan sudah ada beberapa toko di Simpang Dam, Perumahan Genta dan Sekupang. 2 minggu terakhir ia harus menyewa mobil untuk mengantarkan pesanan ke pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Irfan datang ke rumah Suwarto lagi untuk meminta maaf kalo pinjamannya akan ia pakai untuk diputar lagi, bahkan ia menawarkan kalau mau ikut investasi Suwarto bisa menambahkan modal dan nanti akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungannya. Irfan juga merayu Suwarto untuk menyewa mobilnya saja, agar uang sewanya untuk Pak Suwarto saja, tidak usah menyewa ke orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tujuan untuk membantu teman karibnya itu, akhirnya Suwarto merelakan mobilnya dibawa Irfan. Ia dijanjikan akan diberikan uang sewa 1,5 juta per bulan, sebagaimana wajarnya harga sewa mobil. Tapi Suwarto tidak menyanggupi permintaan tambahan modal dari Irfan karena memang ia tidak memilikinya. Ia hanya  pesan kalau sudah ada, uangnya dikembalikan sejumlah yang ia pinjam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berikutnya Irfan datang lagi. Kali ini Irfan semakin terlihat cerah. Usahanya boleh dibilang sangat berhasil. Dan kali ini ia ingin melakukan negosiasi dengan Suwarto tentang mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah Fan pikir, daripada Fan menyewa terus ke Bapak, bagaiman kalau mobil Bapak Fan beli saja. Harganya berapa terserah Bapak, tapi Fan membayarnya mengangsur sesuai dengan harga sewa mobil ini, yaitu 1,5 juta sebulan." jelas Irfan kepada pembimbing PKL-nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Suwarto tidak bisa menolak permintaan orang yang ia anggap sebagai adiknya itu. Ia menyetujui menjual mobilnya kepada Irfan dengan harga 20 juta, dengan rincian uang muka sebesar 2 juta, selanjutnya angsuran 1,5 juta per bulan selama setahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian membuat surat perjanjian jual beli yang ditandatangi di atas materai. Mereka juga mengajak 2 orang yang mereka kenal untuk menjadi saksi. Jual beli telah sah, namun Ifran berjanji akan membayar uang mukanya besok pagi, paling lambat 2 hari, sekaligus membayar pinjaman yang 500 ribu dan cicilan bulan pertama. Berarti, besok ia akan membawa uang 4 juta untuk Suwarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang dijanjikan tiba, tapi Irfan tidak kunjung datang. Suwarto berbaik sangka mungkin ia sibuk. Ia tunggu hari berikutnya. Namun Irfan tidak kunjung datang juga. Suwarto masih menunggu kabar dari Irfan. Hari berikutnya sama juga. Suwarto coba menghubungi nomor telepon Irfan, tapi tidak bisa dihubungi. Nomor handphone yang diberikan juga selalu tidak aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Ternyata Ifran tidak pernah datang lagi ke rumah Suwarto, bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Suwarto coba cari informasi ke teman-temannya. Beberapa kali ia cari alamat yang pernah ditinggali Irfan. Ia juga datang ke rumah yang ditunjukkan Irfan sebagai lokasi pembuatan kuenya, tapi tidak ada siapapun di rumah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarto hanya membaca istighfar dalam hati, mungkin Allah sedang mengujinya. Mobil itu mungkin juga memang bukan rejekinya. Pikirnya dalam hati. Sempat terpikir untuk melaporkan ke polisi, tapi mungkin juga tidak akan memecahkan masalah. Mungkin juga Irfan sudah tidak ada di Batam lagi. Buktinya beberapa hari lalu ada seorang temannya di Muka Kuning yang menelepon ke HP-nya, menceritakan hal yang sama dengannya. Bahwa Irfan telah meminjam sejumlah uang, namun malah sekarang tidak bisa dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sudahlah, bukan rejeki saya, batin Suwarto. Semoga Irfan diberikan petunjuk oleh Allah dan diberi kesadaran atas khilafnya. Allah pasti akan mengganti yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kenangan mobil merah, yang telah menyertai kehidupan kami selama di Batam&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-8615137173974374947?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/8615137173974374947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=8615137173974374947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8615137173974374947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8615137173974374947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/hilangnya-sebuah-mobil.html' title='Hilangnya Sebuah Mobil'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-1547071058623082794</id><published>2007-09-17T18:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-17T19:59:47.139-07:00</updated><title type='text'>Kami Telah Mengikhlaskannya ...</title><content type='html'>Ahmadun termasuk sosok yang sederhana namun banyak disegani orang-orang di sekitarnya. Bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta dengan penghasilan yang cukup. Namun ia selalu meunjukkan kesederhanaan dan ringan tangan. Lazimnya orang di Batam memiliki mobil sebagai sarana transportasinya. Memang harga mobil relatif murah sehingga mudah dijangkau semua kalangan. Dan memiliki mobil adalah suatu hal yang biasa, bukan mencerminkan sebuah kekayaan atau status sosial, lebih kepada kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Ahmadun tetap saja menggunakan sepeda motornya untuk menjalani aktivitasnya. Kegiatannya yang padat memang membuthkan sarana kendaraan, namun ia memilih menggunakan sebagian penghasilannya untuk membantu sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadun juga mengelola sebuah pengajian yang beranggotakan para pegawai, dokter dan pengusaha. Statusnya ini tidak mempengaruhi peranannya sebagai pembina pengajian. Malah para anggota pengajiannya merasa kagum dengan kepribadian dan semangat juang Ahmadun. Mereka telah menganggap Ahmadun sebagai seorang 'suhu' atau 'syaikh'tempat mereka konsultasi tentang segala sesuatu. Ahmadun selalu memberikan support, motivasi dan arahan yang bernas dan mudah mereka terima. Pemahaman Ahmadun tentang agama membuat anggota pengajiannya merasa terayomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sering Ahmadun sampaikan kepada anggota pengajiannya adalah agar senantiasa memupuk rasa persaudaraan sebagai sesama umat Islam. Saling mengenal, memahami, saling bekerja sama dan saling bantu-membantu dalam segala aspek dan dalam segala keadaan. Dalam keadaan beriman, seorang saudara membantu untuk senantiasa teguh dalam keimanannya. Dalam keadaan lemah (futur) seorang saudara membantu untuk kembali kepada ajaran agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaraan juga diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. Jika ada saudara yang kekurangan maka saudara yang lain membantu. Saling merasakan suka dan duka, meringankan beban saudara, menghindari prasangka buruk dan mengedepankan baik sangka dengan saudaranya. Lebih mudahnya dalam pelaksanaan bagaimana menjadkan sesama umat seagama sebagaimana keluarga masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOnsep ini benar-benar telah terpatri dalam diri tiap-tiap pribadi anggota pengajiannya. Setiap ada tetangga, saudara, atau kenalan yang kesusahan, mereka senantiasa membantu sesamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Ibu Rita, yang tinggal di rumah liar kampung Sukajadi kebingungan karena anaknya yang kedua terserang demam berdarah dan dirawat di RS Otorita. Suaminya yang bekerja sebagai tukang sayur keliling itu tidak memiliki cukup uang untuk biaya perawatannya. Saat itu belum ada program askeskin seperti saat ini. Dia yang sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci baju di komplek perumahan Sukajadi, tidak jauh dari rumahnya, harus menyekolahkan anak pertamanya di SD Negeri dan menghidupi 3 anaknya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Ahmadun yang diprakarsasi oleh Arifudin, yang juga seorang dokter di RS lainnya, membantu Ibu Rita dengan mengumpulkan dana takaful. Setelah cukup uang untuk membayar biaya RS mereka mengunjungi Ibu Rita dan anaknya di RS yang terletak di Sekupang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucapkan salam ke Bu Rita, menanyakan kabar bapaknya anak-anak, Arifudin memegang tangan Zakiya,anak yang sakit itu, memegang kepala dan melihat bagian tubuh yang lain. Ia juga memeriksa infus yang tergantung, membaca tulisannya dan menanyakan obat yang diberikan perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah, Zakiya sudah mulai membaik. Demamnya sudah turun, nanti coba saya bicarakan dengan dokternya, biarkan disini dulu sampai sembuh total baru dibawa pulang ya Bu." katanya kepada Bu Rita. Teman-temannya memperhatikan dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Rita tampak hanya mengucapkan terima kasih dan berusaha menghiasi wajahnya dengan senyuman. Wanita setengah baya ini mengenakan jilbab panjang warna biru tua, gamis dan kerudungnya itu tampak juga sudah berumur tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai itu Arifudin dan kawan-kawannya pamitan sambil meninggalkan amplop untuk Bu Rita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sedikit dari teman-teman semoga bisa untuk beli obat, semoga Zakiya cepat pulang. Salam untuk Bapak ya Bu." ucap Hery yang menjadi ketua rombongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rita mengantar mereka hingga pintu, setelah mereka hilang di balik dinding RS blok depannya, Bu Rita masuk kembali ke kamar. Ia pegang amplop tersebut. Dengan rasa penasaran dan deg-degan ia coba menghitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Subhanallah, 3 juta. Ini sudah lebih dari cukup untuk biaya Zakiya!. Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah memberi jawaban doa hamba. Semoga rejeki mereka semakin bertambah dan barokah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rita mendekati anaknya yang sedang tertidur. "Zakiya, alhamdulillah Allah menolong kita Nak, cepat sembuh ya. Dr Arif dan om-om temannya itu telah membantu kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan berikutnya ada kejadian lain. Kini Ahmadun yang menadaptkan musibah. Kedua orangtua Ahmadun di kampung secara bersamaan terserang penyakit yang sama. Stroke. Keduanya secara bersamaan dirawat di sebuah Rumah Sakit di kota kelahiran Ahmadun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekalutannya ia langsung memesan tiket tujuan Semarang. Ia ingin menemani ayah dan ibunya. Sesampai disana Ahmadun langsung ke Rs tempat ibu dan ayahnya di rawat. Tepat waktu subuh pada hari kedua ia sampai di RS itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada siang harinya, kakak perempuannya mengajak secara berbisik menyampaikan bahwa hari ini mereka harus membayar tagihan RS untuk 2 hari ini. Dan diperkirakan paling tidak ayah dan ibu mereka dirawat 3 hari lagi. Alhamdulillah gejalanya masih ringan. Sekarang kedua orangtuanya telah sadarkan diri, namun ayah mereka belum bisa bicara. Sedangkan ibunya sudah bisa bicara, namun tangan kanannya tidak bisa digerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini RS meminta deposit sebesar 3 juta untuk jaminan perawatan. Ahmadun kebingungan, di tabungannya tinggal ada uang tidak lebih dari 1 juta, dan dia juga harus membeli tiket kembali ke Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia coba menghubungi beberapa temannya di Batam. Siang itu juga ia berhasil mendapatkan pinjaman sebesar 5 juta dari beberapa temannya. Dan uang itu segera ia berikan kepada kakak perempuannya untuk biaya keperluan perawatan orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian Ayahnya sudah boleh dibawa pulang, kesehatannya sudah membaik walaupun belum bisa bicara dengan normal. Ibunya baru boleh dibawa pulang besoknya. Menurut dokter ahli syaraf yang merawatnya, agar tangannya bisa berfungsi normal lagi harus menjalani terapi fisio, untuk melatih otot-otot tangan. Sang dokter memberikan nama beberapa ahli fisio terapi yang bisa dihubungi di sekitar tempat tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya sudah boleh pulang. Semua biaya RS sudah tertutupi dengan uang yang ia berikan kepada kakak mereka. Ahmadun memang tulang punggung keluarga, sehingga sebagian penghasilannya di Batam ia kirim secara rutin ke kampung. Yang menjadi masalah sekarang adalah biaya untuk tiket pulangnya dan uang untuk ia tinggalkan bagi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada langkah yang bisa ia tempuh kecuali mencari pinjaman. Ia berjanji dalam hati, dalam waktu dekat, begitu ia sampai di Batam, ia akan berusaha untuk mengembalikan pinjaman itu. Ia juga sebenarnya tidak nyaman untuk memiliki hutang kepada oranglain. Namun kondisinya seperti ini. Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya, apalagi menambah beban kakak dan adik-adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia mendapat pinjaman dari bendahara organisasi sosial yang ia menjadi anggotanya. Dengan seijin ketuanya, ia meminjam kas organisasi yang akan ia kembalikan maksimal dalam waktu 3 bulan. Sehingga dengan itu ia bisa membeli tiket pulang dan meninggalkan beberapa uantuk keperluan di rumah, membeli obat-obatan yang masih dibutuhkan dan membayar jasa fisio terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Batam, entah dari mana mereka mengathui kejadian yang menimpa Ahmadun, Dr. Arifudin dan teman-temannya telah berkumpul di rumah Ahmadun. Mereka mengucapkan turut berduka atas sakitnya orangtua dan mendoakannya agar cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berbincang-bincang, mereka berpamitan. Arifudin yang terakhir pulang menyelipkan selembar kertas di tangan Ahamdun. Ia tidak mengerti apa yang diberikan oleh Arifudin kepadanya. Baru setelah mereka semua pergi, ia membaca tulisan singkat di kertas itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Ustadz, bukan kami bermaksud apa-apa kepada Ust, tapi kami juga ingin membantu Ustadz. Kami tidak sanggup menyerahkan langsung kepada Ustadz karena takut Ustadz menolaknya. Ini hasil musyawarah saya dengan istri, kami telah banyak mendapat bantuan dari Ustadz, dan saat inilah kami ingin membantu Ustadz. Insya Allah, kami telah mengikhaskannya. Semoga bermanfaat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang setelah ia membaca surat kecil itu, HP nya berbunyi. Sebuah SMS masuk dalam kotak suratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kredit Rp. 8.000.000,- pada no rek xxxx195 tanggal 2 Sep 2006 jam 16:34:25 ..dst " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata SMS Banking yang memberitakan telah ditransfer sejumlah uang ke nomor rekeningnya. dan ia tahu siapa yang melakukannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Subhanallah, Arifudin, semoga Allah memberkahi rejeki antum dan keluarga. Uang sebanyak itu cukup untuk membayar hutang-hutangku dan bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu..." batin Ahmadun, sambil tak henti-henti mengucapkan syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking terharnya, ia tak sanggup mengucapkan apa-apa kepada istrinya yang menanyakan apa yang terjadi. Air matanya meleleh membasahi pipi ketika ia memperlihatkan selembar kertas dari Arifudin dan SMS yang baru dibacanya...&lt;br /&gt;()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;jazakamulullah untuk someone yang telah mengikhlaskan hutang 8 juta itu ... semoga Allah membalas dengan yang lebih baik ..&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-1547071058623082794?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/1547071058623082794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=1547071058623082794' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1547071058623082794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1547071058623082794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/kami-telah-mengikhlaskannya.html' title='Kami Telah Mengikhlaskannya ...'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-8400732009695130107</id><published>2007-09-16T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-09-16T21:11:50.807-07:00</updated><title type='text'>Setangkai Mawar Untukmu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AwHrdNOrR0Y/Ru3-bmPYvqI/AAAAAAAAAA8/-yUi8SEDc3Y/s1600-h/meminang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AwHrdNOrR0Y/Ru3-bmPYvqI/AAAAAAAAAA8/-yUi8SEDc3Y/s320/meminang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111020902210387618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengandung anak pertama adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi pasangan suami istri. Demikian juga bagi Farid dan Rita. Mereka menikah hampir setahun yang lalu. Farid bekerja di sebuah perusahaan IT dan Rita sebelum menikah bekerja di sebuah perusahaan komponen elektronika di Muka Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan mereka terbilang sangat cepat dan tidak disangka oleh teman-temannya. Bahkan teman kerja Rita pada kaget, tidak ada angin, tidak ada hujan, Rita yang terkenal pendiam, tidak pernah sama sekali terlihat dekat sama cowok, tiba-tiba menyebarkan undangan sambil ijin cuti untuk menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid diperkenalkan oleh seorang seniornya di tempat kerja dengan Rita pada suatu kesempatan ketika ia berkunjung ke rumah seniornya itu. Rita adalah sahabat dekat istrinya. Tanpa perlu waktu lama, Farid langsung bermaksud menikahinya, dan saat itu juga menanyakan latar belakang keluarga dan bagaimana tanggapan keluarganya jika menikah dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rita hanya meminta waktu untuk menyampaikan hal ini kepada orangtuanya di kampung. Dan hanya dalam waktu 2 minggu kemudian mereka bertemu lagi rumah yang sama dengan perantara teman Farid tersebut. Mereka sepakat untuk menikah minggu berikutnya. Persyaratan yang diajukan Rita juga tidak memberatkan. Ia hanya meminta mahar yang menurut Farid mudah dipenuhi, tidak perlu pesta, hanya dia minta akad nikah dilakukan di rumahnya di kampung. Farid asli Mranggen, Demak. Dan Rita berasal dari Tulis, Batang. Tidak terlalu jauh jarak kampung mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah, pernikahan mereka berlangsung sederhana. Hanya ada akad nikah, dilanjutkan dengan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang kerabat dan tetangga dekat. Tidak ada pesta, tidak ada pelaminan. Rita hanya mengenakan baju muslimah warna putih, dihias beberapa helai bungan melati di kerudungnya. Farid memakai baju taqwa warna putih dengan setelan jas warna hitam. Setelah akad nikah mereka berfoto-foto sejenak dan menemani tamu, kerabat dekat yang hadir. Farid memberikan satu stel baju muslimah yang terdiri dari gamis dengan warna kombinasi merah hati dan putih bermotif bunga-bunga, lengkap dengan kerudung, manset dan kaos kaki. Sebentuk cincin sederhana tanpa bentuk yang aneh dan beberapa buah buku Islam berukuran tebal sebagai hadiah bagi istrinya. Mereka tampak berbahagian dalam kesederhaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini telah memasuki bulan kesembilan pernikahan mereka. Rita sedang mengandung anak mereka yang pertama. Namun namanya takdir tidak ada yang menyangka. Tiba-tiba mereka mendapat kabar bahwa ayah Rita meninggal. Dan Farid sudah tidak memiliki cuti lagi. Cutinya sudah dihabiskan waktu mengurus pernikahannya waktu itu. Terpaksa Rita pulang kampung sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu yang mendesak, Farid membeli tiket pesawat langsung ke Semarang. Harganya sangat mahal untuk ukuran mereka. Tapi demi untuk ke rumah orangtua, mereka tetap membelinya. Farid mengantar istrinya ke bandara Hang Nadim, mengurus surat pengantar dokter karena orang hamil harus mengisi surat pernyataan dulu disertai dengan surat pengantar dari dokter bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih sebulan Rita di kampung halaman. Farid sudah dilanda kerinduan kepada istri yang sangat dicintainya itu. Hampir setiap hari ia meneleponnya, menanyakan kabar dan menjadwalkan kepulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian Rita kembali ke Batam. Namun kali ini ia tidak naik pesawat. Di samping harga tiket pesawat yang sangat mahal, juga resiko kemungkinan ia tidak boleh naik pesawat karena usia kandungannya yang sudah mendekati 9 bulan. Akhirnya ia memutuskan naik kapal Pelni. Berarti ia harus ke Jakarta dulu baru ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melanjutkan perjalanan ke Batam dengan kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu jadwal kedatangan kapal Pelni. Pelabuhan domestik Sekupang seperti biasanya pada hari yang dijadwalkan berlabuhnya kapal Pelni, selalu sibuk. Taksi-taksi maupun mobil sewaan lain telah berjajar menunggu datangnya penumpang. Para porter juga telah siap dengan peralatan angkut mereka. Dalam hiruk pikuk seperti ini biasanya sebagian orang jahat memanfaatkannya untuk bertindak nista dengan mencopet atau menjambret barang para penjemput maupun penumpang kapal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid bersiap untuk menjemput istri yang ditunggu-tunggunya. Sejak pagi dia sudah meminta ijin ke Supervisor-nya untuk keluar kantor guna menjemput istrinya. Hari ini dia berdandan istimewa. Kemarin sore ia pangkas rambut, sehingga potongannya tampak lebih rapi. Dia mengenakan kemeja panjang warna putih dan bawahan gelap. Memakai dasi bercorak gelap dengan gambar komputer yang terkesan techno-look. Dia telah meminjam mobil temannya untuk dibawa ke pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat dia kembali berkaca, menyemprotkan parfume Identic dengan aroma Bulgari kesukaannya. Memakai jas warna gelap yang tergantung di belakang meja kerjanya. Sesampai di receptionist  ia menghampiri petugas disana dan meminta ijin mengambil setangkai bunga mawar yang baru diganti tadi pagi. Bunga warna merah itu masih segar dan memancarkan aroma harum. Resepsionis hanya tersenyum melihat tingkah Farid sambil menanyakan Farid mau kemana kok berpakaian seperti dan membawa bunga segala, seperti mau bertemu pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku memang mau ketemu pacarku, kok!” jawabnya singkat sambil menyebarkan senyum lalu meninggalkan mereka menuju halaman parkir mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Pelabuhan Sekupang, ia memarkir mobilnya agak jauh agar mudah keluarnya, lalu menuju ruang kedatangan. Tepat dalam waktu yang bersamaan, petugas informasi mengumumkan bahwa Kapal Pelni dari Jakarta telah berlabuh, para penumpang tujuan Batam dipersilakan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid menunggu di depan pintu kedatangan, tepat di depan pagar. Pandangannya disebar ke seluruh penjuru mencari sosok yang ia nantikan. Mulai dari atas kapal, buritan, sampai berjubelnya orang yang berebut menuruni tangga kapal hingga orang-orang yang berdesak-desakan keluar dari dermaga menuju pintu kedatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan ia mendapati sosok mungil memakai kerudung biru muda. Sebuah tas warna coklat menggantung di pundaknya. Ia tampak berjalan pelan menyusuri jalan dermaga. Beberapa kali dilalui oleh para porter yang dengan langkah cepat mengangkat barang keluar pelabuhan. Ia bersama datang bersama Ibunya Farid dan disampingnya ada beberapa orang teman Rita yang juga Farid kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini dia biadadariku!” pekiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ia sadari ratusan pasang mata memandangnya dari tadi. Melihat sikap dan tampilannya yang aneh, ia telah menarik perhatian banyak penjemput lainnya. Bahkan penumpang yang baru saja keluar pintu juga ikut heran. Barangkali mereka menyangka sedang ada syuting sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di pintu keluar, Farid menyambut istrinya salam, istinya mencium tangan dan Farid pun mengecup kecing istrinya. Seraya ia menyerahkan setangkai bunga mawar yang ada di tangannya. Istrinya mencium bunga itu dan tersenyum sambil memeluk suaminya yang ia lihat lebih tampan dari sebelumnya. Kemudian Farid mencium tangan Ibunya dan memeluknya sambil mengucapkan selamat datang di Batam. Memang sudah direncanakan sebelumnya bahwa Ibunya akan menemani proses kelahiran anak pertamanya sekaligus tinggal di Batam beberapa bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sepengatahuan mereka, para pengunjung pelabuhan, baik penjemput maupun penumpang yang datang, telah melingkari mereka dan seperti dikomando, para pengunjung pelabuhan membuatkan jalan bagi mereka. Mereka takjub dengan pemandangan yang mereka lihat. Terpana, seakan melihat sinetron di televisi. Betapa romantis pasangan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Farid telah memperlakukan wanita dengan begitu indahnya. Setangkai mawar itu telah menjadi kenangan terindah dalam hati istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rita berjalan sambil digandeng suaminya itu, sesekali ia melihat dan mencium kembali bunga mawar di tangannya. Ditangkai mawar itu, ia temukan sebuah kata ”Untukmu!”. Sebuah kata dengan sejuta makna ()&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-8400732009695130107?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/8400732009695130107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=8400732009695130107' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8400732009695130107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8400732009695130107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/setangkai-mawar-untukmu.html' title='Setangkai Mawar Untukmu'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AwHrdNOrR0Y/Ru3-bmPYvqI/AAAAAAAAAA8/-yUi8SEDc3Y/s72-c/meminang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-4308341679252507121</id><published>2007-09-16T19:25:00.000-07:00</published><updated>2007-09-16T19:26:19.515-07:00</updated><title type='text'>Mendadak Nikah</title><content type='html'>Budi adalah teman sekerjaku sekaligus serumah. Kami sudah sangat akrab satu sama lain layaknya saudara. Dalam berbagai hal kami jalani bersama, berbagi cerita suka maupun duka. Budi memiliki seorang teman, sahabat karibnya yang juga akrab denganku, namanya Fajar. Sebenarnya Budi dan Fajar pernah satu sekolah, waktu SMP, namun mereka sekolah di SLTA yang berbeda dan kerja di tempat yang berbeda pula. Budi melanjutkan kuliah di Jogja kemudian diteirma di perusahaan tempatku bekerja. Fajar melanjutkan kuliah D3 di Semarang dan diterima di sebuah perusahaan komponen mikro, di Kawasan Industri Batamindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar sering main ke rumah kami, dan kami sering bertemu dalam berbagai kesempatan. Bermain bersama, ke pantai, rekreasi ke Pulau Penyengat, salah satu peninggalan pusat kerajaan Riau yang terkenal itu, berkemah, olahraga atau acara lain. Setiap akhir pekan kalau sedang tidak ada lembur, Fajar sering main ke rumah kontrakan kami. Sebagaimana layaknya seorang sahabat, kami berbagi cerita, curhat dan kadang juga cuma sekedar menonton film bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini Fajar tunangan dengan pacarnya yang bernama Naning. Sebenarnya mereka telah lama kenal, namun baru bertemu lagi sejak sama-sama bekerja di Batam. Budi, Fajar dan Naning dulu satu sekolah, namun bekerja di perusahaan yang berbeda dan baru bertemu lagi di Muka Kuning dalam sebuah acara pertemuan keluarga Jawa Tengah di Batam waktu halal-bihalal tahun lalu. Bahkan mereka baru sadar kalau sama-sama menjadi anggota Ikatan Warga Pekalongan. Sejak saat itu juga Fajar dan Naning bertemu lagi dan mulai dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar dan Naning adalah pasangan yang serasi. Meskipun berpostur agak kecil, Fajar adalah pemuda yang tampan dan cerdas. Dia juga termasuk pekerja yang sukses. Sebagai teknisi senior di sebuah perusahaan elektronik yang berpusat di Amerika, dia sudah memiliki rumah sendiri meskipun dengan KPR. Rumahnya di perumahan Marcelia, Batam Centre, sedang dalam penyelesaian. Saat ini dia masih tinggal di dormitori, Blok P bersama 4 orang teman sekerjanya. Sedangkan Naning adalah gadis yang cantik, selalu memakai kerudung simpel dengan corak cerah dan seringnya bermotif bunga. Sebagai seorang staf administrasi di perusahaan Jepang, masih di kawasan industri Batamindo. Naning juga tinggal di dormitori, di Blok N, satu blok dengan sesama pekerja di PT-nya. Keduanya berasal dari Kota yang sama, Pekalongan. Hanya berbeda wilayah. Fajar berasal dari Kauman dan Naning tinggal di Buaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Budi menceritakan masalah yang dihadapi Fajar. Naning tiba-tiba sakit. Katanya mengalami nyeri di bagian kepalanya. Sekitar pelipis, di daerah antara telinga dan matanya. Tapi nyerinya sangat sakit, Naning sampai tidak sanggup menahannya dan pernah pingsan, saking tidak kuat menahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga hari ini Fajar menemani Naning di Rumah Sakit Harapan Bunda. Namun dokter yang merawat belum bisa melakukan identifikasi penyakitnya. Kemungkinan syaraf sekitar matanya mengalami gangguan. Memang akhir-akhir ini mata Naning selalu berair terus. Secara bergantian teman-teman serumah Naning menunggui di RS. Setiap hari Fajar selalu menjenguknya, ia kelihatan sangat sedih melihat kondisi tunangannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kelima, dokter memberi rujukan untuk dibawa ke sebuah Rumah Sakit di Jakarta, karena peralatan di RS tidak memungkinkan untuk penyakit ini. Segera Fajar menghubungi keluarga Naning dan besok mereka akan berangkat ke Jakarta. Setalh mendapatkan surat rekomendasi dari perusahaan tempat Naning bekerja dan rujukan daari RS ini, mereka langsung berangkat dengan pesawat pertama. Kebetulan di Jakarta Fajar memiliki saudara yang bisa dihubungi dan telah siap menjemput di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Budi tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa membantu ala kadarnya, dana yang kami kumpulkan dari teman-teman serumah dan beberapa kenalan dekat kami masukkan ke amplop dan Budi yang menyerahkan ke Fajar. Biar bagaimanapun mereka adalah sahabat dekat. Budi tampak menahan kesedihannya melihat kondisi yang menimpa sahabatnya itu. Ia memberi motivasi agar Fajar tetap tabah dan menitipkan doa dari kami semua agar Naning cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Budi ikut mengantar mereka sampai Bandara Hang Nadim. Kondisi Naning sangat lemah. Ia masih bisa berkata-kata, tapi karena rasa nyeri di kepalanya, ia hanya diam menahan sakit. Wajahnya tampak pucat karena jarang mau makan. Fajar mendorong kursi roda yang dinaiki Naning dengan hati-hati. Mereka memandang kami dengan lembut dan penuh rasa persahabatan. Aku menangkap ucapan terima kasih yang tulus terpancar dari pandangan mata mereka meskipun tidak terucap melalui mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Aku dan Budi secara bergantian memegang tangan Fajar untuk memberi semangat kepadanya dan sesekali memandang ke Naning. Naning ditemani 3 orang teman se-dormitorinya. Mereka juga selalu memberi semangat kepada Naning, salah seorang yang membawa majalah kesukaan Naning membacakan sebuah artikel untuk menghibur Naning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka telah dipanggil untuk menaiki pesawat, kesedihan kami tidak tertahankan lagi. Bersamaan dengan Naning yang disalami dan dipeluk teman-temannya, aku dan Budi juga bergantian menyalami dan memeluk Fajar. Saat Budi memeluk Fajar dengan penuh rasa persaudaraan di hadapan Naning, aku tidak sanggup menahan haru. Tak terasa air hangat menetes di pipi saat melihat tiga orang sahabat itu melepas kesediahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita adalah saudara, kamu dan Naning adalah bagian dari hidupku.. Aku hanya mengantar sampai disini, tapi doaku akan selalu menyertai kalian, salam buat Bapak dan Ibu ya.. semoga Naning cepat sembuh dan kalian cepat kembali lagi kesini..” ucap Budi kepada sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih Bud, kami tidak akan melupakan jasamu...doakan kami ya...” jawab Fajar dengan beruraian air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Budi juga mengucapkan hal yang sama kepada Naning, sambil menyentuh pegangan kursi roda. Naning bercucuran air mata haru dan mengucapkan terima kasih dengan ucapan yang tidak keluar suaranya, hanya bibirnya yang tampak bergetar. Air mata ini sudah tidak sanggup ditahan, aku berusaha menyekanya sebelum mengucapkan salam kepada mereka berdua. Aku melihat tiga orang teman Naning juga menunduk menahan kesedihan. &lt;br /&gt;Dua hari kemudian Fajar menelepon dari Jakarta. Kami semua sedang berkumpul di rumah. Budi yang menerima telepon itu. Fajar menceritakan keadaan Naning. Dokter sudah berhasil melakukan diagnosa. Naning terkena semacam kanker di syaraf matanya dan harus dioperasi. Namun peralatan operasi belum ada di Indonesia. Menurut dokternya, dianjurkan untuk melakukan operasi laser di singapore. Apalagi mereka tinggal di Batam, lebih dekat kesana. Yang menjadi masalah adalah biaya operasi diperkirakan mencapai 70 juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fajar, sebagai seorang staf kontrak di badian administrasi, Naning belum mendapat fasilitas kesehatan yang cukup untuk operasi. Biaya maksimal yang ditanggung perusahaannya hanya maksimal 20 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tercekat mendengar penuturan Fajar. Kami minta waktu sebentar untuk berembug sebelum memberikan saran ke Fajar. Betapa berat cobaan yang harus dialami Fajar dan Naning. Selain menceritakan penyakit Naning, kepada Budi, Fajar juga mencritakan sikap orangtuanya yang memang sejak awal tidak begitu suka dengan kedekatan Fajar dengan Naning. Pertunangan mereka pun hanya mendapat restu setengah-setengah dari orangtuanya. Memang orangtuanya menyertai Fajar waktu itu, tapi tidak dengan sepenuh hati. Sepertinya masih ada yang mengganjal di hati mereka berdua tentang Naning. Namun kedua orangtua Naning tidak terlalu memikirkan hal itu, mereka mendukung sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian kami berunding. Salah seorang dari kami menyarankan agar kami meminjam uang ke Bank untuk biaya operasi. Atau menjual motor, atau mencari pinjaman lain. Budi sedang memikirkan untuk melakukan penggalangan dana dan donasi sebagaimana sering dilakukan jika ada saudara yang tertimpa musibah. Apalagi dengan melibatkan Ikatan Keluarga Pekalongan yang jumlahnya cukup banyak ditambah dengan Kekeluargaan Jawa Tengah yang beranggotakan ribuan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memiliki gagasan lain. Setahuku perusahaan tempat Fajar bekerja adalah perusahaan paling bonafide di Batamindo. Biasanya seluruh biaya kesehatan beserta keluarganya ditanggung oleh perusahaan. Aku coba lontarkan ke Budi tentang hal itu, meskipun dengan penuh tandatanya belum mengerti arah pembicaraanku, Budi meyakinkan bahwa yang ia tahu seluruh biaya kesehatan, beserta keluarga hingga anak ketiga ditanggung oleh perusahaan. Budi ingat waktu istri Pak Zaki dirawat selama hampir sebulan, semuanya ditanggung perusahaan. Pak Zaki adalah teman sekantor Fajar. Begitu juga, rekan Fajar sesama teknisi, Arief, yang anaknya operasi juga ditanggung oleh perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Fajar tidak bisa lama-lama, Naning harus segera dioperasi. Telepon dia sekarang. Bilang ke dia, nikahi Naning hari ini juga, bukankah orangtua Naning sedang di Jakarta juga? Kalau Naning menjadi istri Fajar, maka biaya operasi Naning akan ditanggung oleh perusahaan Fajar.” Ungkapku cepat dan langsung mendapat respon persetujuan dari Budi dan kedua orang teman serumahku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa? ... tapi coba saya rundingkan dengan Bapak-Ibu disini.” Jawab Fajar ketika mendengar saran dari kami. Dalam kekagetannya ia menerima juga saran kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Fajar menelepon kami dan menyampaikan bahwa sore ini juga mereka menikah di Jakarta, surat-surat diurus oleh saudara Fajar yang kebetulan bekerja di Pemerintah Kota Jakarta Timur. Dan semunya berlalu begitu cepat. Hanya disaksikan oleh ayah Fajar, kedua orangtua Naning, paman Fajar beserta istrinya, dan dibantu oleh petugas KUA Jakarta Timur, pernikahan itu dilangsungkan. Tidak ada pesta, tidak ada baju pengantin. Bahkan mempelai perempuan sedang terbaring sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya Fajar mengontak temannya yang di HRD dan menceritakan kronologisnya. Temannya itu yang kemudian mengurus surat-surat dan keperluan lain dengan perusahaan. Bersamaan dengan itu Fajar mengurus administrasi Rumah Sakit. Hari itu juga Fajar akan membawa Naning kembali ke Batam untuk melanjutkan ke Singapore. Dokter Rumah Sakit sudah melakukan kontak dengan pihak Rumah Sakit di Singapore, lusa akan langsung dijadwalkan operasi. Berarti masih ada waktu 2 hari. Jika sore ini sampai di Batam langsung naik feri ke Singapore berarti masih ada waktu 1 hari agar Naning bisa istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pesawat garuda, siang itu Fajar kembali ke Batam. Kedua orangtua Naning, ayah Fajar dan saudaranya kembali ke daerah asalnya dan tidak menyertai ke Batam. Sekarang tugas kami untuk menjemput mereka dan langsung mengantar ke Pelabuhan Internasional Sekupang. Teman Fajar yang orang HRD itu ternyata telah mempersiapkan semuanya, mobil dari Bandara, tiket Feri termasuk tax-nya. Karena bekerja di perusahaan asing yang sering melakukan training di Singapore, Fajar dan Naning sudah beberapa kali ke negeri Singa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak kata-kata yang terucap dalam pertemuan tersebut. Begitu pesawat mendarat, kami menunggu di ruang kedatangan, petugas telah menyiapkan kursi roda untuk Naning. Kami hanya tersenyum kecil, menyalami dan saling berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi rasa sedih aku coba mencairkan suasana dengan mengucapkan lirih kata selamat telah menjadi pengantin baru, semoga Allah memberikan keberkahan dalam pernikahan yang tidak terduga ini. Fajar mengucapkan terima kasih tetap berusaha tersenyum. Naning pun kelihatan lebih tegar menghadapi keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah.. kasihan pasangan ini, mengapa pernikahan mereka harus dalam keadaan seperti ini?” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerak cepat kami memindahkan Naning ke mobil perusahaan Fajar yang menjemput. Dibantu seorang staf wanita dan teman Fajar yang kemudian aku tahu bernama Setyo itu langsung meminta sopir untuk segera membawa kami ke arah Sekupang karena Feri satu jam lagi. Perjalanan Nongsa-Sekupang biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak pembicaraan kami selama dalam perjalanan. Fajar banyak bercerita tentang penyakit Naning dan sedikit membahas betapa hebohnya mengurus pernikahan super cepat mereka. Kami semua berharap agar dengan operasi ini Naning segera bisa pulih kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 15.00 kami sampai pelabuhan internasional Sekupang. Feri Batam Fast dijadwalkan jam 15.15 tujuan World Trade Centre (sekarang Harbour Front). Kami mengantar Fajar untuk mengurus passport dan persiapan semuanya. Nanti di WTC sudah ditunggu oleh petugas dari RS setempat. Kami kembali berpelukan dan mengucapkan selamat jalan kepada Fajar dan Naning. Keharuan kembali melanda, kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kami melihat saat Batam Fast melaju meninggalkan Sekupang. Aku dan Budi berpamitan kepada Pak Setyo yang kemudian pulang dengan mobil perusahaan yang membawa mereka. Sebenarnya kami ditawari untuk pulang bersama, tapi kami beralasan akan mampir ke tempat kerja kami dulu yang tempatnya tidak jauh dari pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang operasi, Fajar menghubungi Budi. Ia meminta doa semuanya untuk kesembuhan Naning. Kami semua mengangguk, meskipun Fajar tidak melihatnya. Dalam hati aku berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Naning dan Fajar, agar mereka segera menikmati hari-hari indah pernikahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semuanya mengucapkan syukur ketika mendengar operasi berjalan lancar. Tidak terlalu sulit pelaksanaannya karena operasi dilakukan dengan teknologi sinar X. Jadi tidak ada pisau operasi dan ruang operasi yang menyeramkan. Semua dilakukan dengan teknologi canggih. Selesai operasi, Naning menjalani perawatan beberapa hari dan kata dokter setempat 3 hari berikutnya sudah boleh dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sukacita kami menyambut kedatangan Fajar dan Naning kembali di Pelabuhan Sekupang. Sekarang Naning sudah bisa tersenyum. Wajah anggunnya telah kembali dengan senyum manisnya. Kecantikan alami seperti gadis Jawa pada umumnya. Meskipun masih tampak sedikit pucat, Naning tetap kelihatan manis. Fajar yang mendampinginya juga sudah bisa tersenyum lebar. Mereka terlihat bergandengan tangan saat meninggalkan pelabuhan, masuk ke dalam mobil yang telah kami sewa. Kami menyewa mobil kijang untuk menjemput mereka agar cukup lega dan bisa membawa barang-barang perlengkapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju rumah Fajar yang telah selesai direnovasi. Selama hampir 2 minggu ditinggalkan Fajar, ternyata dia selalu memotir renovasi rumahnya, saat ini telah siap ditempati. Tanpa sepengatahuan mereka aku dan Budi telah menyiapkan syukuran kecil-kecilan, untuk kesembuhan Naning dan merayakan pernikahan mereka. ()&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-4308341679252507121?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/4308341679252507121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=4308341679252507121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4308341679252507121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4308341679252507121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/mendadak-nikah.html' title='Mendadak Nikah'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-3896109114068028547</id><published>2007-09-14T00:44:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T01:45:02.890-07:00</updated><title type='text'>Pulsa Gratis 3 Detik (Kenangan Bersama PMI)</title><content type='html'>Mereka ada 10 orang. Enam orang cowok dan 4 cewek dan berasalah dari tempat yang berbeda-beda. Ada yang dari Jawa dan ada yang dari Sumatera. Sekolahnya pun berbeda-beda, ada yang dari STM ada yang dari D3 dan ada yang S1. Entah mengapa mereka mendapat tempat magang di Batam. Dijadwalkan mereka selama setahun akan magang di perusahaan telekomunikasi ini. Istilahnya Program Magang Indosat (PMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup akrab dengan mereka. Beberapa kali kami makan bakso bersama di warung bakso Pak Dhe, Tiban BTN. Aku menyebut mereka anak kost, walaupun mereka tinggal di asrama tapi kehidupan mereka layaknya anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dintaranya bernama Rofi, pemuda ganteng yang supel dan cerdas. Ia magang di bagian pemasaran. Ia sering menyampaikan presentasi tentang program pemasaran di hadapan para eksekutif. Cara bicaranya lugas dan menunjukkan jiwa inteleknya. Aku sangat terkesan dengan kemampuannya mengolah data dan memaparkan dalam sebuah presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lagi yang cukup akrab denganku, asli Purwokerto. Sebut saja Joko. Hobinya membaca komik dan suka mendengarkan cerita. Yang lebih kecil anak-anak STM itu sikapnya lebih menunjukkan keremajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkenang suatu hari, saat bulan Ramadhan. Kami mengadakan buka puasa bersama di sebuah panti asuhan. Sepulang dari acara kami semua naik 1 mobil, lalu kami tarawih bersama di mushola kantor. Selesai tarawih kami semua jalan-jalan ke nagoya untuk makan tahu tek bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang malu-malu. Ada yang cuek. Ada yang pura-pura diam, ada yang langsung embat. Yah, namanya juga anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kebiasaan menarik yang mereka lakukan. Karena waktu itu masih ada promosi gratis bicara 3 detik pertama untuk pemakaian kartu pra bayar, maka mereka memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik. Kalau melakukan percakapan telepon mereka atur sedemikian rupa hingga tidak sampai 3 detik bicara. Jadi setiap satu atau 2 kata langsung ditutup dan lawan bicaranya juga menjawab dengan singkat langsung ditutup. Persis seperti menggunakan &lt;em&gt;handytalky&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan : "lagi dimana?" &lt;br /&gt;Ving : "simpang jam"&lt;br /&gt;Irfan : "Mau kemana?"&lt;br /&gt;Ving : "sekupang"&lt;br /&gt;Irfan : "Sama siapa"&lt;br /&gt;Ving : "Mbak Rina"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu seterusnya, jadi pulsa mereka tidak terpotong, karena percakapnnya tidak sampai 3 detik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain ketika Rina dan Rofi janjian,&lt;br /&gt;Rina : "dah dimana?"&lt;br /&gt;Rofi : "Batam centre"&lt;br /&gt;Rina : "Belah mana?"&lt;br /&gt;Rofi : "Barata"&lt;br /&gt;Rina : "aku kesana"&lt;br /&gt;Rofi : "sama siapa?"&lt;br /&gt;Rina : "Joko"&lt;br /&gt;Rofi : "tak tunggu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah jadi rusak deh teknologi. Seharusnya GSM didisain untuk pembicaraan 2 arah, tapi digunakan untuk satu arah, tidak sesuai dengan rancangan awalnya. Aku yang paling sering meledek mereka dengan istilah &lt;em&gt;merusak teknologi&lt;/em&gt;. Namanya juga anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang paling mereka sukai adalah ditraktir. Dan sebagai orang yang dekat dengan mereka, aku sering ditodong untuk mentraktir mereka bakso, mie ayam atau apa saja. Karena kantong pas-pasan, aku mentraktir mereka secara bergilir. Kadang 2 orang, 3 orang secara bergantian. Sehingga dalam 2 bulan masing-masing pernah sekali aku ajak makan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling kasihan adalah Arif, karena dia yang paling muda. Di tempat kerja ia hanya mendapat tugas sederhana: membeli gorengan. Biasanya teman-teman karyawan mengumpulkan uang 1000 atau 2000an lalu mengumpulkannya dalam sebuah kotak. Setiap hari yang dibutuhkan kami biasa membeli makanan kecil, misalnya gorengan. Dan Arif selalu kebagian jatah untuk pergi membelinya. Namanya juga anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka semua telah bekerja. Ada yang menjadi karyawan, pengusaha, guru, dosen, ibu rumah tangga dan kepala kantor. Kenangan bersama ini takkan pernah terlupa.()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;to All PMI Batam : gimana kabarnya?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-3896109114068028547?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/3896109114068028547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=3896109114068028547' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/3896109114068028547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/3896109114068028547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/pulsa-gratis-3-detik-kenangan-bersama.html' title='Pulsa Gratis 3 Detik (Kenangan Bersama PMI)'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-263674097650201837</id><published>2007-09-13T22:44:00.001-07:00</published><updated>2007-09-13T23:18:46.124-07:00</updated><title type='text'>Kisah di Ruang Mawar II</title><content type='html'>Om Slank meneleponku ketika aku masih di temapt kerja. Katanya Mas Siswo sakit, tiba-tiba muntah-muntah terus dan badannya lemah. Aku diminta segera pulang. Biasanya aku pulang menjelang malam. Namun karena telepon Om Slank aku memutuskan segera pulang. Aku menitip pesan ke meja kerjanya Budi memberitahukan tentang sakitnya Mas Siswo. Budi masih di luar kantor, kunjungan ke customer. Aku segera memacu sepeda motor menuju tempat tinggal kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, di kawasan Batam Centre ini, aku langsung menemui Mas Siswo yang sedang dipijat oleh Om Slank. Kondisinya sangat lemah. Aku khawatir terjadi apa-apa maka aku bilang ke Om Slank kalau Mas kita bawa ke rumah sakit saja. Aku pinjam mobil Pak Suryo untuk mengantar Mas Siswo ke Rumah Sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah sakit Harapan Bunda, kami segera mendaftar ke ruang registrasi. Perawat menyambut dengan ramah dan senyuman hangat. Setelah mendata mereka mempersilakan kami menunggu. Tidak berapa lama dokter memanggil kami masuk. Mas Siswo positif malaria dan harus dirawat. Setelah mendapatkan kamar, aku meminta Om Slank pulang dulu naik taksi mengambil pakaian ganti dan kesini naik motor saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 2 minggu Mas Siswo dirawat di Ruang Mawar II rumah sakit ini. Di ruang ini ada 4 orang pasien. Rata-rata seorang pasien dirawat 2-3 hari lalu dibawa pulang., Hanya kami yang bertahan cukup lama disini dan ada seorang pasien lagi, seorang gadis, karyawan PT Astra yang dirawat di sebelah Mas Siswo, namanya Hartini. Ia sakit tipus. Usianya kurang lebih 20 tahun dan belum ada setahun kerja di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sama-sama menunggu pasien dan tiap hari bertemu, kami menjadi akrab satu sama lain. Hartini ditunggui secara bergantian oleh teman-teman se-dormitori-nya. Mereka tinggal di salah satu blok di Blok R Lantai 3, kawasan industri Batamindo, Muka Kuning. Satu rumah dihuni 12 orang, mereka semua 1 angkatan, rekrutan dari Jogja, tapi asalnya ada yang dari Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Jogja. Karena kerjanya sistem shift, mereka juga menunggui Hartini sesuai shift-nya. Sedangkan aku dan Om Slank hanya berdua bergantian menunggu. Budi sesekali datang tapi jarang menginap. Kalau aku dan Om Slank tiap hari bermalam disini. Pagi hari aku ke tempat kerja dan waktu makan siang aku ke RS untuk menyuapkan makan Mas Siswo dan meminumkan obat. Om Slank biasanya menunggu sambil istirahat di koridor RS. maklum, malam harinya dia harus narik ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jadi mengenal semua anggota rumahnya. Ada yang namanya Susi, Rani, Ratih, Fitri, Wulan, Siti dan Dewi. Yang lainnya aku lupa namanya. Kami menjadi akrab. Mereka kerap membawakan makanan untuk kami. Rani yang paling sering membawakan makanan. Kadang membawakan bubur untuk Mas Siswo, kadang membawa nasi goreng untuk Om Slank dan untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari Mas Siswo tidak mau memakan makanan yang disediakan RS, mual dan sering muntah lagi. Rani langsung punya ide besok mau dibuatkan bubur saja dari rumah. Benar, esoknya Rani membawa bubur untuk Mas Siswo dan nasi gudeg untukku dan Om Slank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-6 di RS ini, Mas Siswo dipindahkan ke kamar Mawar I, ruang kelas I yang berisi 2 pasien. Kebetulan ruang sebelahnya masih kosong, sehingga aku dan Om Slank bisa lebih leluasa menjaga Mas Siswo. Di kamar sebelah Fitri yang sedang bertugas menjaga Hartini. Ini adalah malam terakhir Hartini dirawat karena besok sudah boleh pulang. Sebelum adik-adik Jogja ini pada pulang, kami sempat mengobrol cukup lama di koridor dan mereka berjanji akan sering menjenguk kesini sampai Mas Siswo sembuh. Dan mereka juga menawarkan untuk mampir ke dormitori mereka, nanti setelah pulang dari sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Hartini sembuh mereka tetap hampir tiap hari ada yang datang menjenguk kami. Dan keakraban kami berlanjut. Setelah Mas Siswo diperbolehkan pulang, kami pun sempat beberapa kali main ke dormitori mereka. Kami memanggil mereka adik-adik. Kadang memanggil dengan panggilan Nok, Nduk dan lainnya panggilan Jawa yang sudah umum. Memang usia mereka rata-rata 20-an tahun. Beberapa tahun lebih muda dari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu kami sering datang ke Blok R itu. Kadang bertiga, kadang juga berdua, sama Om Slank atau sama Mas Siswo. Biasanya awal bulan kami datang main kesana. karena habis gajian jadi bisa membeli sesuatu untuk oleh-oleh. Mereka juga sering membuatkan masakan sederhana tapi istimewa, seperti sayur asam, gudeg dan soto. Kami hanya sering bercerita tentang pekerjaan dan saling menitip oleh-oleh kalau ada yang pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang kontrak mereka tidak lama. Hanya 1,5 tahun menjadi operator mesin di PT AIT dan setelah itu mereka tidak memperpanjang kontrak lagi. Katanya mereka ingin bekerja di kampung saja, dekat dengan orangtua dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu kami kehilangan kontak dan belum pernah bertemu lagi dengan adik-adik Blok R ini. ()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;adik-adik blok R : terima kasih gudeg dan sayur asamnya... &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-263674097650201837?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/263674097650201837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=263674097650201837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/263674097650201837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/263674097650201837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/kisah-di-ruang-mawar-ii.html' title='Kisah di Ruang Mawar II'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-8057787801935082561</id><published>2007-09-13T21:09:00.000-07:00</published><updated>2007-09-13T21:40:06.355-07:00</updated><title type='text'>Tapi, Putri Terlanjur Cinta Sama Bapak</title><content type='html'>Orang bilang cinta tidak memandang usia dan status. Cinta juga kadang datang tak terduga, dimana dan kapannya. Inilah yang dialami Pak Priyo. Nama lengkapnya Priyo Sasongko. Seorang guru BP di sekolah swasta di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi guru BP di SLTA tempat ia mengajar sekarang. Priyo juga aktif di beberapa kegiatan ekstra kurikuler. Diantarnya dia pembimbing band, pembina pramuka dan juga Paskibra. Usianya memang belum terlalu tua. Masih muda malah. Baru memasuki kepada tiga. Tapi dia sudah memiliki istri dan 2 orang anak yang lucu-lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari dia menangani kasus seorang pelajar putri yang terlibat narkoba. Karena ia guru BP maka ia yang lebih banyak memberikan konseling dan pengarahan kepada siswinya itu. Namanya Ratri. Anak orang kaya di kota ini. Namun karena mungkin kurang kasih sayang dan salah pergaulan maka Ratri menjadi seperti ini. Ia ditemukan mengkonsumsi narkoba di belakang kantin sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sudah diselesaikan dengan pihak kepolisian. Dengan pertimbangan masih harus menyelesaikan pelajaran dan dengan jaminan dari orangtua dan gurunya, Ratri hanya dihukum percobaan beberapa hari dan dikembalikan ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyo adalah guru yang baik dan mengerti tentang psikologi siswa. Ia melakukan pendekatan dengan sangat baik, melakukan pendampingan dan pengarahan kepada Ratri. Tiga bulan sejak kejadian itu, Ratri sudah kembali hidup normal dan bisa membebaskan diri dari pergaulan yang salah itu. Ia bahkan sudah mulai aktif di beberapa kegiatan ekstra dan OSIS. Ia lebih bersemangat dalam melanjalani kehidupan belajarnya. Ia banyak membantu kegiatan sosial yang dilakukan OSIS dan ayahnya selalu membantu apapun yang diinginkan putrinya itu. Pernah suatu hari OSIS akan mengadakan baksos ke salah satu Pulau di dekat Galang. Mereka tidak mendapatkan mobil untuk transportasi. Ratri menceritakan kepada ayahnya dan spontan ayahnya berjanji menyediakan mobil ke Pulau Galang sekaligus speed boat untuk menuju pulau itu, pulang pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga Paskibra mau mengadakan acara ramah tamah dengan anggota baru, begitu tahu pembimbing Paskibra adalah Pak Priyo, ayah Ratri menyatakan akan membantu apapun yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut. Waktu itu ia menyediakan vila-nya yang ada di daerah Sekupang untuk dijadikan tempat kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman lain yang tidak pernah dilupakan Priyo adalah ketika ada seorang siswi yang menghadap kepadanya. Namanya Putri. Ia anak kurang mampu. Ibunya seorang janda, sudah cukup tua, Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Ia menceritakan kondisi keluarganya dan kondisinya selama ini yang mencukupi kebutuhan sekolahnya dengan berjualan kue di sekitar Dormitory dan PT di Muka Kuning. Kebetulan ia tinggal di kampung rumah liar di luar kawasan Batamindo itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat terharu mendengar cerita salah satu muridnya itu. Dan sejak saat itu mereka sering bertemu. Priyo sering memberikan bantuan untuk beli buku dan membantu melunasi biaya sekolah kalau Putri terlambat membayarnya. Priyo beberapa kali datang ke rumah Putri dan memang melihat kondisi yang memprihatinkan. Ibunya merasa sangat senang dikunjungi oleh guru sekolah anaknya. Priyo sering bercerita dengan ibunya, ia memperlakukan ibu Putri dengan penuh sopan. Usianya hampir sama dengan usia ibunya di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat menjelang kelulusan. Priyo mendapat SK mutasi ke sekolah lain. Ia diangkat menjadi kepala sekolah di sebuah SMP di kota kecil di Kepulauan Riau. Bersamaan dengan upacara kelulusan ia berpamitan kepada anak-anaknya. Hampir semua murid terutama kelas 3 terharu mendengar akan ditinggalkan guru BP yang mereka sayangi itu. Bagi mereka Pak Priyo bukan hanya guru, namun juga seorang sahabat tempat curhat dan teman untuk bersantai. Beberapa siswa putri sampai menangis mendengar Pak Priyo akan meninggalkan mereka. Apalagi Ratri dan Putri. Ratri sampai berlari masuk ke ruang kelas dan menangis dengan keras disana. Putri masih cukup tegar, namun terlihat ia dengan susah payah menahan airmatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai bersalam-salaman dengan para guru dan staf sekolah, Priyo bersiap pulang. Di depan gerbang sekolah Putri menghampirinya dan menitipkan sehelai kertas. Putri kemudian berpamitan dan beberapa kali melihat ke belakang menatap Bapak Gurunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menaiki sepeda motornya, Priyo membaca surat kecil dengan tulisan tangan rapi yang dibuat oleh muridnya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bapak yang Putri hormati,&lt;br /&gt;Kenapa Bapak harus pindah? Tanjung Batu itu jauh, terpisahkan lautan.&lt;br /&gt;Kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Setelah lulus Putri ingin bekerja, mungkin akan mencari kerja di sini saja untuk membantu Ibu dan adik-adik.&lt;br /&gt;Bagaimana putri bisa mengungkapkan perasaan ini. Putri terlanjur menyimpan Bapak dalam hati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini sesuatu yang tidak lumrah terjadi. Putri tahu Bapak sudah punya anak istri. Putri juga tidak mau mengkhianati ibu-nya anak-anak.&lt;br /&gt;Tapi Putri tidak bisa mengingkari hati ini.&lt;br /&gt;Semoga suatu saat kita bisa dipertemukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;yang mencintaimu, wahai Bapak,&lt;br /&gt;Putri&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;()&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-8057787801935082561?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/8057787801935082561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=8057787801935082561' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8057787801935082561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8057787801935082561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/tapi-putri-terlanjur-cinta-sama-bapak.html' title='Tapi, Putri Terlanjur Cinta Sama Bapak'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-1855661314477559603</id><published>2007-09-13T20:01:00.000-07:00</published><updated>2007-09-13T20:48:19.131-07:00</updated><title type='text'>Om Slank Sang Tukang Ojek</title><content type='html'>Nama aslinya jarang ada yang kenal, namun kami biasa memanggilnya Om Slank. Usianya beberapa tahun lebih muda dariku. Om Slank pernah menumpang menginap di rumah kami untuk beberapa waktu sebelum dia pindah ke rumah kontrakannya. Pekerjaan sehari-harinya menarik ojek. Kadang-kadang menerima order menjadi kurir untuk mengantar surat, dokumen atau barang dalam kota, kadang juga menerima order untuk pembayaran tagihan telepon, listrik, pengurusan KTP, STNK dan lainnya. Pokoknya dia selalu bersedia untuk melakukan tugas apapun yang halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana panggilannya, penampilan om Slank bisa ditebak, potongan rambut yang berurai panjang, baju kaos dan celanan jins butut. Itulah tampilan kesehariannya. Sebagai tukang ojek dia berinteraksi dengan berbagai tipe orang. Mulai dari pekerja, karyawan pabrik, ibu rumah tangga yang minta diantar pergi ke pasar, para pedagang dan juga -maaf- wanita yang bekerja di temapt-tempat hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengenal Om Slank sebagai orang yang baik. Meskipun latar belakang keluarganya kurang begitu harmonis. Kakaknya katanya seorang preman yang sering beroperasi di terminal di pasar kampungnya. Adiknya juga tidak jauh berbeda. Meskipun adiknya punya keahlian sebagai tukang kayu, namun adiknya ajrang berangkat kerja. Ia lebih senang mangkal di jalanan. Orangtuanya juga tidak harmonis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari ceritanya, kami berkesimpulan Om Slank adalah orang yang berbakti kepada orangtua. Dan ini dibuktikan hampir setiap bulan, dari hasil menarik ojek dan perkejaan lainnya selalu disisihkan secara khusus untuk dikirim kepada ibunya di kampung. Om Slank juga orang yang ringan tangan. Tetangga-tetangga sering meminta bantuan untuk melakukan suatu pekerjaan, apapun itu, dia selalu melakukan. Bahkan dia kadang-kadang tidak mau menanyakan apakah dapat imbalan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika terjadi kerusuhan di kota ini, waktu itu ada kerusuhan yang cukup menggemparkan. Konflik antar beberapa suku yang membuat kota Pulau ini mencekam. Semua ornag lebih memilih tinggal di rumah. Bentrokan terjadi dimana-mana. Bahkan kabar tentang terjadinya pembunuhan di suatu tempat beberapa kali terdengar. Sampai jam 9 malam Om Slank belum pulang. Kami semua was-was dengan keadaannya. Kami khawatir sesuatu menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak bisa menghubunginya karena dia tidak memiliki HP. Kami coba telepon ke beberapa orang langganannya, mereka semua menjawab tidak tahu. Ada yang hanya bilang tadi sore sempat bertemu di pasar pagi tapi tidak tahu sekarang dimana. Kami coba hubungi ke beberapa tempat yang biasa dia mangkal, di hotel, kafe atau warung tempat dia pernah mangkal mencari penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin malam kami semakin panik. Kami tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Meskipun kami tidak ada hubungan darah, namun Om Slank sudah menjadi bagian dari hidup kami, penghuni rumah ini. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ia diberi keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 22 kurang, telepon rumah kami berdering. Aku segera menghampirinya. Ada perasaan was-was dan deg-degan. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan Om Slank dan ini telepon dari kepolisian atau rumah sakit. Sambil menahan perasaan seperti itu, aku coba menata nafas dan mengangkat telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Assalamuálaikum&lt;/em&gt;" terdengar suara dari seberang. Suara Om Slank. Aku sedikit lega mendengar suaranya. Setelah menjawab salamnya kami menanyakan keberadaan dan juga keselamatannya. Aku bilang segera pulang kami cemas menunggu Om Slank. Dia malah asyik bercerita kalau tadi di jalan ada seorang sopir taksi dari suku tertentu yang dihadang oleh orang dari suku lain yang sedang bertikai. Sopir taksi tersebut dikeroyok dan mobilnya dibakar. Kami semakin seram mendengar ceritanya. Dia bahkan cerita kalau tadi dijalan yang ia lewati ada sekelompok orang yang melakukan operasi KTP. Jika diketahui ada orang yang ber-KTP dari kota-kota suku tertentu langsung ditawan. Berkali-kali aku katakan agar Om Slank segera pulang, nanti cerita di rumah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan tidak ada masalah apa-apa dia tetap bersikukuh masih mau narik lagi. Dia memang sering narik ojek sampai malam. Sering ia pulang lewat dari jam 12 malam. Alasannya karena penumpang malam hari memberi ongkos yang lebih banyak. Aku bilang narik ojeknya diterusin besok saja. Akhirnya setelah aku desak terus dia bersedia pulang dan akan mampir membeli gorengan dulu. Aku lega mendengarnya, sambil aku bilang tidak usah mampir-mampir, dia sudah keburu menutup teleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Slank juga orang yang pemurah. Bukan sekali itu saja dia pulang membawa oleh-oleh buat kami yang di rumah. Oh Iya kami tinggal di rumah berempat termasuk Om Slank. Ada saudarku yang tinggal di rumah ini dan seorang teman sekerja yang tinggal bersama. Kami masing-masing punya sepeda motor untuk transportasi ke tempat kerja masing-masing. Motor Om Slank adalah motor sewa, setiap bulan ia menyetorkan ke pemilik motornya. Hampir setiap hari Om Slank selalu membawa sesuatu dibawa pulang ke rumah. Kalau tidak minuman dingin, softdrink, gorengan, buah-buahan bahkan kalo hasil tarikannya sedang banyak dia membawa pulang sate untuk dimakan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Om Slank menyampaikan keinginannya untuk membeli motor sendiri. Agar tidak setiap bulan menyetorkan uang sewa. Padahal uang sewa motor hampir sama untuk membayar cicilan jika mengambil motor di &lt;em&gt;dealer&lt;/em&gt;. Namun yang menjadi masalah adalah darimana mendapatkan uang sewanya. Kami berempat berembug tentang masalah ini. Semuanya setuju kalau Om Slank punya motor sendiri. Dia ternyata sudah mempersiapkan sebuah brosur dari dealer motor. Perlu uang muka minimal 3 jt untuk mengambil motor Honda seperti yang diinginkan. Aku coba memecahkan masalah dengan mengumpulkan semua uang dan tabungan yang kita miliki untuk dijadikan uang muka motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Slank sudah mengumpulkan uang 1,2 jt. Aku punya 500rb. Budi, teman sekerjaku juga masih punya simpanan, dan menyumbang 500rb. Mas Siswo punya 300rb. Kurang 500rb lagi. Aku berjanji untuk meminjamkan uang ke Pak Suryo, tetangga kami yang terkenal baik hati. Aku langsung menelepon ke rumah Pak Suryo. Setelah menceritakan kejadiannya, beliau bersedia meminjamkan Om Slank 500rb, bebas dibayar kapan saja kalau sudah ada. Dan malam itu juga Om Slank disuruh datang mengambil. Sudah mencukupi. Esok harinya Om Slank pergi ke dealer dan membawa pulang motor yang didinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lebih lamanya Om Slank tinggal di tempat kami sebelumnya akhirnya pindah dan mencari rumah kontrakan sendiri. Masih sering ia datang menjenguk kami dan dengan kebiasannya, kaos oblong bergambar rocker, jacket butut, celana jins yang sobek sana-sini, naik motor Astrea Grand-nya yang meskipun bekas tapi belum lama diambil dari dealer. Motornya sudah ditempel beberapa stiker disana-sini dan terkesan nyentrik. Kami yakin yang menggantung di stang itu adalah bungkusan berisi gorengan. Begitu ia menghentikan motornya kami langsung tertawa bersama dan makan gorengan bawaannya itu di halaman rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 5 tahun kami tidak bertemu dengan Om Slank lagi. Kabarnya sekarang sudah menikah dengan seorang gadis dari Sumatera Utara. Tapi kami tidak tahu pasti, karena sejak pindah tugas ke kota lain, aku belum pernah bertemu dengannya lagi.()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Salam kangen buat Om Slank, kapan kita makan gorengan lagi? &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-1855661314477559603?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/1855661314477559603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=1855661314477559603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1855661314477559603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1855661314477559603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/om-slank-sang-tukang-ojek.html' title='Om Slank Sang Tukang Ojek'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-861705133064912323</id><published>2007-09-13T00:51:00.000-07:00</published><updated>2007-09-13T02:31:47.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muka Kuning'/><title type='text'>Vina, Kapan Engkau Kembali?</title><content type='html'>Wajahnya cantik. Dengan balutan jilbab lebar, Vina menjadi pusat perhatian diantara teman-temannya. Vina bekerja sebagai seorang operator mesin di perusahaan asing, di komplek industri Muka Kuning. Aslinya dari Ranah Minang, dan hampir 5 tahun ini merantau di Batam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bekerja, Vina memiliki aktivitas yang cukup padat. Pengajian rutin mingguan yang ia lakukan dengan bimbingan Umi Farhan, Ibu muda yang rajin mengelola pengajian. Vina juga aktif di organisasi remaja masjid Nurul Islam, lembaga dakwah muslimah dan bergabung dalam sebuah kelompok pecinta alam. Ia pandai mengaji, mengelola majelis taklim, rohis, dan mengajar di TPA. Ia juga sering mengisi kajian-kajian muslimah di lingkungan PT maupun di luar Muka Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya teman-temannya khawatir dengan bergabungnya Vina dalam kelompok pecinta alam ini. Selain padatnya acara yang telah ia lakukan, masalah utama adalah kesehatannya yang mengkhawatirkan. Dua tahun lalu ia pernah menjalani operasi jantung dan setelah itu kadang-kadang penyakitnya itu sering kambuh. Anehnya sejak ia bergabung dengan kelompok PA ini dan sering mengikuti kegiatan &lt;em&gt;outdoor&lt;/em&gt; malah justru ia jarang mengeluhkan penyakitnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat waktu mau operasi kami semua bingung harus bagaimana. Kondisinya sudah harus dioperasi namun kami semua yang menjadi teman dekatnya kebingungan mencari biaya operasi. Untuk mengumpulkan uang puluhan juta dari karyawan PT seperti kami adalah hal yang sangat berat. Gaji kami hanya cukup untuk menjalani hidup di kota yang serba mahal ini, bahkan untuk mengirim ke kampung halaman dan menabung, kami harus menyisihkan dari gaji kami atau kami harus merelakan waktu untuk kerja lembur lebih banyak lagi. Sedangkan bantuan dari perusahaan tidak mencukupi biaya operasi dan pengobatan di Jakarta. Operasi jantung hanya bisa dilakukan di ibukota atau di Singapore sekalian. Untuk ke negeri tetangga itu biayanya jauh lebih besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu diantara kami yang kebetulan Ketua Majelis Taklim perusahaan kami berinisiatif untuk menggalang dana. Kami semua aktivis Majelis Taklim (MT) menjadi inisiator sekaligus relawan. Di mulai dari jamaah MT, ke karyawan lainnya bahkan sampai ke MT perusahaan lain dan kelompok-kelompok pengajian lain. Kami terkejut ketika dalam 2 hari sudah terkumpul cukup banyak uang. Kami sendiri kaget menghitungnya. Semuanya terkumpul hampir 20 juta rupaih. Sebuah nominal yang fantastis menurut kami. Kami merasa ini jumlah yang lumayan untuk membantu biaya operasi Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan lancar, Vina sudah kembali lagi bekerja dan melakukan aktivitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Vina menyertai kegiatan outbound yang kami lakukan. Bersama para peserta akhwat lainnya, ia mengikuti semua agenda acara. Bahkan ia termasuk yang menunjukkan bakat untuk menjadi asisten pelatih bagi saya. Di tim kami ada 10 orang ikhwan dan 10 akhwat asisten pelatih, salah satunya Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegiatan kami lakukan bersama-sama. Mulai dari long march, camping, outbound, jelajah hutan, lomba lintas alam dan kegiatan PA lainnya. Jumlahnya tidak terhitung lagi. Hampir 4 tahun kami bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari Vina dan beberapa tim akhwat kami ikut sertakan dalam lomba lintas alam antar PA. Pesertanya dari berbagai kelompok PA baik umum, pelajar maupun mahasiswa. Entah bagaimana kejadiannya setengah dari seluruh peserta tersesat di hutan belantara. Hingga malam menjelang mereka belum sampai finis. Padahal prediksi panitia paling lambat jam 3 sore seluruh peserta sudah mencapai titik akhir. Kelompok Vina termasuk peserta yang tersesat. Percakapan terakhir yang saya lakukan dengannya mengatakan kemungkinan ada yang merubah arah penunjuk jalan. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. HP mereka tidak ada yang bisa dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah saorang panitia yang aku kenal menghubungiku setelah magrib. Ia meminta saya ikut melakukan evakuasi dan pencarian peserta yang hilang. Dengan bergegas saya menuju lokasi. Kami ada berlima, salah satunya seorang pelajar. Yang lainnya ada dari SAR Otorita Batam dan pembina pramuka. Kami menyusuri hutan malam itu dengan penerangan seadanya. Bahkan sepatu yang saya pakai sampai rusak sama sekali, saya akhirnya berjalan tanpa alas kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa merasakan rasa sakit di kaki, kami terus berjalan. Setelah hampir 2 jam kami berjalan, kami menemukan tanda berupa api yang dinyalakan mereka. Setelah mendekat ternyata benar itu mereka. Salah satu peserta itu ada yang masih dapat sinyal dan langsung menghubungi kami. Kami bilang tetap di tempat dan terus upayakan nyalakan api, saling mendekat dan saling menghibur. Kami segera sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tempat kami dengan mereka terpisahkan sebuah sungai yang cukup lebar. Perjalanan kami terhenti. Tidak ada daratan yang bisa kami selusuri untuk sampai kesana. Akhirnya kami menghubungi pos utama SAR Batam, meminta dikirim speed boat untuk evakuasi mereka. Dan dalam waktu 1 jam berikutnya speed boat datang. Per kelompok peserta dievakuasi dengan speed boat dan terakhir kami ikut speed itu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Umi Farhan telah menunggu dengan mobil untuk mengantar Vina dan teman-teman pulang. Setelah kami antar pulang kami semua kembali ke rumah amsing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kami memiliki kenangan yang indah bersama teman-teman PA, termasuk dengan Vina. Kami semua sudah seperti saudara. Setelah satu persatu diantara kami akhirnya menikah, dengan pasangan masing-masing, kami tetap menjalin komunikasi dan hanya beberapa akhwat yang masih bisa mengikuti kegiatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merasa bukan hanya kepentingan kelompok PA yang kami bawa. Ini adalah kepentingan yang lebih besar lagi. Dalam kelompok PA ini kami membawa, melaksanakan dan mengajarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Dalam interaksi kami, sangat dijaga batas-batas komunikasi antar ikhwan dan akhwat. Dalam pertemuan rapat kami memakai hijab. Dalam perkemahan kami juga membuat camp dalam jarak yang cukup dan dalam jumlah yang banyak. Kami berusaha menjaga hijab dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab dan tata krama Islam kami bawa serta dalam setiap kegiatan. Sholat berjamaah di awal waktu, membaca Al Quran, sholat malam adalah aktivitas utama dalam setiap kegiatan kami. Kami sudah sepakat bahwa kami berdakwah melalui kelompok PA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari Vina memiliki masalah. Kami sendiri tidak mengerti tentang hal itu, yang kami tahu Vina mulai jarang mengikuti kegiatan. Kabar yang kami terima ia punya masalah dengan salah seorang teman pengajiannya, kemudian kekecewaannya ia tunjukkan dengan tidak menghadiri pengajian rutin mingguan. Hal ini sangat prinsip menurut kami, karena pertemuan ngaji mingguan adalah sarana utama kami untuk menuntut ilmu dan menjaga ruhani kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya sungguh memprihatinkan. Vina sudah mulai jarang berinteraksi dengan kami, tidak pernah datang pengajian apalagi mengisi ceramah. Dari temannya kami mendengar jilbabnya sudah tidak panjang lagi, istilahnya jilbab gaul, kami cukup prihatin meskipun masih bersyukur ia tetap memakai jilbab. Apalagi ketika kami tahu ia sudah melupakan batas-batas interaksi laki-laki dan perempuan. ia sudah mulai suka berboncengan dengan lawan jenis. Kami cukup prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, kami semua kaget. Vina berubah menjadi sesuatu yang lain bagi kami. Hampir-hampir kami tidak mengenalnya. Mana hijab kebanggaan kita itu? Vina, kapan Engkau kembali? ()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;To all member PA : Masih ingat kenangan di Simpang DAM?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-861705133064912323?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/861705133064912323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=861705133064912323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/861705133064912323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/861705133064912323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/vina-kapan-engkau-kembali.html' title='Vina, Kapan Engkau Kembali?'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-4875887330406807896</id><published>2007-09-13T00:02:00.000-07:00</published><updated>2007-09-13T00:12:14.048-07:00</updated><title type='text'>Selamat Tinggal, Teh Lies</title><content type='html'>“&lt;em&gt;Selamat ya Dhek, tadi ceramahnya bagus. Afwan, tadi Teteh cuma bisa ngambil gambarnya dari jauh&lt;/em&gt; ” kata Teh Lies sambil menyerahkan kamera kepada Aldi saat acara peringatan Maulid Nabi di sebuah Lembaga Pemasyarakatan itu usai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldi yang ditunjuk oleh teman-temannya mahasiswa Islam untuk menjadi penceramah. Aldi memang pintar pidato dan wawasannya tentang Islam cukup baik. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang alim. Dia juga rajin mengikuti pengajian mingguan. Teh Lies sering memanggil Aldi dengan panggilan Dhek. Memang usia Aldi beberapa tahun lebih muda meskipun di kampus mereka satu tingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Jazakillah&lt;/em&gt;” jawab Aldi singkat. Kemudian mereka berkumpul ke ruang sekretariat bergabung dengan pengurus LP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilis Listiyaningsih nama lengkap gadis itu. Sikapnya yang supel membuat ia banyak dikenal dilingkungan kampus. Di samping kuliah ia juga bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di kota ini. Ia aktif di berbagai kegiatan kampus, mulai dari senat mahasiswa sampai organisasi mahasiswa Islam. Ia kuliah di jurusan akuntansi namun sangat pintar bahasa Inggris. Teman-teman di kampus lebih akrab menyapanya dengan panggilan Teteh, karena dia keturunan Jawa Barat tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalannya dengan Aldi sejak beberapa waktu lalu sempat membuat mereka dekat. Aldi adalah mahasiswa satu tingkat dengannya. Anak Informatika itu memang terkenal dengan kecerdasan dan keaktifan di kampus. Selain menjabat sebagai Sekjen Senat Mahasiswa, ia juga aktif di organisasi mahasiswa Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kadang bertemu dalam rapat-rapat organisasi maupun kegiatan sosial.&lt;br /&gt;Meskipun sesekali bertemu, namun mereka lebih sering komunikasi melalui email. Aldi juga bekerja di bidang informatika sesuai dengan kuliahnya. Melalui media maya inilah mereka mulai akrab. Hampir pada setiap acara kampus mereka berdua sering tampil bersama, kadang sebagai pembicara, memberikan kata sambutan maupun menjadi MC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak acara di Lembaga Pemasyaralatan itu, Aldi merasa ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Terutama ketika bertemu dengan Teh Lies atau ada kegiatan bersama. Ketika ada kongres mahasiswa Islam di Jambi, mereka mengirim perwakilan untuk menghadiri termasuk Teh Lies. Aldi mendapat tugas untuk standby di sekretariat. Hampir setiap hari ia kirim SMS ke Teh Lies menanyakan kabarnya dan kegiatan kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ketika ia mendapat tugas membaca Quran dalam sebuah acara pengajian di kampus. Teh Lies bertugas sebagai pembaca saritilawah. Aldi merasa ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Kadang-kadang sesekali ia mencuri pandang ke arah tempat Teh Lies berada, meskipun sekedar melihat dari belakangnya. Ia seperti hafal bentuk jilbab yang dikenakan gadis itu. Meskipun tidak pernah menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keakrabannya, teman-teman di kampus sering menafsirkan bahwa mereka berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Teteh, afwan kalo saya sampaikan ini&lt;/em&gt;” batin Aldi sambil menekan tombol send di layar komputernya. Ia mengirim email kepada Teh Lies klarifikasi tentang gosip di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teteh yang dirahmati Allah.&lt;br /&gt;Bada tahmid dan sholawat,Sepertinya kita harus mulai membatasi diri dalam setiap pertemuan dan aktvfitas kampus, saya takut terkena penyakit hati dan tidak enak dengan teman-teman. Saya juga akan membatasi diri untuk tidak sering bertemu Teteh.&lt;br /&gt;Kita sama-sama mengetahui batas-batas hijab antara kita. Saya tidak ingin hal ini mengotori hati kita.&lt;br /&gt;Semoga Allah mengampuni dan melindungi kita.&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Dhek.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email itu ditulis Aldi setelah melakukan perenungan tentang apa yang ia lakukan terakhir ini. Ia seperti dibuai bunga-bunga merah jambu hingga lupa batas-batas hijab antar lawan jenis. Ya. Ia terlalu dekat dengan Teh Lies, sang Teteh itu. Dan ia menyimpulkan untuk mengakhiri semuanya. Ia tidak ingin larut dalam buain angin syetan itu. Apalagi setelah mendapat taujih dari Bang Hasan tentang Tazkiyatun Nafs, dalam kajian pekanan bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu mereka jarang bertemu di kampus dan jarang juga mereka berkirim email lagi. Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kurang lebih 2 bulan berikutnya Aldi menerima kiriman email dari Teh Lies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buat Dhek, semoga Allah merahmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Dhek telah mengingatkan, Teteh juga khilaf. Terus terang hampir saya bunga-bunga ini menjerumuskan Teteh dalam buaian dan menjadikan Teteh terperdaya. Teteh juga merasakan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Teteh ingin memperbaiki dan menata hati ini kembali. Apalagi akhir-akhir ini Teteh jarang menghadiri pertemuan pekanan, Teteh ingin kembali kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih telah mengingatkan. Semoga Allah mengampuni kita.&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Teteh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Amin&lt;/em&gt;” batin Aldi sambil merenung membaca surat elektronik itu. Ia sengaja tidak membalas email itu dan menganggapnya sebagai email terakhirnya kepada Teh Lies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tut….tut…...&lt;/em&gt; HP Aldi berbunyi. Sambil mengucap salam ia menyapa lawan bicaranya. Yadi, adik tingkatnya sedang bicara diseberang. Ia mengabarkan bahwa Teteh sedang di rumah Sakit Budi Kemuliaan, dirawat disana. Terkena sakit malaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama teman-teman kampus Aldi menjenguk Teh Lies di Ruang Cendana. Hari berikutnya teman-temannya bergantian menjaga di ruang perwatan. Karena semakin kritis, melalui pihak perusahaan mereka menghubungi orangtuanya di Tasikmalaya untuk datang kesini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi. Akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya didampingi teman-teman kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldi menerima kabar kepergian Teh Lies ketika ia masih di kantor. Dalam keadaan kaget campur sedih, ia segera datang ke rumah sakit. Ia memimpin teman-temannya mensholatkan jenazah di rumah sakit dan membacakan surat yasin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bersama yang lain membawa jenazah ke masjid Nurul Islam, tempat tinggal Teh Lies. Teman-teman sekerjanya sudah banyak yang menunggu disana termasuk manajemen perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya setelah dilakukan koordinasi dengan pihak keluarga, jenazah Teh Lies diantar oleh pihak perusahaan untuk dimakamkan di kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldi memasuki mobil yang mengantar mereka ke bandara dengan perasaan yang campur aduk. Hanya doa yang bisa ia panjatkan selama perjalan kembali ke rumah dari bandara Hang Hadim. Selamat Jalan, Teteh. Semoga Allah merahmati engkau()&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-4875887330406807896?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/4875887330406807896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=4875887330406807896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4875887330406807896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/4875887330406807896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/selamat-tinggal-teh-lies.html' title='Selamat Tinggal, Teh Lies'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-6062629555158148561</id><published>2007-09-12T23:36:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T23:38:32.450-07:00</updated><title type='text'>Jalinan Ukhuwah di Gunung Jantan</title><content type='html'>Pagi itu cahaya matahari cerah menghiasi Gunung Jantan. Puncaknya yang tidak terlalu tinggi cukup menjulang nampak tegar dan kokoh. Inilah puncak tertinggi dari tiga buah gunung yang ada di kepulauan Karimun. Hutan yang masih asli, pohon-pohon rapi berdiri berjajar. Di salah satu lerengnya terdapat sebuah perkampungan sederhana. Desa Sememal. Salah satu wilayah kecamatan Meral Kabupaten Karimun. Disanalah terdapat sebuah pondok pesantren. Dan disana sedang berkumpul sekumpulan pemuda sedang mempersiapkan sebuah acara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan Dasar Kepemimpinan. Judul acara yang membuat semangat kita menggelora. Betapa tidak, negara ini sedang dirundung kemalangan dengan krisis berkepanjangan. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang kuat. Dan disana, di desa terpencil di ujung sebuah pulau, bahkan di pulau kecil dari sekian ratus pulau di kepulauan riau ini, sedang diadakan even dengan target besar, mempersiapkan pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Mereka adalah adik-adik pelajar SLTA di pulau ini. Mereka adalah pengurus Rohis 6 sekolah SLTA disini. Sebelum ini mereka telah mendapatkan bimbingan secara reguler melalui kegiatan mentoring dengan dipandu oleh kakak mentor dari LSM yang bernama Komunitas Peduli Pemuda Muslim Shalih Cendekia (KPPM Shadik). Tanpa merasa lelah dan dengan penuh semangat pemuda yang tergabung dalam organisasi ini bekerja. Dan mereka tengah mempersiapkan acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pesantren Kenangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok pesantren ini terlalu sederhana untuk misi utamanya yang menjulang. Tempat menempa generasi muda Islam ini hanya berupa bangunan-bangunan sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Berdinding kayu, beratap rumbia. Hanya sebuah gedung kecil untuk kantor yayasan yang nampak bagus. Juga sebuah masjid mungil untuk sholat berjamaah keluarga pesantren ini. Inilah pesantren Hidayatullah kab. Karimun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sistem belajar disini sangat bagus. Anak-anak belajar ilmu umum sesuai dengan jenjang sekolahnya. Juga mendalami ilmu agama. Ada program hafalan quran, tahsin tilawah, kajian shirah, tsaqafah al islam, bahasa arab, nahu, sharaf tentu saja tidak ketinggalan kajian fiqih, tafsir, dan hadits. Setiap pagi dan sore anak-anak membaca dzikir al matsurat. Sholat berjamaah menjadi kewajiban utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lihat kondisi bangunannnya. Pemondokan santri ikhwan hanya terbuat dari susunan kayu-kayu. Dinding kayu, itupun tidak tertutup rapat. Atap rumbia dan plastik terpal yang tidak penuh menutupnya. Tempat tidur juga dipan kayu. Ada juga kasur-kasur butut yang sangat tipis dan sudah lusuh. Lemari pakaian dari kayu-kayu sederhana. Meskipun demikian ruangan pemondokan nampak rapi dan bersih. Ada sekitar 5 bangunan seperti ini. Agak jauh dari pemondokan ikhwan ada rumah ustadz, yang juga tidak lebih baik. Ada pemondokan putri yang letaknya lebih jauh ke dalam, dekat dengan lereng gunung. Ada dapur umum dan sekretariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat mandi langsung dari air sungai yang mengalir dari lereng gunung. Ada lapangan luas di tengah-tengah sebagai tempat olahraga. Di sekeliling terdapat perkebunan untuk menanam sayur, dan tanaman lain yang bermanfaat. Listrik belum ada disini. Penerangan menggunakan sebuah genset kecil sumbangan dari dermawan. Alat ini dihidupkan pada saat-saat tertentu saja. Terutama malam hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesederhanaan, pesantren ini menyimpan harapan besar. Kelak dari sini akan lahir para mujahid pejuang Islam. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Merekalah Calon Pemimpin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sholat dhuhur, persiapan sudah cukup dilakukan. Pada peserta sudah mulai berdatangan. Ada sebagian kecil yang datang menggunakan kendaraan roda 2 bersama-sama dari sekolah mereka. Sebagian besarnya ikut bersama rombongan bus yang disipakan panitia. Ada dua buah bus yang disiapkan. Satu untuk rombongan ikhwan dan satu lagi rombongan akhwat. Mereka tadi bersama-sama berangkat dari SMA 1 sebagai meeting point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus pertama membawa sekitar 30 orang remaja putra dari dan bus lainnya remaja putri dalam jumlah yang hampir sama. Mereka tampak dengan penuh semangat mengikuti acara ini. Padahal mereka mesti meninggalkan rumah dan akan tinggal di tempat yang sangat sederhana. Terbayang mereka akan tidur tanpa alas kecuali selembar tikar tipis. Namun mereka tidak mempedulikan hal itu. Mereka mulai sibuk mengikuti seluruh rangkaian acara pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai materi mereka dapatkan. Teknik komunikasi, wawasan organisasi, pembekalan kerohanian, kepemimpinan dan team building. Mereka juga diberikan games-games yang menarik sehingga dapat mengeksplorasi kemampuannya. Acara malam berupa jurit malam dengan fokus pada pembekalan aqidah, akhlaq, ibadah dan juga tsaqafah. Paginya mereka berolah raga, tracking atau hiking ke gunung jantan dan permainan simulasi kerjasama tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam Gerimis, Tahajud di Tengah Hutan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan yang tak terlupakan. Mengakhiri perjalanana malam dengan qiyamulail. Menjelang pos terakhir kami sampai di sebuah sumber mata air yang sejuk. Saat itu kurang lebih jam 03.30 wib. Mata air yang indah. Bebatuan besar bertumpuk-tumpuk menjadikan air mengalir seperti air terjun mini. Bunyi gemericiknya menyentuh kalbu. Mengingatkan kuasa Ilahi. Suasana pagi yang indah. Kami semua menikmati jernihnya air. Membasuh muka dan mensucikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sebentar sampai di sebuah tempat yang agak lapang. Kami menyusun barisan menghadap kiblat. Ustadz Syaifuddin, seorang pengajar di Hidayatullah memimpin sholat malam. Ketika takbiratul ihram, tiba-tiba langit meredup. Gerimis mengucuri seluruh tubuh kami. Basah kuyup badan dan baju kami. Namun jamaah tidak bergeming. Anugerah Allah semakin mendekatkan kami padanya. Adik-adik pelajar juga kami harap tidak merasa berat dengan situasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang subuh kami melanjutkan perjalanan. Kembali ke camp. Adik-adik terlihat menikmati perjalanan ini. Tidak ada keluh dan kesah terdengar dari mulut mereka. Bahkan mereka merasa terkesan dengan situasi seperti ini. Sungguh kenangan yang indah, bersama-sama menghadap keharibaan-Nya dalam sholat di penghujung malam, dalam suasana kelam di hutan, dalam gerimis hujan …. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kenangan Indah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di pondok, kami membersihkan badan, mengganti baju dengan yang kering, mengambil air wudhu lalu menunaikan sholat shubuh. Ustadz Qomarudin memimpin sholat subuh, lalu memberikan tausyiah yang menggugah semangat. Kajian shirah nabawiyah. Kami disuguhi cerita heroik dan penuh nilai-nilai ilahiah, seorang sahabat unggul bernama Abdullah bin Huzaifah. Utusan Rasulullah dan duta para khalifah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami melanjutkan dengan dzikir al matsurat, tilawah quran hingga pagi menjelang kami melakukan riyadhoh. Permainan sepakbola semakin menjadikan semua peserta menjadi akrab. Kakak mentor juga ikut bersama adik-adik bermain. Kelompok akhwat melakukan hiking mengikuti rute yang semalam dilalui kelompok ikhwan. Mereka juga terlihat sangat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah materi kepemimpinan, acara dilanjutkan dengan outbound. Materi team building disguhkan dengan games yang menarik. Seorang pembina senior memimpin acara tersebut. Semua peserta terlihat semangat. Mereka tertawa lebar, berlari, berbaris, bubar, membentuk lingkaran dan semua aktivitas sesuai dengan instruksi pembina. Sebuah game unik dengan menutup mata, mereka dimbing kawannya untuk menempuh rute tertentu. Kemudian bermain dengan kayu berbentuk segitiga dan melewati jaring laba-laba. Semua permainan sepertinya memang didisain sesuai dengan materi. Semuanya membutuhkan ketajaman intuisi, kepekaan, kejeliaan, kekompakan, kepemimpinan, komunikasi, kerjasama dan juga nilai-nilai pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan adalah saat paling mengharukan. Dua hari terasa begitu singkat. Hampir tak terasa acara telah pada penghujungnya. Kesan-kesan positif peserta. Pembentukan alumni pelatihan sebagai wadah komunikasi bersama seluruh rohis, diiringi dengan pemilihan ketua alumni. Haru terasa ketika bersalam-salaman. Kenangan indah begitu cepat berlalu, namun kesan akan tetap terpatri di kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung jantan masih berdiri tegak menjulang.&lt;br /&gt;Di lerengnya pernah tercipta sebuah kenangan.&lt;br /&gt;Ketika bunga-bunga ukhuwah terajut disana.&lt;br /&gt;Adik-adik itu, mereka calon pemimpin bangsa.&lt;br /&gt;Semoga persaudaraan ini akan tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karimun, &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Toek adik-adik rohis se karimun, keep in touch on ukhuwah and keep in faith. Nahnu duát, brother …&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-6062629555158148561?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/6062629555158148561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=6062629555158148561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/6062629555158148561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/6062629555158148561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/jalinan-ukhuwah-di-gunung-jantan.html' title='Jalinan Ukhuwah di Gunung Jantan'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-1849133174111109043</id><published>2007-09-12T21:47:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T21:49:15.035-07:00</updated><title type='text'>Hadza Min Fadli Rabbi</title><content type='html'>Laki-laki setengah baya itu memperhatikan dengan seksama seorang bocah berusia sekitar sepuluh tahun yang sedang serius mengikuti kajian Ramadhan di Masjid Raya Batam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tahun sebelumnya, setiap 10 malam terakhir di masjid terbesar di Kota Batam ini diselenggarakan I'tikaf bersama. Laki-laki itu salah satu peserta itikaf, sama seperti bocah kecil yang menarik perhatiannya. Setiap hari, setiap agenda itikaf ia memperhatikan anak kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa kasihan dalam hatinya. Pakaian anak itu yang sangat sederhana, cara bicaranya yang sopan dan sangat lancar juga keterlibatannya dalam setiap kegiatan di masjid itu. Dia tidak ketinggalan dalam setiap sholat jamaah, duduk bersama-sama orang yang usianya jauh di atasnya dalam kajian-kajian ilmu, dia juga tilawah dan menggunakan waktu luangnya di pagi dan sore hari untuk membaca buku di perpustakaan masjid ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap kegiatannya tidak ada yang sia-sia, atau hanya main-main sebagaimana anak seusianya. Ia sangat tekun dnegan buku yang ia baca, bahkan selalu mencatat jika menemukan hal-hal baru, lalu mengetiknya dengan komputer yang ada di perpustakaan itu. Ia juga terlihat sangat lancar memainkan keyboard dan mouse termasuk menjelajah internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan laki-laki itu mengungkapkan perasaannya kepada petugas perpustakaan masjid dan mengatakan bahwa ia memiliki anak seusia bocah itu. Dan ia sempat menanyakan bocah itu anak yatim darimana, ia terlihat sabar, cerdas dan lebih dewasa dari usianya, uangkap laki-laki itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang akan bangga jika mengasuh anak seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain ia berbicara langsung dengan bocah itu, menanyakan dimana ia tinggal. Mendengar nama Sukajadi, terbayang ia sebuah kawasan rumah liar di seberang jalan kawasan elit Bukit Indah Sukajadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari sebuah media lokal memuat tulisan tentang kegiatan itikaf Ramadhan Masjid Raya Batam, ada sebuah judul "Hadza Min Fadli Rabbi, peserta termuda itikaf MRB". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya nama bocah yang 10 hari penuh ikut program itikaf itu Hadza Min Fadli Rabbi, atau lebih sering dipanggil Fadli, ternyata ia berusia 10 tahun, siswa kelas enam sebuah SD Negeri di Batam, anak pertama dari Kepala Kantor Telekomunikasi (Kakandatel) Batam dan Riau Kepulauan (waktu itu), Ir. Arief Musta'in. Ibunya Nurul Qomariah, S.Si saat itu adalah pengurus DPW Partai Keadilan Sejahtera Propinsi Kepulauan Riau, Deputi Kewanitaan. ().&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;to : Mas Fadli, Faiz udah di Jawa sekarang, kapan kita ketemu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-1849133174111109043?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/1849133174111109043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=1849133174111109043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1849133174111109043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/1849133174111109043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/hadza-min-fadli-rabbi.html' title='Hadza Min Fadli Rabbi'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-215318710217189875</id><published>2007-09-12T21:43:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T21:46:04.012-07:00</updated><title type='text'>Memaknai Perpisahan</title><content type='html'>Malam itu pertemuan mingguan terasa sepi, beberapa orang meminta ijin karena sedang sakit, salah satunya sedang mendapat musibah. Karena ada pekerjaan yang cukup padat, Bang Hasan meminta ijin juga untuk datang terlambat dan minta kepada mas'ul untuk menjalankan acara seperti biasa. Setelah dibuka dengan tilawah, pengajian pekanan dilanjutkan dengan program seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar, salah satu anggota pengajian sedang bercerita tentang aktivitasnya menjelajah hutan dan pengalamannya hampir tenggelam terseret arus sungai. Dia menceritakan banyak ibroh yang bisa dipetik dari perjalanannya mengikuti sebuah ekspedisi yang ia ikuti bersama kelompok pecinta alam. Selanjutnya masúl menyampaikan taujih ruhiah tentang makna keberadaan kita dalam dakwah. Taujih yang disampaikan dengan dalam sangat terasa menyentuh hati yang hadir, apalagi yang disinggung masalah mihnah dakwah yang mungkin akan mereka alami, godaan-godaan yang mungkin muncul dalam perjalanan dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua masih dalam keadaan menunduk dan meresapi taujih yang disampaikan mas'ul mereka. Tausiah untuk menjaga diri dari godaan syahwat dan selalu menjaga iffah dengan menjaga hubungan dengan orang lain. Memang ini masalah klasik dan terasa pragmatis, namun karena penyampaian yang disertai perasaan yang dalam, mereka sangat memahami permasalahan yang sedang terjadi. Karena Bang Hasan belum juga datang, mas'ul memutuskan untuk menutup pertemuan itu dengan doa Rabithoh dan nanti baru dilanjutkan dengan pembicaraan santai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat ketika mereka berbincang-bincang sambil menikmati hidangan sederhana yang disediakan tuan rumah, Bang Hasan tampak datang dengan senyumnya yang khas diliputi keramahan ukhuwah. Sembari mengucap salam beliau menyalami yang hadir satu persatu dan menanyakan yang tidak hadir. Bagi kelompok ngaji ini Bang Hasan sudah dianggap sebagai abang sendiri bahkan menjadi bapak asuh mereka. Memang usia mereka tidak terpaut jauh dengan Bang Hasan namun kekuatan ruh yang menjadikan pancaran wajahnya memiliki karisma tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Bang Hasan menyampaikan beberapa ta'limat yang ia bawa dari lembaga dakwah mereka dan beberapa ta'limat lainnya. Setelah itu ia menceritakan bahwa ia akan segera pindah dari kota ini karena panggilan tugas. Memang pertemuan pekan sebelumnya beliau pernah menceritakan kabar tentang perpindahan tugasnya dan pertimbangan jangka panjang kenapa ia tetap memilih menekuni karier sebagai pegawai negeri. Dan perpindahan tugas ini adalah untuk kepentingan dakwah jangka panjang sekaligus untuk memupuk profesionalisme dalam pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua wajah tertunduk sayu, tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka. Ketika Bang Hasan melanjutkan pembicaraaan bahwa mungkin perpindahan ini akan lebih cepat dari yang diperkirakan karena tuntutan pekerjaan yang sudah menunggu di tempatnya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menceritakan perasaannya ketika baru pindah ke kota pulau ini. Tantangan dan rintangan yang ia hadapi disini, termasuk juga kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah sebagai rahmat dan berkah dari dakwah ini. Keberadaan kondisi dakwah di kota ini yang demikian menantang dan keinginan beliau untuk (sebenarnya) ingin berbuat lebih banyak bagi dakwah di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir di ruangan semakin tampak menahan kesedihan. Biar bagaimanapun kebersamaan mereka dengan Bang Hasan telah menumbuhkan semangat hidup yang baru dalam diri  mereka. Bagi mereka Bang Hasan adalah profil sahabat yang bisa diajak berkeluh kesah dan bertukar cerita. Teman yang selalu menampakkan keceriaan dibalik keadaannya yang tidak berkecukupan bahkan boleh dibilang sangat sederhana. Ya kesederhanaan Bang Hasan tidak melunturkan kemuliaan perilaku dan akhlaq. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka Bang Hasan adalah sosok murobbi yang telah membimbing mereka, memberikan motivasi, memberikan solusi kongkrit terhadap permasalahan yang mereka temui di medan dakwah. Taujih yang diberikan selalu tepat dengan kondisi yang sedang dihadapi mad'unya. Sepertinya ia memang berbicara dengan bashiroh bukan hanya sekedar ucapan bibir semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka Bang Hasan juga seorang bapak yang memberikan keteduhan dan kenyamanan. Yang mampu mengiringi langkah mereka dalam membuat kreativitas dakwah. Memberikan support penuh, pengarahan dan wejangan penuh makna. Beliau sering membentuk kelompok-kelompok kajian baru dan setelah jadi diberikan kepada kami untuk melanjutkan pembinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Hasan juga adalah sosok guru yang memiliki bekal kelimuan yang kokoh. Beliau tidak pernah pelit dengan ilmunya dan selalu terbuka terhadap kritik dan saran dari temannya bahkan dari mad'unya. Dia juga sosok mubaligh yang siap siaga menerima panggilan dakwah. Jarang atau bahkan mungkin hampir tidak pernah mengeluh dengan kekurangan yang ia terima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua perasaan itu menggelayut jadi satu dalam benak Umar, Zain, Husin, Arif dan teman-teman lainnya yang masih tertunduk dalam kesedihan. Apalagi ketika Bang Hasan menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan atau juga keluarganya berbuat kesalahan kepada kami, beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya. Segumpal air sebenarnya telah memberati mata ini dan tinggal menunggu saat tercurahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan yang terjadi memang terasa begitu cepat, dan diluar perkiraan mereka. Namun jika Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin. Pertemuan dan perpisahan adalah sunatullah dan itu juga menjadi sunah dakwah. Apalagi di kota yang dinamis ini, perpindahan dan pergantian kader terasa begitu cepat. Tergantung bagaimana kita memberikan makna pada perpisahan itu. Akankah kita meninggalkan kesan baik yang dalam bagi orang-orang yang kita tinggalkan atau kepergian kita akan biasa-biasa saja atau bahkan justru kepergiaan kita akan membawa kesenangan bagi orang karena telah terbebas dari kedzoliman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan menahan tangis mereka pun saling berpelukan dengan erat. Kata Bang Hasan mungkin ini adalah pertemuan mingguan terakhir bagi mereka, namun bukan perpisahan untuk selamanya, Insya Allah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Persembahan : &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk sahabat kami Willy dan keluarga, selamat berjuang di tempat yang baru. Semoga Allah memberikan berkah pertemuan kita dan menjadikan perpisahan ini sebagai pembawa ikatan ukhuwah&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masúl  :  ketua kelompok&lt;br /&gt;Murobbi : Pembimbing&lt;br /&gt;Taujih  : nasihat&lt;br /&gt;Ta’limat : pemberitahuan&lt;br /&gt;Madú : objek dakwah/peserta pengajian&lt;br /&gt;Bashiroh : pandangan dari dalam hati&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-215318710217189875?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/215318710217189875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=215318710217189875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/215318710217189875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/215318710217189875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/memaknai-perpisahan.html' title='Memaknai Perpisahan'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-8495819842795371354</id><published>2007-09-12T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T21:07:00.636-07:00</updated><title type='text'>Ekspedisi BAC "Dari Kegelapan Menuju Terang"</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sei Ladi, Sekupang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian kegiatan "Bulan Konsolidasi" yang dilakukan BAC selama bulan Februari ini, Tim Ikhwan BAC kembali turun rimba mengadakan perjalanan yang diberi titel LABS atau Lets go Adventure, be Survive ! Dan LABS kedua ini mengambil tempat di belantara Sei Ladi dengan daerah tujuan Simpang Dam Muka Kuning. LABS 2 ini sekaligus menjadi kelanjutan LABS 1 yang diadakan di Pulau Setoko dua pekan lalu (baca : Di Pantai-Mu Kami Bersujud).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena rencana perjalanan dilakukan mulai senja hari sampai siang hari berikutnya, maka dengan diilhami oleh ayat Al Quran surat Al Baqarah ..."minadzdzulumaati ilannuur" tema LABS 2 ini diberi judul "Dari Kegelapan Menuju Terang". Inti dari perjalanan kali ini adalah disamping mencari pengalaman baru, lahan baru, ketrampilan baru juga yang lebih pening adalah mendalami ayat-ayat Allah yang terbentang luas di sekeliling kita. Maka jika sebelumnya kita belum memahami ayat-ayat Allah tersebut, dengan perjalanan ini diharapkan dengan melihat keindahan ciptaan-ciptannya, kita merasakan Keagungan Penciptanya. &lt;br /&gt;Betapa luas kerajaan Allah dan betapa besar kekuasaannya. "Dan kepunyaanNyalah siapa saja yang ada di langit dan dibumi. Semuanya hanya kepadaNya tunduk." (QS. 30:26).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dimulai Dari Masjid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siang itu matahari masih bersinar cerah, serombongan pemuda berbaju pengembara berkumpul di halaman Masjid di kawasan elit Bukit Indah Sukajadi. Mereka mengenakan seragam biru-biru, mengenakan topi dan slayer yang juga berwarna biru. Ekspedisi kali ini yang dikomandani Akh Anto memang akan diawali di masjid baru ini. Masjid yang cukup megah dan nampak baru selesai dibangun ini masih kelihatan sepi. Tim BAC yang sedang berkumpul saling mengecek perbekalan, mengemasi tas, berbagi kantong plastik dan beberapa diantaranya mencari bahan makanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang LABS kali ini direncanakan akan mengarungi medan yang cukup berat sekaligus ajang latihan survival, maka persiapannya pun dilakukan dengan sedemikian matang. Komandan lapangan tampak melakukan inventarisasi perlengkapan. Peta kontur, kompas, ponco, parang, pil kina, antibiotik, lampu badai, tali temali, plastik, tali rafia dan perbekalan lainnya. Sambil menunggu waktu sholat Ashar tiba, mereka masih sibuk mengemasi barang-barang kembali, saling mengingatkan antar sesama ikhwah dan ada yang masih sibuk memotong-motong tali rafia buat tanda rute yang dilalui nanti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah masuk waktu Ashar, anggota tim bersiap-siap melakukan sholat Ashar berjamaah di masjid, bahkan sempat membuat heran Ustadz Rifai yang menjadi Imam Masjid, karena beliau tidak asing dengan wajah-wajah kita, kok hari ini tiba-tiba berpakaian seperti layaknya seorang pecinta alam. Dan kita sampaikan bahwa kita akan rihlah ke hutan .... Usai sholat mereka berkumpul melingkar di halaman masjid. Ada delapan orang yang berkumpul disini dan menurut rencana satu orang akan menyusul ke pinggiran jembatan Sei Ladi. Sambil berdiri melingkar, komandan memberikan taujih singkatnya sekaligus memimpin untuk berdoa. Setelah berpose di depan masjid, mereka memulai perjalanan short march menuju Jembatan Sei Ladi. Ya mereka berjalan kaki dari masjid sukajadi menuju jembatan yang kurang lebih berjarak 5 km.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kembali ke Rimba&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan kaki kali ini memang tidak sejauh long march ketika latsar dan juga tidak terlalu istimewa bagi para pejuang dakwah seperti tim ini, namun ada catatan menarik yang bisa dipelajari dari perjalanan ini. Suasana panas disore hari yang bercampur dengan asap kendaraan bermotor terasa menusuk hidung sedikit mengganggu pernapasan. Ada lagi sikap dan pandangan 'aneh' yang diperlihatkan orang-orang di sepanjang perjalanan, begitu pula orang-ornag yang melihat dari dalam kendaraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika memasuki area dam Sei Ladi, kami dikagetkan sesosok tubuh pemuda berpakaian coklat yang tidak asing bagi kami, nampak dari kejauhan dia duduk seorang diri di pinggir jembatan dan semakin dekat kami lihat bahwa dia sedang makan nasi bungkus. Lebih dekat lagi, dengan senyum sapa dan salam yang khas orang tersebut menyapa dan menyalami kami, ternyata dia adalah salah satu dari tim yang tidak bisa bergabung dari awal karena pekerjaannya, maka ia baru bisa bergabung di tengah jalan. Itupun setelah berusaha mengejar dan malah baru sempat makan beberapa suap nasi. Dan setelah menyelesaikan makannya beliaupun segera bergabung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tempat yang telah ditentukan telah menunggu beberapa orang dari tim instruktur yang sengaja kita undang untuk membagi ilmu 'ke-adventure-annya' kepada kita. Setelah bersalam-salaman, berkenalan secukupnya dan terlihat komandan sedang melakukaan koordinasi maka tim langsung melanjutkan perjalanan ke dalam hutan.&lt;br /&gt;Tim pun diberi intsruksi untuk bekal sepanjang perjalanan ke hutan. Kami diberi nama panggilan khusus dengan angka-angka sesuai dengan urutannya. Dan kembali sebelum memasuki hutan tim meneriakkan yel-yel dan bertakbir bersama untuk menambah semangat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu perjalanan dilanjutkan, memasuki kembali hutan belantara di kawasan Sei Ladi ini seperti mengingatkan perjalan-perjalanan kita terdahulu. Baik yang ikut dalam Tour de Sei Ladi 1, Tour de Sei Ladi 2 maupun yang pernah ikut evakuasi tim Pramuka yang tersesat beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;Sejuta rasa dan pikiran menggelayut di benak masing-masing seiring dengan perjalan mendaki bukit, menuruni lembah, melintasi sungai dan saling bergandengan membantu melompati parit kecil yang ada di lintasan perjalanan sore itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Camping Ground&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari mulai gelap seiring dengan perjalanan sang mentari menuju peraduannya. Lampu senter mulai dikeluarkan dan tepat memasuki waktu magrib tim tiba di pinggiran sebuah sungai yang cukup luas. Di seberang nampak bukit batu yang cukup terjal menjulang ke atas. Air sungai di depan terlihat tenang dan kedalamannya pun diperkirakan tidak lebih dari 2 meter. Komandan menginstruksikan untuk berhenti di tempat ini dan kita akan melakukan sholat magrib dan sekaligus kita akan bermalam ditempat ini. Meski baru berjalan di hutan kurang lebih 1,5 jam namun perjalan mendaki dan menuruni bukit terasa cukup menguras tenaga. karena itu dengan istirahat malam ini diharapkan tim akan kembali menemukan kondisi fit untuk melanjutkan perjalanan esok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Langsung saja masing-masing melakukan kegiatannya. Karena waktu magrib telah tiba, maka semua bersiap mengambil air wudhu. Tidak jauh dari camping ground terdapat sungai yang mengalir dengan air yang sangat jernih. Dibalik bebatuan cadas itulah kami mengambil air wudhu dan membersihkan badan secukupnya. Selanjutnya semua terbenam dalam khusyuknya sholat di tengah belantara ini. Jika sebelumnya pernah sholat diatas hamparan pasir panas di pinggiran pantai di Pulau Setoko, maka sekarang semuanya merasakan sunyinya hutan belantara dan tenangnya air sungai, larut dalam ketundukan pada kekuasaan Ilahi Rabbi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegiatan selanjutnya adalah membuat bivak, sebagian lainnya mencari kayu bakar untuk memasak dan sebagian lagi menyiapkan api. Semua dilakukan dengan cepat dan sebelum waktu isya tenda pun sudah berdiri, dan acara dilanjutkan dengan menyiapkan malan malam seadanya dan sholat Isya. Katika itu hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Namun sempat reda beberapa saat setelah sholat Isya dan aktivitas memasakpun dilajutkan.&lt;br /&gt;Memang tidak diadakan acara-acara khusus lainnya malam itu karena diharapkan kondisi fisik kita akan tetap fit mengingat perjalanan esok akan sangat membutuhkan stamina yang cukup kuat. karena itu agenda malam itu hanya istirahat dan melakukan perenungan terhadap kondisi alam saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hujan di Malam Itu.....&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baru beberapa saat merebahkan diri di dalam tenda dan beberapa orang lainnya masih sibuk membuat air hangat, tiba-tiba hujan mulai turun kembali. Memang awalnya masih gerimis dan itu juga tidak begitu mengganggu kita. Bahkan ketika sholat Isya pun masih dalam keadaan hujan gerimis. Semua aktivitas masih dijalankan. Namun makin lama hujan deras dan untuk menga agar suhu badan tetap stabil semua tim diwajibkan berganti pakaian, mengganti pakaian basah mereka dengan pakaian yang kering.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu semua masuk ke dalam bivak untuk berisitirahat. Tenda yang dibuat dari sepotong terpal itu terasa sempit untuk dipakai sembilan orang, sehingga mau tidak mau harus berhimpit-himptian. Meskipun demikian suasana ukhuwah dan ikrom tampak terasa. Ada yang merelakan tubuhnya jadi bantal saudaranya, ada yang kebagian diujung tenda dan ada juga yang kakinya jadi sandaran yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semakin malam hujan semakin deras dan hujan lebat ketika memasuki tengah malam, kami pun harus menyesuaikan posisi agar tidak kehujanan. Akhirnya tidurpun tidak bisa membentangkan kaki, agar semua masuk ke dalam tenda terpaksa semua orang tidur sampil meringkuk, bahkan sebagiannya malah kakinya direlakan untuk terkenal air hujan. Dingin yang menyelimuti suasana hutan malam itu semakin dingin dengan derasnya air hujan. Kami pun menambah selimut dan mengeratkan jaket yang kami pakai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan karena masih dalam keadaan hujan pula rencana melakukan qiyamul lail dibatalkan mengingat kondisi yang terlalu berat untuk dilakukan. Kami malam itu relatif singkat istirahatnya karena masih disibukkan oleh air hujan yang makin lama makin deras dan mulai memasuki area tenda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada Mahluk Aneh?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam dinginnya malam kami dikagetkan oleh tingkah laku seorang teman yang tiba-tiba bangun dan mengibaskan bahunya ke kiri dan kekanan sambil bilang ada mahluk, ada mahluk.&lt;br /&gt;Kami semua terbangun dan mendengarkan cerita ikhwan tersebut. Menurut beliau, ada seekor mahluk yang beliau nggak yakin jenis mahluk apa, tiba-tiba menclok di pundaknya dan mengendus-endus telinganya. Ketika ia terbangun dia lihat bayangan mahluk tersebut lebih besar dari tikus dan lebih kecil dari seekor anjing. Warnanya hitam dan sepertinya makan sambil mengerat karena sempat mengerat jaket di pundaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allahu alam jenis mahluk apa itu, namun yang jelas esok paginya beberapa makanan yang sempat ditaruh di pinggir tenda hilang pagi harinya .......&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengarungi  Arus Sungai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Esok paginya setelah sholat subuh dan membaca al ma'tsurat bersama-sama, kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Segera komandan memerintahkan untuk berkemas-kemas, membersihkan badan dan berganti baju dengan pakaian basah sebelumnya, menyimpan seluruh peerbekalan dalam kantong plastik dan mengikatnya dengan erat karena kita akan melanjutkan perjalanan melalui sungai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tempat kemah sudah bersih, semua telah siap dengan perlengkapan masing-masing. Tepat jam 8 perjalanan dilanjutkan kembali. Sebelumnya masing-masing orang melakukan push up dan kembali diberikan taujih oleh komandan tentang peraturan perjalan kali ini. Aturan yang ditetapkan misalnya makan dan minum harus bersama-sama dan sesuai instruksi komandan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian satu pesartu tim melemparkan tasnya ke tengah sungai untuk menguji apakah bisa terapung atau tidak. Lalu orangnya terjun ke tengah menggunakan tas tersebut sebagai pelampung. Setelah semua melempar tas dan semuanya sudah masuk ke dalam sungai, perjalanan dilanjutkan melalui sungai dan melawan arus. Ketinggian air 1-2 meter dan arusnya lumayan deras. Semuanya berjalan menyusuri sungai dan hanya berpegangan pada tumbuh-tumbuhan di sekitar sungai. Arus yang deras dan bebatuan licin di dasar sungai menambah beratnya perjalan ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kurang lebih 45 menit menyusuri sungai terasa begitu menguras tenaga, satu dua orang nampak berusaha kuat melawan arus dan beberapa kali terseret kembali ke tengah sungai. Kadang harus melompati pohon yang melintang di depan, kadang juga harus menyelam melewati pohon serupa dan berbagai rintangan lainnya. Namun syukurlah semua berhasil melalui rute pertama ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tantangan berikutnya adalah menyeberang dengan tali melalui sungai dengan kedalaman 2-3 meter. Jarak penyeberangan sekitar 10 meter. Dan alhamdulillah rintangan ini juga berhasil dilalui oleh seluruh tim dengan baik. Semua masih lengkap dengan seluruh perlengkapan masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;br /&gt;Mounteneering&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelajaran berikutnya adalah membaca peta dan menggunakan kompas. Instruktur memberikan pelajaran singkat tentang pemakaian kompas dan membaca peta kontur. Setelah itu tim disilakan melanjutkan perjalanan dengan modal kompas dan peta tersebut. Kembali perjalanan penjang menempuh medan yang menantang harus dilalui tim ekspedisi ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mendaki bukit dan menuruni lembah menjadi perjalanan berikutnya. Lebih dari 2 jam tim ini harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencari tute keluar dan tidak lupa petugas pemberi tanda memasang tanda-tanda yang telah disipakan. Hujan masih turun meski tidak begitu deras dan dengan demikian jalanan yang harus dilalui juga menjadi licin ditambah lagi beban yang menjadi lebih berat akibat tas dan pakaian yang menjadi basah kuyup. Sampai akhirnya tim ini memenukan rute yang umum dipakai dan sudah tersedia tanda-tanda perjalanan sehingga kita tinggal mengikuti arah yang sudah ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selepas dhuhur tim ini sampai dipuncak sebuah bukit yang terbuka dan sudah nampak pemandangan di sekitar simpang dam, gedung-gedung pabrik batamindo dan dam muka kuning sudah terhampar di hadapan. Komandan mengijinkan untuk membuka perbekalan dan minum dan makan makanan yang masih ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah istirahat beberapa lama dan tenaga sudah cukup pulih, maka perjalanan dilanjutkan menyusuri hamparan bukit dan sawah. Bahkan tim juga harus menuruni tebing berbatu cadas yang sangat licin. Kehati-hatian dan perhitungan yang matang ditunutut untuk dapat menuruni tebing ini. Hingga semua selesai menuruni bukit dan sempat berfoto sejenak dengan background kawasan BIP tim melanjutkan perjalanan menuju sebuah danau kecil Disanalah kami menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Senangnya hati tertumpahkan dalam rasa syukur telah diberikan jalan keluar dari lebatnya hutan belantara.&lt;br /&gt;Segarnya air danau diwajah ini, menyatu dalam nuansa karunia dan nikmat Allah yang memberikan pengalaman berharga dalam perjalanan kali ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makan di Salero Basamo ...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan menutup perjalanan kali ini setelah menyusuri pinggiran dam muka kuning, tim memasuki kawasan pemukiman simpang dam. Saat itulah muncul ide untuk istirahat dan makan siang bersama di warung padang ... Nikmati pedasnya sambal setelah 2 hari kedinginan di dalam hutan, subhanallah ....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya hikmah dan pelajaran sangat berharga mengiringi perjalan ini, syukur dan puji pada Yang Kuasa hanya bisa kami pnajtakan betapa luas dan besarnya kekuasaan Allah. Sampai bertemu pada ekspedisi berikutnya.&lt;br /&gt;(sei ladi, februari 2003)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-8495819842795371354?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/8495819842795371354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=8495819842795371354' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8495819842795371354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8495819842795371354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/ekspedisi-bac-dari-kegelapan-menuju.html' title='Ekspedisi BAC &quot;Dari Kegelapan Menuju Terang&quot;'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-5966502302458830471</id><published>2007-09-12T21:02:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T21:03:18.876-07:00</updated><title type='text'>Di Pantai-Mu Kami Bersujud (Kenangan Perjalanan BAC)</title><content type='html'>Pagi itu cuaca cerah meski rintik-rintik hujan masih terlihat disana-sini. Cahaya matahari pagi terlihat dibalik atap-atap gedung pabrik di kawasan Muka Kuning setelah beberapa hari sebelumnya hujan tak henti-henti mengguyur kota ini. Masjid Nurul Islam masih terlihat sepi dan aktivitas belum begitu banyak kecuali beberapa petugas yang sedang membersihkan rumah ibadah itu. Terlihat sekelompok pemuda berseragam biru-biru berpakaian pengembara sedang berkumpul di salah satu bagian halaman masjid. Yang kelompok laki-laki dengan celana rimba, kaos biru, tas punggung, topi dan perbekalan lainnya. Di bagian lain yang agak jauh tampak satu kelompok akhwat dengan pakaian biru-biru dengan jilbab panjang dan juga tas punggung berukuran agak besar. Mereka adalah Tim BAC yang ahri itu akan mengadakan perjalanan untuk melakukan survey mencari lahan baru buat aktivitas outbound yang telah mereka tekuni setahun terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian tampak sebuah mobil van menghampiri, seluruh kelompok akhwat memasuki mobil tersebut disertai 2 orang ikhwan yang duduk di depan. Kelompok ikhwan lainnya tampak mengiring dengan mobil lainnya. Sampai kurang lebih 40 menit perjalan sampailah mereka di tempat yang dituju. Sebuah pesantren sederhana di pinggiran Pulau Setoko. Setelah bersilaturahim dengan pihak pesantren dan menyampaikan maksud mereka maka serombongan aktivis pecinta alam inipun menuju pantai dan memulai aktivitasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Senam Pembukaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memulai aktivitas hari itu, sebagaimana lazimnya acara-acara yang dilakukan ikhwah pada umumnya, koordinator lapangan memulai dengan upacara pembukaan. Acara dilakukan di pinggir pantai yang indah. Masih terlihat serombongan nelayan yang sedang membersihkan jaring di atas perahunya. Korlap membuka dengan membaca basmalah, dan tampak salah seorang ikhwan membaca beberapa ayat al quran yang mengingatkan peserta akan besarnya nikmat Allah. Setelah itu korlap menyampaikan taujihnya tentang tujuan kegiatan hari ini, target yang hendak dicapai dan jadwal kegiatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu dilakukan senam peregangan dan pemanasan agar otot mereka siap diajak untuk menjelajah alam hari ini. Yang lain juga tampak melakukan gerakan dengan sungguh-sungguh meski dalam suasana santai. Senam dikahiri dengan push up masing-masing anggota regu dan ditutup dengan peregangan otot-otot persendian.&lt;br /&gt;Setelah senam selesai makan korlap membagi kelompok menjadi beberapa bagian. Ada tim raniders yang mencari jalur, ada tim pemetaan, ada tim pemasang tali, ada tim p3m dan ada tim penyisir. Kemudian mereka mulai bergerak memasuki hutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gagal menyeberang sungai&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baru beberapa meter memasuki hutan ternyata tim mentok melihat jalur yang ada yang terlalu susah untuk dilewati. Alternatif lain adalah menyeberang sungai yang melintas di pinggir pantai. Beberapa orang ikhwan mencoba berenang menyeberang sungai dan menguji kedalaman sungai. Namun ternyata arus sungai sangat deras. Setelah dicoba berkali-kali ada juga yang berhasil menyeberang. Dan setelah dicoba beberapa orang semua mengambil kesimpulan bahwa arus sungai terlalu deras untuk dilalui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah dipertimbangkan berbagai hal akhirnya diputuskan bahwa perjalanan dilanjutkan dengan menyisir pinggiran sungai. Beberapa orang ditugasi lewat dalam sungai beberapa orang mencari jalan di pinggiran sungai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah tragedi ..........&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada saat mencoba menyeberang sungai itulah salah seorang ikhwan yang tidak begitu mahir berenang mencoba menyeberang dan mulai berenang. Awalnya masih bisa mengendalikan diri karena di pinggiran sungai airnya masih dangkal, namun setelah agak ke tengah ternyata arus sungai bertambah deraas ia tidak dapat mengendalikan berat tubuhnya dan hampir saja ia tenggelam ke sungai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan sigap beberapa ikhwan langsung membantu dan mengangkat kembali tubuh ikwah tersebut, dan alhamdulillah ia dapat tertolong dan diselamatkan dari karam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cross Country  ..... Menikmati Indahnya Ciptaan Allah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah dicoba memsuki hutan melalui pinggiran sungai akhirnya sedikit demi sedikit tim menemukan jalan, semua bekerja kembali sesuai tugas masing-masing. Tim akhwat bertugas memberi tanda pada jalan. Ada yang bertugas menyingkirkan duri-duri dan batang-batang kayu yang merintangi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rute yang dilalui kali ini memang sangat bervariasi dan menantang. Pertama kali memasuki hutan tim dihadapkan dengan hutan bakau yang banyak durinya. Ditambah lagi adanya parit-parit kecil yang menghias sepanjang perjalanan. Inilah yang membuat tim ini harus lompat ke sana kemari mencari rute, memanjat akar-akar bakau, menyusup ke balik-balik pohon berduri atau harus menggelantung pada ranting-ranting untuk melewati sungai kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keluar dari hutan bakau tim bertemu dengan ladang yang masih dalam kawasan pesantren, kemudian melintasi sebuah jalan yang baru dibuat. Jalanan ini masih berupa tanah berpasir. Sampai di tanah lapang tim berhenti sejenak untuk beristirahat dan saling bersendau gurau. Salah satu dari mereka menceritakan sebuah games perang-perangan yang tentu akan seru jika dipraktekkan. Yang lain lagi menceritakan pengalamannya ketika mengikuti sebuah acara perang-perangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah cukup beristirahat, minum dan makan kue secukupnya tim ini pun melanjutkan perjalanan. Dari tanah lapang itu mereka naik ke atas bukit. Melintasi bukit yang cukup tinggi, nampak pemandangan yang sangat indah. Dari atas bukit itu terlihat pemandangan pantai di sekitar pulau setoko. Pantainya yang indah dengan lekuk-lekuk yang menawan. Di seberang terlihat pulau-pulau kecil dengan hijau pohon-pohon di atasnya. Cahaya matahari yang semakin meninggi menambah indahnya pemandangan itu. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa. Betapa indahnya ciptaaan Allah dan betapa sempurna Ia menciptakannya. Sungguh, dibalik penciptaan ini terlihat tanda-tanda kekuasaanNya  yang Sempurna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kehilangan Jejak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai di puncak bukit tampak sebuah bangunan yang tidak selesai dibangun. Sampai disini tim sempat terpisah. Tim pertama sudah hilang dari pandangan dan tanda jejak pun tidak ketemu. Setelah dicari-cari kesana-kemari akhirnya didapatkan tanda jejak di salah satu ujung jalan yang mengarah ke hutan kembali. Tim kedua akhirnya membuat jalur untuk menyambungkan kedua titik jalur ini sampai bertemu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melanjutkan perjalanan ternyata semakin seru. Memasuki hutan kembali, menyusuri lereng-lereng cukup terjal dan ternyata berujung ke laut. Dan mau tidak mau harus berbasah-basah lagi menyisiri pinggiran laut dengan batu-batu cadasnya. Tinggi air mencapai pinggang dan batu karang di pinggiran laut menambah asyiknya perjalanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rute berakhir kembali di tempat pemberangkatan semula dan ternyata kelompok terdahulu sudah asyik berenang di laut. Dan akhir ekspedisi ini kedua tim berenang di laut, berlompatan, salto dan pokoknya happy.  Agak jauh dari tempat itu akhwat juga tidak mau ketinggalan turut menikmati indahnya laut dan belajar renang atau ... sekedar jatuh bangun ke dalam air laut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sholat Beralaskan Pasir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memasuki waktu dzuhur tim menghentikan aktivitas renangnya dan mencari tempat yang agak datar di pinggir laut. Kebetulan ada semacam teluk kecil berselimut pasir. Adzan dan iqomat pun dikumandangkan dan kami semua larut dalam kekhusukan sholat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang membawa ponco memanfaatkan untuk menjadi alas, namun ada juga yang memilih sholat di atas pasir. Hangatnya pasir di bawah terik matahari tidak membuat ragu untuk sholat, justru kenikmatan yang luar biasa ketika dahi dan telapak kaki menyatu dalam hangatnya pasir putih di tepi pantai. Terasa sangat keagungan Allah dan betapa besar kekausaannya. Saat itulah terasa betapa kecilnya manusia, sekecil butiran pasir yang ada di sekeliling kami. Kami tahu bahwa pasir dan air yang ada di sekeliling kami, Allah menghitung dengan pasti, bagaimana mungkin ia akan lalai dengan dosa-dosa kami?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam derai khusyuknya sholat tanpa terasa air mata kami pun menetes bersama deraian angin dan debur gelombang di pantai Setoko ....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makan Siang di Tengah Laut, Beralas Pasir Beratap Matahari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah sholat shuhur kami pun membentuk lingkaran di sebuah lokasi berpasir yang di kelilingi air laut. Pulau pasir kecil itulah yang membawa kenangan manis saat kami makan siang dengan perbekalan yang kami bawa. Nasi putih dengan sedikit sayur tumis, sambal, tahu dan sedikit telur. Sangat terasa nikmatnya karunia Ilahi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski beralaskan pasir yang masih panas, disinari matahari di siang hari, seteguk air terasa begitu nikmatnya, menghilangkan dahaga menyejukkan sanubari. Perut yang lapar kini terisi secukupnya, kami siap melanjutkan agenda berikutnya ....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penyeberangan Basah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih penasaran dengan kegagalan menyeberangi sungai di pagi tadi, beberapa ikhwan mencoba menyeberang kembali. Melalui perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya kami berhasil mencapai seberang sungai dan dengan tali secukupnya kami mempersiapkan atraksi penyeberangan basah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah dicoba beberapa kali dan dipandang aman, tim akhwat dipersilakan mencoba menyeberang dengan berpegangan tali. Meski arus sungai masih tetap deras, dengan tekad, keyakinan, tawakal dan juga persiapan pengamanan yang berlapis, akhirnya tim akhwat satu persatu melakukan penyeberangan. Hingga seluruhnya kembali ke tempat semula. Bersyukur tidak ada sesuatu yang membahayakan pada atraksi ini. Kami pun senang karena telah mendapat pelajaran yang sangat berharga pada hari ini.&lt;br /&gt;Dan kami telah mendapat pertolongan atas apa yang kami hadapi hari ini. Tetap semangat tim BAC, Intansurullahi yansurkum ... wayusabit aqdamakum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setoko, 1 Feb 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-5966502302458830471?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/5966502302458830471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=5966502302458830471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5966502302458830471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5966502302458830471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/di-pantai-mu-kami-bersujud-kenangan.html' title='Di Pantai-Mu Kami Bersujud (Kenangan Perjalanan BAC)'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-8499813459626308457</id><published>2007-09-12T20:58:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T21:00:16.505-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nongsa'/><title type='text'>Cuma Kena Kaki</title><content type='html'>Senja menyelimuti pantai Nongsa. Perahu nelayan bersandar di dermaga kayu sederhana. Warga pesisir timur kota pulau ini mengingatkan masa lalu bangsa ini. Bangsa pelaut. Mereka memulai kesibukan menjelang malam. Anak-nak mulai menyelesaikan permainannya dan melangkah pulang. Beberapa orang terlihat berjalan menuju masjid sederhana yang berdiri di pinggir laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Firdaus membelokkan mobil charade model lama yang kami tumpangi menuju salah satu hotel tua yang tidak dipakai lagi. Lokasi inilah yang dipilih untuk acara mabit malam ini. Karena letaknya yang bagus, di pinggir pantai dan murah, karena bekas resor yang tidak terpakai lagi… jadi hanya memberikan uang saku kepada penjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kurang lebih 40 orang yang hadir pada acara malam itu. Pembicaranya datang dari Pekanbaru. Pesertanya datang dari beberapa daerah di wilayah Batam dan Bintan. Meskipun dari tempat yang berjauhan mereka tampak akrab satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di lokasi, wajah-wajah ramah menyapa dengan senyuman khas. Saling bersalaman dan berangkulan dengan erat. Saat itu aku merasakan indahnya persaudaraan. Persaudaraan hakiki karena ikatan iman. Meskipun kami belum kenal sebelumnya tapi baru bertemu sudah sedemikian akrab. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya ikatan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat berjamaah, kami menikmati malam makan sederhana yang disiapkan panitia. Nasi bungkus dengan lauk beberapa potong untuk bersama-sama. Dua bungkus nasi dimakan bertiga. Kami semua membentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan duduk saling berhadapan. Menikmati makan malam sederhana dengan kebahagiaan yang luar biasa. Sungguh nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz menyampaikan ceramahnya tentang kemuliaan orang-orang yang beriman. Bahwa mereka tidak perlu bersedih dan cemas jika mereka termasuk orang-orang bertakwa. Pesan yang disampaikan dengan penuh kelembutan dan sangat menyentuh perasaan. Kami semua menyimak dengan seksama dan memahami apa yang disampaikan oleh Ustadz yang berumur setengah baya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara berikutnya yang paling mengharukan. Pemutaran film dokumenter tentang tragedi Ambon. Saat itu memang sedang berkecamuk sengketa antar agama yang terjadi di kepulauan para raja itu. Film yang membangkitkan semangat solidaritas kepada sesama muslim yang sedang mendapatkan musibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terharu ketika melihat tumpukan mayat-mayat di sebuah masjid yang dibakar. Kemudian ditayangkan upacara pemberangkatan pasukan jihad di Masjid Al Fatah. Tampak berbagai kalangan, berbagai usia, tua-muda mereka berbaris rapi mendengarkan taujih dari panglima. Hatiku semakin meronta ketika adzan dikumandangkan tanda bahwa pasukan akan segera diberangkatkan. Air mata tidak terbendung ketika melihat beberapa pasukan wanita yang menenteng senjata. Bahkan ada seorang anak kecil yang berada dalam barisan yang sama. Rasanya diri ini ingin beranjak dan masuk dalam barisan pasukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ditayangkan bagaimana pasukan berangkat, berjalan kaki, naik kendaraan apa adanya kemudian naik kapal menuju pulau lain. Teriakan takbir berkumandang dimana-mana. Sungguh tontonan yang mengharu biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari kami menikmati syahdunya malam dalam indahnya qiyamul lail. Ustadz melantunkan beberapa bagian dari ayat-ayat surat An Anfaal dengan bacaan yang menyayat hati. Semakin lama hatiku semakin terbawa dalam alunan bacaan sang imam. Apalagi ketika sampai ayat :&lt;br /&gt; Yaa ayyuhaladzina amanu ..idza lakitumuladhina kafaru zahfan ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya. Terasa ayat itu ditujukan kepada kami yang tidak ikut dalam barisan para mujahid. Air mata kami tidak terbendung lagi ketika sampai pada ayat :&lt;br /&gt; Infiruu khifafan watsiqoolan ..wajahidu biamwalikum wa anfusakum …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua berurai air mata dan larut dalam khusuknya sholat malam. Hampir tidak kami rasakan gigitan nyamuk saat itu, meskipun kami tahu mereka sedang mengerubuti tubuh kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menutup dengan sholat witir, Ustadz memimpin doa bersama dengan kalimat yang mengiris kalbu. Kami memanjatkan doa untuk para syuhada yang telah mendahului kami. Kami juga berdoa untuk saudara-saudara kami yang sedang berjuang mempertahankan tanah airnya. Mereka yang tengah berjuang mempertahankan eksistensi agama ini. Kami juga berdoa untuk saudara kami di berbagai belahan bumi, di Palestina, di Afghanistan, di Ambon dan semua tempat tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami menghabiskan malam dengan dzikir hingga subuh menjelang. Menutup fajar dengan doa matsurat yang membuat semakin kokohnya ikatan persaudaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya kami melakukan olahraga bersama. Untuk membuat semarak acara, panitia membuat permainan perang-perangan. Kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk merebut sebuah wilayah yang telah ditentukan. Untuk melumpuhkan lawan, kami berbekal amunisi berupa air yang dibungkus dalam sebuah plastik. Kami cukup melemparnya dan jika kena lawan, dianggap lawan telah gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan dimulai. Masing-masing regu menyusun strategi dan mencari tempat pertahanan. Masing-masing mulai bergerak menuju sasaran utama, yakni merebut area yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua saling mengejar, saling melempar senjata dan saling berusaha melumpuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar !” begitu teriakan bagi yang terkena tembakan, menandakan bahwa dia sudah syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertempuran berjalan beberapa lama, salah satu regu berhasil melumpuhkan regu yang lain dan semakin mendekati daerah perebutan. Tinggal beberapa saat lagi mereka akan menguasai wilayah tersebut. Sampai akhirnya, regu ini teriak lantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Kami telah merebut wilayah ini.” Teriak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika mereka sedang senang merayakan kemenangan, tiba-tiba salah seorang anggota regu lain berteriak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Curang, masa Gafur tadi sudah tertembak. Kok ikut main lagi? Curang. Permainan batal!” teriak peserta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gafur yang dituduh bermain curang membela: &lt;br /&gt;“Saya nggak apa-apa kok. Tadi kan cuma kena di kaki saja masak bisa mati? Di Ambon saja sampai kakinya putus masih ikut perang?” jawabnya membela diri. Namun ia tidak menyadari bahwa teman-temannya yang menanggapi dengan senyuman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah … Gafur… masih terbawa film tadi malam rupanya. Ini kan permainan. Dan perjanjiannya siapa yang tertembak akan gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang tidak terlupakan. Hampir sepuluh tahun peristiwa berlalu. Namun kenangan penuh keindahan bersama saudara-saudara seperjuangan masih tersimpan rapi di lubuk hati. Beberapa diantara mereka sekarang sudah ada yang menjadi anggota dewan, menjadi wakil bupati, wakil walikota dan jabatan-jabatan penting lainnya. Semoga antum masih mengenang ini semua, saudaraku! ()&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-8499813459626308457?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/8499813459626308457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=8499813459626308457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8499813459626308457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/8499813459626308457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/cuma-kena-kaki.html' title='Cuma Kena Kaki'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1400857063297773650.post-5311032471396202166</id><published>2007-09-12T20:53:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T20:57:31.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nagoya'/><title type='text'>Sepenggal Cerita di Pelita</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tinggi menjulang disana&lt;br /&gt;Indah Menara Masjidku&lt;br /&gt;Masjid yang indah dan megah&lt;br /&gt;Aku cinta kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kujaga kau masjidku&lt;br /&gt;Sampai kapanpun juga&lt;br /&gt;Akan kukenangpengalaman&lt;br /&gt;Bersama di masjidku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kami terkenang saat anak-anak melantunkan lagu indah itu dengan riang. Pakaian yang sedikit lusuh dan raut muka yang menunjukkan bahwa mereka bukan dari golongan berada. Mereka berkumpul di sebuah masjid yang cukup indah di kawasan Pelita, Pulau Batam. Mereka berkumpul untuk belajar ilmu agama sekaligus mengulang kembali beberapa pelajaran yang didapat di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak hilang kelelahan mereka, yang sehari-hari menjalani hidup dengan keras di pinggiran jalan. Ya, mereka adalah anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ada yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu, mengumpulkan sampah sampai mengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mereka bukan putus sekolah, masih sekolah namun mengalami kesulitan dalam mengejar prestasi di sekolah karena waktunya banyak digunakan untuk bekerja membantu orangtua mereka. Mereka membutuhkan bimbingan untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka dalam belajar di sekolah sekaligus memberikan bekal pelajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya program pembinaan anak jalanan ini hanya berupa obrolan berdua dengan seorang pengusaha wanita yang prihatin dengan keadaan anak-anak kurang mampu. Ibu yang baik hati ini mengajak istri saya bagaimana kalau dilakukan pembinaan kepada anak-anak jalanan ini agar terselamatkan dari tindakan yang menyimpangkan aqidah mereka. Biar manfaatnya ganda, mereka akan kita bina dalam dua hal sekaligus, pembinaan agama dan mengejar prestasi di sekolah mereka. Kami mengajarkan juga pelajaran matematika, bahasa Inggris, bahasa Arab, menyanyi dan pidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita dari istri saya, kami langsung sepakat menjalankan program ini. Ibu pengusaha itu juga telah menghubungi seorang temannya yang bersedia menjadi pembimbing anak-anak, beserta istrinya sekaligus. Jadilah kami berempat, dua pasang suami-istri yang menjadi pembimbing bagi mereka. Ibu pengusaha ini yang menjadi donatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo sekarang Gilang maju, baca doa naik kendaraan.” Kata Iskandar, suami Nafilah, mencoba hafalan doa-doa pendek dari anak-anak binaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak ini kami bagi menjadi dua kelompok berdasarkan umur dan kelas sekolah mereka. Satu kelompok dipegang Iskandar dan istrinya, satu kelompok lagi kami asuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, bukan pekerjaan mudah mengumpulkan mereka pada waktu yang ditetapkan agar bisa hadir di masjid. Kami menjadwalkan bertemu mereka 3 kali seminggu. Pada hari-hari pertama kami harus selalu keliling ke rumah-rumah mereka, menjemput mereka agar mau datang ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ada yang sedang di jalan, suatu saat ada yang masih mencari sampah di pinggiran sungai. Kami menunggu mereka mandi lalu membawanya ke masjid. Begitu seterusnya hingga berjalan sebulan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa bulan kami sudah saling mengenal dan semakin akrab. Bahkan kami anggap mereka seperti anak-anak kami sendiri. Hari-hari berikutnya kami menikmati kebersamaan ini dengan bahagia. Mereka tidak perlu dijemput lagi ke rumahnya. Setiap waktu sekolah sore, begitu kami menyebutnya, mereka sudah berada di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kami bawakan makanan ringan untuk mereka. Snack, buah-buahan atau susu. Mereka sangat senang dan menikmatinya. Kalau ada yang sedang ulangtahun kami juga rayakan dengan sederhana. Salah satu diantara mereka memimpin doa lalu kami makan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat liburan sekolah, kami mengadakan wisata ke pantai. Mereka terlihat sangat riang. Pagi-pagi kami semua sudah berkumpul di halaman masjid. Mobil bis mini yang mengantarkan kami juga sudah sampai. Kami pergi ke pantai Marina. Disana kami siapkan beberapa permainan dan lomba. Tentu saja dilengkapi dengan hadiah-hadiah sederhana. Sungguh, keceriaan menyelimuti semua wajah mereka. Kami juga senang bisa melihat mereka bergembira. Seakan mereka lupa kehidupan sehari-hari yang penuh penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kejadian yang tidak terlupakan adalah ketika sebuah yayasan yang kami kenal mengadakan khitanan massal. Hampir semua anak-anak kami ini sudah usianya untuk dikhitan. Jadi kami daftarkan beberapa diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pelaksanaan, kami semua berkumpul di lokasi acara di Sei Panas, kawasan Batam Centre. Berkumpul juga anak-anak kurang mampu dari tempat lain. Totalnya mencapai 40-an anak. Panitia memutarkan film Children of Heaven untuk menghibur mereka sambil menanti giliran di-eksekusi. Candra, yang paling kecil diantara anak kami takut sekali. Apalagi menjelang masuk kamar operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah dia mampu melewati masa menegangkan itu dengan baik. Justru, Dido, yang agak besar malah menangis ketika dokter mendekatkan gunting potongnya. Darahnya juga sampai berserakan kemana-mana terkena gerakan kakinya yang meronta. Kemudian dia terdiam dan sudah bisa tersenyum ketika keluar dari ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Alim, dia kelihatan tidak takut sama sekali. Sambil menunggu giliran dia masih tetap bermain-main bersama teman-temannya. Bahkan masih sempat berkejaran. Pada saat pelaksanaan dia pun kelihatan cengar-cengir seakan tidak merasakan sakit. Selesai semua, dokter berpesan agar kami memantau kondisi anak-anak dan jika sampai tiga hari berikutnya ada yang bersamalah, segera hubungi tim medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian saya bersama istri berkunjung ke rumah anak-anak yang kemarin dikhitan. Hampir semuanya baik-baik saja, kecuali Alim. Kata ibunya, bagian yang disunat jadi bengkak. Kemudian kami lihat dan kami sampaikan untuk membawanya ke rumah sakit yang ditentukan untuk menemui dokter yang mengkhitannya. Kami tinggalkan uang secukupnya untuk transport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sekolah mereka juga menunjukkan hal baik. Mereka sudah rajin ke sekolah dan tidak lagi minder. Mereka mampu mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik. Mereka juga mulai berani tampil ke depan, memimpin doa, mengerjakan soal atau bernyanyi. Rapor mereka menunjukkan perbaikan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika liburan Hari Raya tiba, sekolah sore juga libur. Mereka ada yang diajak pulang kampung oleh orangtuanya. Ada juga yang sama neneknya. Oh iya, sebenarnya tidak semuanya anak tidak mampu. Ada satu anak perempuan, Ririn, ayahnya seorang polisi. Tapi dia sangat menikmati sekolah sore bersama teman-temannya. Ketika perpisahan liburan kami semua saling berpesan untuk saling mendoakan. Dan ingat untuk kembali kesini setelah liburan usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-persatu kami peluk anak-anak manis ini. Seakan berat berpisah dengan mereka. Mereka telah menjadi bagian dari hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu… doakan Ririn ya ..”&lt;br /&gt;“Rido juga bu …”&lt;br /&gt;“Kesi akan bawakan oleh-oleh nanti dari rumah nenek buat Ibu …”&lt;br /&gt;“Candra nggak kemana-mana, nanti Ibu datang ya pas lebaran …”&lt;br /&gt;“Maafkan Dido ya Bu, Dido sering tidak masuk sekolah sore”&lt;br /&gt;“Alim mau ikut Ibu saja … ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa tetesan air hangat membasahi pipi kami. Baru setahun kami bersama-sama di masjid ini, namun rasanya kami telah begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini waktu sudah berjalan lebih dari 6 tahun setelah kejadian itu. Kami berdua juga sudah pindah ke luar kota. Sudah lama tidak bertemu dengan Iskandar dan Nafilah. Namun kenangan bersama di Masjid Al Falah bersama anak-anak Pelita tidak akan pernah terlupa.()&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1400857063297773650-5311032471396202166?l=mybatam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mybatam.blogspot.com/feeds/5311032471396202166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1400857063297773650&amp;postID=5311032471396202166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5311032471396202166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1400857063297773650/posts/default/5311032471396202166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mybatam.blogspot.com/2007/09/sepenggal-cerita-di-pelita.html' title='Sepenggal Cerita di Pelita'/><author><name>Jumadi Subur</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
