Aku menemukan buku lama yang tersimpan di salah satu sudut lemari buku ini. Sebuah buku kumpulan puisi berjudul "Hikayat Perjalanan Lumpur" karya seorang penyair Melayu, Syaukani Al Karim. Aku tersentak kembali membaca sebuah judul puisi tentang Kota Batam, Surat Kepada Hang Nadim.
Kucoba mencari rinduku d Batam, namun kakiku terus saja memijak genangan air mata.
Di jalanan, di gedung-gedung, di hotel-hotel berbintang, d plaza-plaza: wajag asing bersendau gurau, menukar mimpi dengan kesenangan, sementara anak negeri yang lusuh merenungi nasib di rumah kumuh, merenda kepahitan dengan corak bunga-bunga.
"Ini negeri tak bertuan. Tolong bayar dengan dollar," seorang pelacur berteriak dalam hingar-bingar lampu diskotik.
Di pinggiran, anak-anak berbaris menjunjung dulang, menjajakan mimpi ke setiap wajah.
"Hang Nadim sedang menangis dan kami menjual air matanya. Belilah, tuan, agar kami mendapat tempat di negeri kami yang asing."
Di batam, tawa tidak akan diam karena tangis, kemanusiaan ringkih, keadilan hanya mendaki bukit-bukit.
Di batam, angin dari jauh menghabiskan semua yang tersisa dari senyum, semua yang tersisa dari tawa, semua yang tersisa untuk kebahagiaan.
"Maaf, aku tak sempat jatuh cinta," ucap seorang kuli sambil mengelap peluhnya.
"Ini negerimu, nak. Sayangilah."
Namun sejarah telah mewariskan tangis, masa depan mengurai derita, kekalahan mendalamkan tikam, dan air mata rindu itu terus jatuh: menjelma menjadi jalan-jalan, gedung-gedung, hotel-hotel berbintang, plaza-plaza, diskotik-diskotik, juga menjadi gelombang di lautan nestapa.
Di batam, aku kehilangan negeri.
Dulu, pertama kali membaca puisi ini, sekitar tahun 1999, aku merasa memang apa yang disampaikan Syakani dalam puisinya ini banyak benarnya. Tapi aku yakin sekarang sudah banyak perubahan. Apalagi ketika Batam berusaha dengan sekuat tenaga mengubah citranya yang sebelumnya "hanya" digambarkan oleh sebagian kalangan dengan kehidupan gedung-gedung, jalan-jalan, pabrik, hotel, diskotik sekarang sudah sangat jauh berubah.
Batam, Bandar Dunia yang Madani. Itulah slogan yang dimiliki kota kepulauan ini. Dan ternyata itu bukan hanya sekedar slogan.
Sejak tahun 2005, pemberantasan kegiatan maksiat marak dilakukan oleh para petugas kepolisian dan pemerintah daerah. Penutupan lokalisasi, pemberantasan judi dan penertiban perumahan liar telah banyak merubah wajah kota ini. Seiring dengan itu pembangunan fasilitas ibadah, kegiatan keagamaan dan pertumbuhan sekolah-sekolah religius yang spektakuler. Untuk ukuran kota seperti Batam, jumlah pesantren yang ada tergolong menakjubkan.
Aku ingat, pada suatu kesempatan pengajian Manajemen Qolbu, di Masjid Nurul Islam, sekitar tahun 1999, Aa Gym pernah berkata "Jadikanlah Batam sebagai kota pesantren, pesantren kehidupan."
Dan saat ini aku benar-benar melihat, begitu maraknya kegiatan keagamaan. Kawasan industri Muka Kuning layaknya lautan jilbab setiap harinya, para pekerja yang hilir mudik dengan busana yang menyejukkan hati. Masjid-masjid yang hampir tidak pernah senggang dengan aktivitasnya, jamaahnya selalu penuh, dan yang menakjubkan, kita akan temukan di Batam, hampir semua masjid diaktifkan oleh para anak muda, sesuatu yang membanggakan. Setiap tahun, Masjid Raya Batam menyelenggarakan Ramadhan Fair, Itikaf 10 hari terakhir juga selalu ramai.
Aku juga menemukan, banyak sekali teman-teman, sahabat, kenalan, yang menemukan 'hidayah' kembali ketika di Batam. Ada yang dulu di kampung halaman belum bisa mengaji, tiba di Batam bisa mengaji dengan baik, bahkan sekarang sudah menjadi Ustadz dengan hafalan Quran yang menakjubkan, pemahaman agama yang juga mengesankan.
Tidak terhitung Ibu-ibu muda yang sekarang menjadi penggerak majelis taklim, organisasi keislaman da lainnya, yang dulu ketika baru menginjakkan kaki di Batam belum mengenal benar tentang Islam, kemudian mereka belajar, mengkaji ilmu agaman, mondok di pesantren dan sekarang menjadi ustadzah.
Batam, yang beberapa tahun sebelumnya pernah mendapat julukan Kota Terkotor di Indonesia, tahun kemarin mendapat Piala Adipura sebagai Kota Terbersih.
Memang belum seideal yang dibayangkan. Tapi aku yakin Batam akan menjadi kota harapan. Aku membayangkan, suatu saat nanti, kota Batam akan menjadi Andalusia-nya Indonesia. Pusat peradaban, pusat kebudayaan, pusat kemajuan teknologi, dan pusat berkembangnya ilmu pengetahuan.
Dan aku yakin, jika Hang Nadim bisa melihat semuanya, dia nanti akan bangga. "Batam, telah melampaui apa yang pernah aku bayangkan," katanya.
Kepada Akh Ria Saptarika, Bapak Wakil Walikota Batam, semoga dalam kepemimpinan seorang Dai, Batam benar-benar akan menjadi Bandar Dunia yang Madani, Insya Allah.
Kisah-kisah Inspiratif tentang Petualangan, Persahabatan, Cinta dan Pengorbanan dengan Latar Belakang Pengalaman Hidup di Pulau Batam
Senin, 08 Oktober 2007
Rabu, 26 September 2007
Aa, Kok Tidur di Luar?
Beruntung aku dikaruniai seorang suami yang baik seperti dia. Sekarang sudah 7 tahun lebih berumah tangga hampir tak pernah sekalipun ia menyakitiku secara fisik. Ia orang yang paling sabar yang pernah kukenal. Jika ia marah atau tidak suka dengan sesuatu, ia hanya mensikapinya dengan diam. Sejak pertama kami menikah begitulah cara pelampiasan kemarahan yang ia katakan padaku sewaktu hari pertama pernikahan kami.
Kami menikah ketika sama-sama bekerja di Batam. Aku bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Batamindo, Muka Kuning, sebagai senior operator. Dan dia bekerja di sebuah perusahaan asing juga, di kawasan Sekupang. Kami menikah tanpa pacaran sebelumnya, bahkan boleh dibilang kami tidak saling mengenal sebelum menikah. Ya memang hampir semua teman-temanku juga menikah dengan cara yang sama sepertiku. Jadi hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh di Batam.
Saat itu usiaku sudah hampir 25 tahun, usia yang krusial bagi seornag gadis sepertiku. Apalagi keluargaku di Jawa Barat sudah beberapa kali menanyakan kapan aku menikah. Hampir semua orang menanyakan hal itu saat aku pulang kampung atau menelpon menanyakan kabar mereka. Akhirnya ketika ada seorang ibi muda yang aku kenal baik menawarkan proposal seorang lelaki yang ingin menikah langsung saja aku terima.
Hampir tidak ada sesuatu yang aku pertimbangkan saat itu, siapapun dia asal dia lelaki yang Muslim, shalih dan taat akan aku terima. Tentang hal lain urusan nanti, pikirku. Akhirnya setelah aku baca biodatanya aku menyatakan bersedia dengan syarat dipertemukan dulu untuk taáruf dengannya. Setelah bertemu dengannya aku semakin yakin dan dengan mantap menerima pinangannya.
Kejadiannya berlangsung dengan cepat ketika dua minggu kemudian dia datang ke orangtuaku untuk khitbah, sebulan kemudian kami menikah.
Setelah menikah, kami tinggal di rumahnya, lebih tepat asrama yang disediakan perusahaan, di kawasan elit Perumahan Green Court. Kehidupan kami jalani dengan penuh kebahagiaan. Meskipun suamiku adalah orang yang sibuk, namun ia selalu memperhatikan kebutuhanku sebagai istrinya. Ia sering membawakan oleh-oleh untukku. Memang hal yang sederhana, dan mungkin bagi orang lain tidak terlalu istimewa, namun bagiku adalah sesuatu yang menyenangkan ketika suamiku pulang membawa pisang goreng, kadang bawa mie ayam, martabak atau beberapa buah apel.
Selain bekerja di kantor, suamiku punya pekerjaan sampingan menjual buku-buku, kaset dan minyak wangi. Dia juga aktif di beberapa organisasi sosial, remaja masjid, yayasan dan Ikatan Dai Muda Kota Batam. Sebagai seorang pendakwah, ia sering diundang mengisi ceramah di masjid, sekolah atau di majelis taklim PT. Dan karena aktifitasnya itulah ia sering pulang malam. Bahkan kadang jika kegiatannya harus bermalam di tempat lain aku harus rela untuk di rumah sendiri. Biasanya aku mengajak teman-teman yang dulu se-dormitori denganku untuk menginap di rumah kami.
Aku memanggilnya Aa. Meskipun dia bukan orang Sunda sepertiku tapi aku lebih senang memanggilnya demikian. Dia juga senang dipanggil demikian.
Aa termasuk orang yang romantis. Sangat mengerti perasaan wanita seperti aku yang menjadi istrinya. Pernah suatu kali pulang dari tugas luar kota ia memberikan aku serangkai bunga yang ia beli di kota tersebut.
Suatu saat ketika ia pergi ke Jakarta untuk training selama seminggu, aku dikagetkan oleh seorang petugas pengantar delivery order dari sebuah restoran siap saji yang ada di kawasan Nagoya yang datang datang ke rumah mengantarkan sebuah paket makanan ayam goreng. Katanya ada kiriman dari Jakarta. Ternyata suamiku mengirim paket makanan ayam goreng itu melalui internet dan restoran capat saji yang sudah online itu mengirim melalui cabangnya yang ada di Nagoya. Di luar paket tersebut ada sebuah kertas dengan pesan singkat "Selamat Makan Siang, Aa Kangen sama Ade' -- dari XXXX tertulis jelas nama suamiku disana." Aku sangat senang membacanya.
Dia juga sering menuliskan surat cinta untukku. Terutama sebelum ia pergi untuk beberapa hari lamanya, baik urusan pekerjaannya maupun urusan tugasnya sebagai seorang dai. Sebelum berangkat biasanya ia meninggalkan dua buah surat. Yang satu surat untuk aku baca setelah ia berangkat dan satu surat lagi pesannya untuk dibaca kalau dia tidak pulang selamanya. Ah.. Aa memang sering membuatku berdebar. Tapi katanya itu adalah sunah Nabi, meninggalkan wasiat sebelum bepergian. Dan entah kenapa itu lebih membuatku merasa tenang ketika ia meninggalkanku.
Dalam suratnya, selain ungkapan cinta dan sayang, ia selalu berpesan agar aku selalu menjaga sholat, rutin membaca Al Quran, berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang shalih dan menjaga rumah beserta isinya. Satu surat lagi menurutnya adalah daftar hutang piutang yang ia miliki, tapi aku belum pernah membukanya karena Alhamdulillah ia selalu pulang, hingga sekarang.
Aa juga orang yang tidak banyak mengeluh dengan keadannya, termasuk juga keadaanku. Ia tidak pernah marah kalau sampai di rumah ternyata tidak ada makanan yang sesuai seleranya. Ia selalu menikmati apapun makanan yang aku sediakan. Dan ia juga selalu mengatakan bahwa makananku enak, padahal aku sendiri yang memasak kadang merasa kalau masakanku kurang lezat.
Sungguh, Aa termasuk orang yang berakhlak baik kepada istrinya. Katanya ia ingin mencontoh Rasul, yang selalu berakhlak baik kepada istrinya.
Pernah suatu hari, ia pulang agak larut malam. Aku yang menunggunya sampai tertidur. Karena sudah mengantuk berat aku pindah ke kamar yang letaknya di belakang. Biasanya kalau Aa tidak pulang atau terlambat pulang ia menelepon dulu. Tapi entah kenapa malam itu ia tidak menelpon. Aku sudah tidak dapat menahan rasa kantuk sehingga aku terlelap.
Rasa kagetku muncul ketika terbangun, aku tidak mendapatkan suamiku di sisiku. Wah, Aa belum pulang, pikirku. Jam menunjukkan pukul 03.00 Wib. Lampu di ruang tamu masih menyala, aku coba menyibakkan tirai jendela. Loh motornya sudah di rumah. Berarti Aa sudah pulang. Aku coba buka tirai lebih lebar dan menyebar pandangan ke beberapa sudut rumah.
Deg. Pandanganku seakan tak percaya melihat sesosok tubuh yang kukenal tidur di depan pintu samping dekat dapur. Dengan beralaskan kain spanduk yang biasa tersimpan di gudang samping rumah, dan sebuah sarung yang menyelimutinya. Aku merasa bersalah melihat kondisi suamiku. Segera aku buka pintu samping dan aku bangunkan Aa.
"Aa kok kenapa tidur di luar? Kenapa tidak bangunkan Ade?... Aa.... Ade minta maaf..." aku memeluknya dan airmataku mengalir pelan karena penyesalanku.
Tapi Aa terlihat tenang saja. Ia mencium pipiku dan keningku sambil tersenyum dan menyeka air mataku.
"Justru Aa yang minta maaf, karena pulang terlambat tanpa ngasih tahu Ade..." jawab Aa sambil melipat kain spanduk dan masuk ke rumah. Aku mengunci kembali pintunya. Lalu aku mengambilkan minum.
"Tapi kan Aa kedinginan di luar.. tuh banyak bekas gigitan nyamuk.. Kenapa Aa tidak telepon atau ketuk pintunya sampai Ade bangun? " lanjutku dengan mimik menyesal.
"Rasulullah dulu kalau pulang terlambat, mengetuk pintu 3 kali tidak dibukakan, beliau tidur di luar... Sebenarnya Aa sudha ketuk pintunya juga beberapa kali, tapi mungkin Ade kecapaian jadi Aa putuskan tidur disana saja. HP-nya sedang mati, baterieinya habis. Lagian kan ada kain spanduk banyak, bisa dijadikan alas." jawab suamiku dengan kalem.
"Sudah yuk kita wudhu, masaih ada waktu, kita sholat lail berjamaah. Aa nggak apa-apa kok. Aa tidak marah sama sekali. Justru Aa bersyukur bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan Rasul." lanjutnya.
Lalu kami pun mendirikan sholat. Ia membaca surat An Naba pada rakaat pertama, dilanjutkan beberapa ayat surat Al Baqarah pada rakaat kedua. Aku tidak sanggup menahan haru atas semua kejadian yang aku lalui bersamanya. Sungguh, Allah telah memberikan kepadaku anugerah terindah dengan diberikan suami seperti Aa..
Setelah kejadian hari itu, beberapa kali Aa tidur lagi di luar. Dua bulan setelah itu pernah terjadi hal yang hampir sama, waktu itu Aa lupa bawa kunci yang telah digandakan. Dan terulang lagi beberapa kali pada bulan-bulan berikutnya. Jika aku terbangun tengah malam dan tidak mendapatinya disisiku padahal ia tidak pamit untuk menginap, sudah hampir pasti ia tidur di luar seperti malam itu.
Ah, Aa... sekarang sudah ada 4 orang buah hati anugerah ilahi yang menerangi dan meramaikan rumah tangga kita. Engkau masih saja seperti yang dulu. Sekarang sholat malam kita tidak hanya berdua, ada di sulung yang rajin ikut serta dan si Mbak yang juga tidak mau ketinggalan.
Sekarang kami sudah tidak di Batam lagi, namun kota Pulau itu telah menanamkan banyak kenangan bagiku. Benar kata orang yang sama-sama pernah merantau di Batam. Kota Batam, Kota Cinta, Kota Kenangan. ()
Untuk Aa : Maaf ya Ade ceritakan ini, Ade kangen saat-saat indah bersama Aa...
Kami menikah ketika sama-sama bekerja di Batam. Aku bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Batamindo, Muka Kuning, sebagai senior operator. Dan dia bekerja di sebuah perusahaan asing juga, di kawasan Sekupang. Kami menikah tanpa pacaran sebelumnya, bahkan boleh dibilang kami tidak saling mengenal sebelum menikah. Ya memang hampir semua teman-temanku juga menikah dengan cara yang sama sepertiku. Jadi hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh di Batam.
Saat itu usiaku sudah hampir 25 tahun, usia yang krusial bagi seornag gadis sepertiku. Apalagi keluargaku di Jawa Barat sudah beberapa kali menanyakan kapan aku menikah. Hampir semua orang menanyakan hal itu saat aku pulang kampung atau menelpon menanyakan kabar mereka. Akhirnya ketika ada seorang ibi muda yang aku kenal baik menawarkan proposal seorang lelaki yang ingin menikah langsung saja aku terima.
Hampir tidak ada sesuatu yang aku pertimbangkan saat itu, siapapun dia asal dia lelaki yang Muslim, shalih dan taat akan aku terima. Tentang hal lain urusan nanti, pikirku. Akhirnya setelah aku baca biodatanya aku menyatakan bersedia dengan syarat dipertemukan dulu untuk taáruf dengannya. Setelah bertemu dengannya aku semakin yakin dan dengan mantap menerima pinangannya.
Kejadiannya berlangsung dengan cepat ketika dua minggu kemudian dia datang ke orangtuaku untuk khitbah, sebulan kemudian kami menikah.
Setelah menikah, kami tinggal di rumahnya, lebih tepat asrama yang disediakan perusahaan, di kawasan elit Perumahan Green Court. Kehidupan kami jalani dengan penuh kebahagiaan. Meskipun suamiku adalah orang yang sibuk, namun ia selalu memperhatikan kebutuhanku sebagai istrinya. Ia sering membawakan oleh-oleh untukku. Memang hal yang sederhana, dan mungkin bagi orang lain tidak terlalu istimewa, namun bagiku adalah sesuatu yang menyenangkan ketika suamiku pulang membawa pisang goreng, kadang bawa mie ayam, martabak atau beberapa buah apel.
Selain bekerja di kantor, suamiku punya pekerjaan sampingan menjual buku-buku, kaset dan minyak wangi. Dia juga aktif di beberapa organisasi sosial, remaja masjid, yayasan dan Ikatan Dai Muda Kota Batam. Sebagai seorang pendakwah, ia sering diundang mengisi ceramah di masjid, sekolah atau di majelis taklim PT. Dan karena aktifitasnya itulah ia sering pulang malam. Bahkan kadang jika kegiatannya harus bermalam di tempat lain aku harus rela untuk di rumah sendiri. Biasanya aku mengajak teman-teman yang dulu se-dormitori denganku untuk menginap di rumah kami.
Aku memanggilnya Aa. Meskipun dia bukan orang Sunda sepertiku tapi aku lebih senang memanggilnya demikian. Dia juga senang dipanggil demikian.
Aa termasuk orang yang romantis. Sangat mengerti perasaan wanita seperti aku yang menjadi istrinya. Pernah suatu kali pulang dari tugas luar kota ia memberikan aku serangkai bunga yang ia beli di kota tersebut.
Suatu saat ketika ia pergi ke Jakarta untuk training selama seminggu, aku dikagetkan oleh seorang petugas pengantar delivery order dari sebuah restoran siap saji yang ada di kawasan Nagoya yang datang datang ke rumah mengantarkan sebuah paket makanan ayam goreng. Katanya ada kiriman dari Jakarta. Ternyata suamiku mengirim paket makanan ayam goreng itu melalui internet dan restoran capat saji yang sudah online itu mengirim melalui cabangnya yang ada di Nagoya. Di luar paket tersebut ada sebuah kertas dengan pesan singkat "Selamat Makan Siang, Aa Kangen sama Ade' -- dari XXXX tertulis jelas nama suamiku disana." Aku sangat senang membacanya.
Dia juga sering menuliskan surat cinta untukku. Terutama sebelum ia pergi untuk beberapa hari lamanya, baik urusan pekerjaannya maupun urusan tugasnya sebagai seorang dai. Sebelum berangkat biasanya ia meninggalkan dua buah surat. Yang satu surat untuk aku baca setelah ia berangkat dan satu surat lagi pesannya untuk dibaca kalau dia tidak pulang selamanya. Ah.. Aa memang sering membuatku berdebar. Tapi katanya itu adalah sunah Nabi, meninggalkan wasiat sebelum bepergian. Dan entah kenapa itu lebih membuatku merasa tenang ketika ia meninggalkanku.
Dalam suratnya, selain ungkapan cinta dan sayang, ia selalu berpesan agar aku selalu menjaga sholat, rutin membaca Al Quran, berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang shalih dan menjaga rumah beserta isinya. Satu surat lagi menurutnya adalah daftar hutang piutang yang ia miliki, tapi aku belum pernah membukanya karena Alhamdulillah ia selalu pulang, hingga sekarang.
Aa juga orang yang tidak banyak mengeluh dengan keadannya, termasuk juga keadaanku. Ia tidak pernah marah kalau sampai di rumah ternyata tidak ada makanan yang sesuai seleranya. Ia selalu menikmati apapun makanan yang aku sediakan. Dan ia juga selalu mengatakan bahwa makananku enak, padahal aku sendiri yang memasak kadang merasa kalau masakanku kurang lezat.
Sungguh, Aa termasuk orang yang berakhlak baik kepada istrinya. Katanya ia ingin mencontoh Rasul, yang selalu berakhlak baik kepada istrinya.
Pernah suatu hari, ia pulang agak larut malam. Aku yang menunggunya sampai tertidur. Karena sudah mengantuk berat aku pindah ke kamar yang letaknya di belakang. Biasanya kalau Aa tidak pulang atau terlambat pulang ia menelepon dulu. Tapi entah kenapa malam itu ia tidak menelpon. Aku sudah tidak dapat menahan rasa kantuk sehingga aku terlelap.
Rasa kagetku muncul ketika terbangun, aku tidak mendapatkan suamiku di sisiku. Wah, Aa belum pulang, pikirku. Jam menunjukkan pukul 03.00 Wib. Lampu di ruang tamu masih menyala, aku coba menyibakkan tirai jendela. Loh motornya sudah di rumah. Berarti Aa sudah pulang. Aku coba buka tirai lebih lebar dan menyebar pandangan ke beberapa sudut rumah.
Deg. Pandanganku seakan tak percaya melihat sesosok tubuh yang kukenal tidur di depan pintu samping dekat dapur. Dengan beralaskan kain spanduk yang biasa tersimpan di gudang samping rumah, dan sebuah sarung yang menyelimutinya. Aku merasa bersalah melihat kondisi suamiku. Segera aku buka pintu samping dan aku bangunkan Aa.
"Aa kok kenapa tidur di luar? Kenapa tidak bangunkan Ade?... Aa.... Ade minta maaf..." aku memeluknya dan airmataku mengalir pelan karena penyesalanku.
Tapi Aa terlihat tenang saja. Ia mencium pipiku dan keningku sambil tersenyum dan menyeka air mataku.
"Justru Aa yang minta maaf, karena pulang terlambat tanpa ngasih tahu Ade..." jawab Aa sambil melipat kain spanduk dan masuk ke rumah. Aku mengunci kembali pintunya. Lalu aku mengambilkan minum.
"Tapi kan Aa kedinginan di luar.. tuh banyak bekas gigitan nyamuk.. Kenapa Aa tidak telepon atau ketuk pintunya sampai Ade bangun? " lanjutku dengan mimik menyesal.
"Rasulullah dulu kalau pulang terlambat, mengetuk pintu 3 kali tidak dibukakan, beliau tidur di luar... Sebenarnya Aa sudha ketuk pintunya juga beberapa kali, tapi mungkin Ade kecapaian jadi Aa putuskan tidur disana saja. HP-nya sedang mati, baterieinya habis. Lagian kan ada kain spanduk banyak, bisa dijadikan alas." jawab suamiku dengan kalem.
"Sudah yuk kita wudhu, masaih ada waktu, kita sholat lail berjamaah. Aa nggak apa-apa kok. Aa tidak marah sama sekali. Justru Aa bersyukur bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan Rasul." lanjutnya.
Lalu kami pun mendirikan sholat. Ia membaca surat An Naba pada rakaat pertama, dilanjutkan beberapa ayat surat Al Baqarah pada rakaat kedua. Aku tidak sanggup menahan haru atas semua kejadian yang aku lalui bersamanya. Sungguh, Allah telah memberikan kepadaku anugerah terindah dengan diberikan suami seperti Aa..
Setelah kejadian hari itu, beberapa kali Aa tidur lagi di luar. Dua bulan setelah itu pernah terjadi hal yang hampir sama, waktu itu Aa lupa bawa kunci yang telah digandakan. Dan terulang lagi beberapa kali pada bulan-bulan berikutnya. Jika aku terbangun tengah malam dan tidak mendapatinya disisiku padahal ia tidak pamit untuk menginap, sudah hampir pasti ia tidur di luar seperti malam itu.
Ah, Aa... sekarang sudah ada 4 orang buah hati anugerah ilahi yang menerangi dan meramaikan rumah tangga kita. Engkau masih saja seperti yang dulu. Sekarang sholat malam kita tidak hanya berdua, ada di sulung yang rajin ikut serta dan si Mbak yang juga tidak mau ketinggalan.
Sekarang kami sudah tidak di Batam lagi, namun kota Pulau itu telah menanamkan banyak kenangan bagiku. Benar kata orang yang sama-sama pernah merantau di Batam. Kota Batam, Kota Cinta, Kota Kenangan. ()
Untuk Aa : Maaf ya Ade ceritakan ini, Ade kangen saat-saat indah bersama Aa...
Selasa, 25 September 2007
Episode di Pondok Cinta
Ini kisah dari seorang teman yang tinggal di dormitory Blok P. Namanya Fatiya.
Kami tinggal di dormitory untuk para operator. Salah satu lantai di Blok P, Batamindo, Muka Kuning. Seperti dorm pada umumnya, kami tinggal dalam jumlah yang banyak. Ada 12 orang yang menjadi penghuni rumah tinggal kami ini. Masih lumayan dibanding dormitori lain yang kadang sampai berpenghuni 16 orang. Jangan bandingkan dengan dorm para leader atau teknisi yang cuma dihuni 4 orang. Malah ada yang cuma 2 orang saja.
Namanya juga dormitori, kami tidak bisa memilih tempat tinggal yang orang Indonesia pada umumnya menyebut asrama ini. Kami hanya tinggal menempati saja, karena sudah ditentukan oleh perusahaan.
Kami menyebut tempat tinggal kami sebagai pondok cinta. Nggak tahu bagaimana awalnya, yang jelas kami selalu berusaha menyayangi satu sama lain. Meskipun kami berasal dari daerah yang berbeda, juga rentang usia yang berbeda pula.
Yang paling senior, kami memanggilnya Teh Fitni. Dia sudah lebih dari 5 tahun bekerja di perusahaan elektronik yang paling favorit ini. Tapi sampai sekarang masih menjadi operator. Kami menganggap Teh Fitni sebagai orangtua bagi kami, karena disamping usianya yang memang sudah tergolong dewasa, menjelang 30 tahun, mojang Bandung yang cantik ini juga memiliki sifat keibuan, mengayomi dan sangat baik hati. Bahkan ada yang memanggilnya Mami, karena di rumah ini dialah yang lebih banyak mengurus kami. Entah kenapa para lelaki tidak segera melamar Teh Fitni, sehingga sampai seusia yang lebih dari cukup itu ia masih berstatus gadis. Padahal wajahnya lumayan cantik, katanya kalau orang Sunda memang wajah standarnya ya lebih cantik dari paras biasanya. Ia juga dewasa, pintar, baik hati, dan mudah bergaul dengan siapapun, kecuali dengan lelaki.
Teh Fitni memang sangat tertutup dengan lawan jenis. Dia memakai kerudung lebar, hampir sampai menutup seluruh tangannya. Dia aktif di beberapa kegiatan, terutama Majelis Taklim perusahaan dan Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI). Kadang-kadang memang ada tamu lelaki yang mencarinya, tapi paling cuma berbicara masalah kegiatan, mengantar buku, undangan rapat, dan sejenisnya, itupun mereka hanya berbicara sebentar. Teh Fitni malah kadang hanya menerima tamunya dari balik pintu. Kalaupun menemui tamu lelakinya di luar pintu, dia hanya berbicara sambil menunduk. Entahlah, Teh Fitni seperti orang aneh, sama sekali tidak pernah bercerita tentang lawan jenisnya.
Padahal sebagian besar diantara kami sudah punya pacar. Dewi yang baru datang dari Semarang, rekrutan tahun lalu, sekarang sudah punya pacar, seorang teknisi. Beberapa orang diantara kami bahkan sering dikunjungi pacarnya pada hari-hari libur kerja. Tapi kami sudah menyepakati peraturan jam kunjungan ke dormitori kami, tata tertib berkunjung dan lainnya, berdasarkan saran dari Teh Fitni.
Teh Fitni orang yang rajin menolong. Dia juga teman curhat yang baik. Meskipun dia mengaku tidak punya pacar dan tidak punya pengalaman pacaran, kami tetap saja menjadiannya sebagai teman curhat. Dia selalu memberikan pandangan-pandangan yang sangat baik, dengan kedewasaan berpikir dan selalu saja dia menyangkutkan dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana ajaran yang kami pegang. Enaknya, Teh Fitni tidak pernah menghakimi kami. Dia tidak pernah berkata dengan keras atau melarang kami pacaran. Dia hanya mengingatkan batas-batasnya, selalu mengingatkan waktu sholat dan seterusnya.
Ia juga sering membelikan kami oleh-oleh. Sepulang dari kegiatan di masjid, ia kerap membawa pulang gorengan, atau makanan kecil lainnya. Apalagi kalau habis mengikuti acara di luar Muka Kuning, ia selalu membawa oleh-oleh. Meskipun sederhana, kami senang mendapat perhatiannya. Waktu pulang ke Bandung, Teh Fitni membawakan kami masing-masing diberi souvenir yang cantik-cantik. Ada uang mendapat tas kecil, dompet, gantungan, hiasan dinding, bahkan ada yang dibawakan kaos lengan panjang. Kami selalu dibuat senang olehnya.
Ketika Shinta, salah satu penghuni kamar ini yang aslinya dari Pekanbaru, mengalami musibah, orangtuanya meninggal dunia. Teh Fitni yang meneghiburnya bahkan menemaninya pulang kampung. Teh Fitni juga yang mengumpulkan bantuan dari teman-teman PT sampai teman-temannya di RMNI. Saat tiba-tiba Komala, yang juga asli dari Bandung tiba-tiba sakit dan harus dirawat di Harapan Bunda, Teh Fitni bahkan rela mengambil cuti untuk menjaga Komala di RS.
Kebiasan Teh Fitni adalah selalu mengingatkan kami untuk menjada kebersihan dormitori. Katanya kebersihan sebagian dari iman, dan ciri wanita yang shalihah. Harus diakui, meskipun kami semua sama-sama wanita, tidak semuanya tertib dalam menjaga kebersihan. Ada yang sering meletakkan barang pribadinya begitu saja. Pulang kerja, karena capek, apalagi kalau shift second, wah terasa sekali capeknya. Jam 11 malam masuk rumah seperti tinggan separuh tenaga. Biasanya teman-teman suka meletakkan barang begitu saja, sepatu dicampakkan sembarangan, uniform disampirkan ke kursi, pintu, pinggiran tempat tidur, dll. Handuk juga sering mampir di semua tempat. Dan saat seperti itu biasanya Teh Fitni yang merapikannya. Tiba-tiba saja pagi hari kami dapatkan, handuk sudah tertata rapi di jemuran. Sepatu sudah tertata rapi, baju-baju kami juga terlipat atau digantung rapi di dekat lemari masing-masing.
Pernah suatu hari aku pulang kegiatan agak terlambat. Oh iya, aku berbeda dengan Teh Fitni. Aku lebih senang berpenampilan simple. Rambut potong agak pendek, pakaian juga yang simple, celana jeans, t-shirt lengan pendek dan selalu membawa tas gantungan. Aku ikut kegiatan Karang Taruna dan Argapala, kelompok pecinta alam.
Saat pulang ke dormitori sore itu aku teringat bahwa aku masih punya cucian yang belum selesai. Aku termasuk orang yang agak malas mencuci. Kemarin sebelum berangkat acara kemah aku sempat merendam pakaianku dalam 2 ember. Satu ember besar untuk berbagai jenis pakaianku seminggu dan satu ember kecil berisi unform agar tidak terkena noda luntur.
Sampai di rumah aku celingukan kesana-kemari karena tidak mendapatkan ember-emberku. Wah gawat, pikirku. Bajuku dimana?
Tiba-tiba Teh Fitni menjulurkan wajahnya dari balik sekat yang membatasi dapur dengan kamar mandi. "Fatiya, ya.... Maaf dhek, bajunya Teteh cuciin, mungkin sekarang udah kering, itu dijemuran.." teriak Teh Fitni enteng.
Aku kaget mendengar ucapan Teteh kami ini. Kok bisa-bisanya mencucikan bajuku yang seabrek gitu. Saat aku mendekat mau meminta penjelasan, Teh Fitni sudah menimpali kembali,
"Soalnya Teteh kasihan sama Tiya, nanti kalau pulangnya sora, bajunya belum dicuci, takut nggak dapat panas lagi. Kan uniformnya besok dipakai kerja, masuk pagi kan? Kebetulan Teteh juga sedang senggang, ya sudah Teteh cuci saja... nggak apa-apa kan?" lanjut Teh Fitni yang membuatku semakin merasa tidak enak.
Belum sempat aku mengucapkan terima kasih karena masih bingung seakan tidak percaya, si Teteh sudah mengemasi maskannya, sudah pamitan lagi.
"Tadi Teteh sudah goreng ikan sama tempe, ada sayur asam di meja dan di kulkas masih ada kue kecil. Nanti buat makan malam Tiya sama Komala ya. Yang lainnya tadi sudah makan, yang masuk malam biasanya sudah siap-siap makan malamnya. Teteh mau ada acara di Nuris (Masjid Nurul Islamm-pen) mungkin pulang agak malam. Dah ya Tiya, istirahat aja, kan capek habis camping. Wassalamuálaikum."
Begitu saja si Teteh mencium pipiki kanan dan kiri lalu berlalu keluar kamar. Hanya kibasan jilbab panjangnya yang aku rasakan. Aku hampir tidak percaya dengan semuanya.
Teh Fitni, ah... air mata ini tiba-tiba saja tidak terbendung. Begitu baiknya dirimu kepada kami yang engkau anggap sebagai adik-adikmu sendiri. Masih ada orang sebaik dirimu Teh... Engkau bukan hanya seorang bidadari di rumah ini, engkau adalah bidadari kehidupan kami. Cantik wajahmu, cantik juga hatimu.()
buat alumni Blok P # sekian # sekian # sekian, kapan ya kita bisa bertemu lagi...
Kami tinggal di dormitory untuk para operator. Salah satu lantai di Blok P, Batamindo, Muka Kuning. Seperti dorm pada umumnya, kami tinggal dalam jumlah yang banyak. Ada 12 orang yang menjadi penghuni rumah tinggal kami ini. Masih lumayan dibanding dormitori lain yang kadang sampai berpenghuni 16 orang. Jangan bandingkan dengan dorm para leader atau teknisi yang cuma dihuni 4 orang. Malah ada yang cuma 2 orang saja.
Namanya juga dormitori, kami tidak bisa memilih tempat tinggal yang orang Indonesia pada umumnya menyebut asrama ini. Kami hanya tinggal menempati saja, karena sudah ditentukan oleh perusahaan.
Kami menyebut tempat tinggal kami sebagai pondok cinta. Nggak tahu bagaimana awalnya, yang jelas kami selalu berusaha menyayangi satu sama lain. Meskipun kami berasal dari daerah yang berbeda, juga rentang usia yang berbeda pula.
Yang paling senior, kami memanggilnya Teh Fitni. Dia sudah lebih dari 5 tahun bekerja di perusahaan elektronik yang paling favorit ini. Tapi sampai sekarang masih menjadi operator. Kami menganggap Teh Fitni sebagai orangtua bagi kami, karena disamping usianya yang memang sudah tergolong dewasa, menjelang 30 tahun, mojang Bandung yang cantik ini juga memiliki sifat keibuan, mengayomi dan sangat baik hati. Bahkan ada yang memanggilnya Mami, karena di rumah ini dialah yang lebih banyak mengurus kami. Entah kenapa para lelaki tidak segera melamar Teh Fitni, sehingga sampai seusia yang lebih dari cukup itu ia masih berstatus gadis. Padahal wajahnya lumayan cantik, katanya kalau orang Sunda memang wajah standarnya ya lebih cantik dari paras biasanya. Ia juga dewasa, pintar, baik hati, dan mudah bergaul dengan siapapun, kecuali dengan lelaki.
Teh Fitni memang sangat tertutup dengan lawan jenis. Dia memakai kerudung lebar, hampir sampai menutup seluruh tangannya. Dia aktif di beberapa kegiatan, terutama Majelis Taklim perusahaan dan Remaja Masjid Nurul Islam (RMNI). Kadang-kadang memang ada tamu lelaki yang mencarinya, tapi paling cuma berbicara masalah kegiatan, mengantar buku, undangan rapat, dan sejenisnya, itupun mereka hanya berbicara sebentar. Teh Fitni malah kadang hanya menerima tamunya dari balik pintu. Kalaupun menemui tamu lelakinya di luar pintu, dia hanya berbicara sambil menunduk. Entahlah, Teh Fitni seperti orang aneh, sama sekali tidak pernah bercerita tentang lawan jenisnya.
Padahal sebagian besar diantara kami sudah punya pacar. Dewi yang baru datang dari Semarang, rekrutan tahun lalu, sekarang sudah punya pacar, seorang teknisi. Beberapa orang diantara kami bahkan sering dikunjungi pacarnya pada hari-hari libur kerja. Tapi kami sudah menyepakati peraturan jam kunjungan ke dormitori kami, tata tertib berkunjung dan lainnya, berdasarkan saran dari Teh Fitni.
Teh Fitni orang yang rajin menolong. Dia juga teman curhat yang baik. Meskipun dia mengaku tidak punya pacar dan tidak punya pengalaman pacaran, kami tetap saja menjadiannya sebagai teman curhat. Dia selalu memberikan pandangan-pandangan yang sangat baik, dengan kedewasaan berpikir dan selalu saja dia menyangkutkan dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana ajaran yang kami pegang. Enaknya, Teh Fitni tidak pernah menghakimi kami. Dia tidak pernah berkata dengan keras atau melarang kami pacaran. Dia hanya mengingatkan batas-batasnya, selalu mengingatkan waktu sholat dan seterusnya.
Ia juga sering membelikan kami oleh-oleh. Sepulang dari kegiatan di masjid, ia kerap membawa pulang gorengan, atau makanan kecil lainnya. Apalagi kalau habis mengikuti acara di luar Muka Kuning, ia selalu membawa oleh-oleh. Meskipun sederhana, kami senang mendapat perhatiannya. Waktu pulang ke Bandung, Teh Fitni membawakan kami masing-masing diberi souvenir yang cantik-cantik. Ada uang mendapat tas kecil, dompet, gantungan, hiasan dinding, bahkan ada yang dibawakan kaos lengan panjang. Kami selalu dibuat senang olehnya.
Ketika Shinta, salah satu penghuni kamar ini yang aslinya dari Pekanbaru, mengalami musibah, orangtuanya meninggal dunia. Teh Fitni yang meneghiburnya bahkan menemaninya pulang kampung. Teh Fitni juga yang mengumpulkan bantuan dari teman-teman PT sampai teman-temannya di RMNI. Saat tiba-tiba Komala, yang juga asli dari Bandung tiba-tiba sakit dan harus dirawat di Harapan Bunda, Teh Fitni bahkan rela mengambil cuti untuk menjaga Komala di RS.
Kebiasan Teh Fitni adalah selalu mengingatkan kami untuk menjada kebersihan dormitori. Katanya kebersihan sebagian dari iman, dan ciri wanita yang shalihah. Harus diakui, meskipun kami semua sama-sama wanita, tidak semuanya tertib dalam menjaga kebersihan. Ada yang sering meletakkan barang pribadinya begitu saja. Pulang kerja, karena capek, apalagi kalau shift second, wah terasa sekali capeknya. Jam 11 malam masuk rumah seperti tinggan separuh tenaga. Biasanya teman-teman suka meletakkan barang begitu saja, sepatu dicampakkan sembarangan, uniform disampirkan ke kursi, pintu, pinggiran tempat tidur, dll. Handuk juga sering mampir di semua tempat. Dan saat seperti itu biasanya Teh Fitni yang merapikannya. Tiba-tiba saja pagi hari kami dapatkan, handuk sudah tertata rapi di jemuran. Sepatu sudah tertata rapi, baju-baju kami juga terlipat atau digantung rapi di dekat lemari masing-masing.
Pernah suatu hari aku pulang kegiatan agak terlambat. Oh iya, aku berbeda dengan Teh Fitni. Aku lebih senang berpenampilan simple. Rambut potong agak pendek, pakaian juga yang simple, celana jeans, t-shirt lengan pendek dan selalu membawa tas gantungan. Aku ikut kegiatan Karang Taruna dan Argapala, kelompok pecinta alam.
Saat pulang ke dormitori sore itu aku teringat bahwa aku masih punya cucian yang belum selesai. Aku termasuk orang yang agak malas mencuci. Kemarin sebelum berangkat acara kemah aku sempat merendam pakaianku dalam 2 ember. Satu ember besar untuk berbagai jenis pakaianku seminggu dan satu ember kecil berisi unform agar tidak terkena noda luntur.
Sampai di rumah aku celingukan kesana-kemari karena tidak mendapatkan ember-emberku. Wah gawat, pikirku. Bajuku dimana?
Tiba-tiba Teh Fitni menjulurkan wajahnya dari balik sekat yang membatasi dapur dengan kamar mandi. "Fatiya, ya.... Maaf dhek, bajunya Teteh cuciin, mungkin sekarang udah kering, itu dijemuran.." teriak Teh Fitni enteng.
Aku kaget mendengar ucapan Teteh kami ini. Kok bisa-bisanya mencucikan bajuku yang seabrek gitu. Saat aku mendekat mau meminta penjelasan, Teh Fitni sudah menimpali kembali,
"Soalnya Teteh kasihan sama Tiya, nanti kalau pulangnya sora, bajunya belum dicuci, takut nggak dapat panas lagi. Kan uniformnya besok dipakai kerja, masuk pagi kan? Kebetulan Teteh juga sedang senggang, ya sudah Teteh cuci saja... nggak apa-apa kan?" lanjut Teh Fitni yang membuatku semakin merasa tidak enak.
Belum sempat aku mengucapkan terima kasih karena masih bingung seakan tidak percaya, si Teteh sudah mengemasi maskannya, sudah pamitan lagi.
"Tadi Teteh sudah goreng ikan sama tempe, ada sayur asam di meja dan di kulkas masih ada kue kecil. Nanti buat makan malam Tiya sama Komala ya. Yang lainnya tadi sudah makan, yang masuk malam biasanya sudah siap-siap makan malamnya. Teteh mau ada acara di Nuris (Masjid Nurul Islamm-pen) mungkin pulang agak malam. Dah ya Tiya, istirahat aja, kan capek habis camping. Wassalamuálaikum."
Begitu saja si Teteh mencium pipiki kanan dan kiri lalu berlalu keluar kamar. Hanya kibasan jilbab panjangnya yang aku rasakan. Aku hampir tidak percaya dengan semuanya.
Teh Fitni, ah... air mata ini tiba-tiba saja tidak terbendung. Begitu baiknya dirimu kepada kami yang engkau anggap sebagai adik-adikmu sendiri. Masih ada orang sebaik dirimu Teh... Engkau bukan hanya seorang bidadari di rumah ini, engkau adalah bidadari kehidupan kami. Cantik wajahmu, cantik juga hatimu.()
buat alumni Blok P # sekian # sekian # sekian, kapan ya kita bisa bertemu lagi...
Senin, 24 September 2007
Hilangnya Sebuah Mobil
Tidak mudah mempercayai seseorang, dan tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya, apalagi di kota seperti Batam ini, yang merupakan tempat berlabuhnya berbagai macam tipe manusia dan dari berbagai daerah, dengan karakter dan sifat yang berbeda pula.
Kejadian itulah yang dialami Suwarto. Ayah seorang anak itu sama sekali tidak menaruh sedikitpun curiga kepada Irfan, teman yang sudah dianggap adiknya itu. Bagaimana tidak. Irfan adalah remaja yang ia didik untuk bekerja di bengkel mobil tempat ia bekerja. Selama bersamanya Irfan belum pernah sekalipun menunjukkan ciri bahwa ia akan mendustainya.
Awalnya Suwarto mengenal Irfan ketika seorang temannya datang ke bengkelnya untuk menanyakan apakah bisa menerima anak PKL di bengkelnya tersebut. Memang bengkel miliki Suwarto cukup dikenal dan sering dijadikan tempat praktek oleh siswa STM bahkan mahasiswa. Di samping karena manajemen bengkelnya bagus, pengelolaannya yang profesional, menangani berbagai merek kendaraan, dikerjakan oleh teknisi yang sudah ahli dan sudah mendapatkan sertifikasi untuk bengkel standard nasional. Dan Suwarto adalah salah seorang teknisi senior di bengkel tersebut.
Karena sudah sering menangani siswa PKL, dan lagipun ia kenal baik dengan temannya itu, maka Suwarto pun mendaftarkan Irfan untuk PKL di bengkel itu selama 3 bulan. Selama waktu itu Irfan boleh membantu pekerjaan bengkel dan hanya mendapat fasilitas makan siang. Dan sejak saat itu pula Irfan sudah langsung diterima.
Beberapa hari berikutnya Irfan menunjukkan sikap sebagai pelajar yang baik. Ia selalu membantu Suwarto dalam melakukan pekerjaannya. Mengambilkan toolset, membersihkan onderdil, mengganti oli dan pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Suwarto juga tanpa segan-segan memberikan penjelasan yang dibutuhkan oleh Irfan.
Semakin lama, mereka semakin dekat dan akrab. Irfan sering bermain ke rumah Suwarto, dan Suwarto juga sering memberikan bantuan kepada Irfan. Kadang-kadang Suwarto mengajaknya makan siang bersama di rumah, kadang mentraktirnya makan di luar. Irfan juga banyak belajar tentang agama kepada Suwarto. Kebetulan Suwarto termasuk orang yang taat dan memiliki wawasan yang luas. Meskipun kerja di bengkel, Suwarto selalu mengikuti perkembangan politik, situasi sekitar pada umumnya. Suwarto juga termasuk orang yang gemar membaca, terbukti di rumahnya banyak buku-buku bacaan dari berbagai jenis ilmu, mulai buku-buku Islam, buku politik, buku tentang mesin otomotif, karya sastra dan beberapa jenis majalah yang tersusun rapi berdasarkan periode terbitnya. Terlihat bahwa Suwarto memang memiliki kegemaran membaca yang cukup baik.
Begitulah, mereka berdua semakin akrab hingga waktu PKL berakhir. Irfan akhirnya pulang kampung di daerah bagian barat Sumatera. Ia harus melanjutkan sekolah, membuat laporan dan meneruskan hingga lulus. Katanya setelah lulus ia ingin kembali ke Batam lagi dan mencoba mengadu nasib di kota ini. Suwarto tidak lupa berpesan, menitip salam untuk keluarganya, guru pembimbing di sekolah dan mengimgatkan untuk sering-seirng menghubunginya, apalagi jika nanti sudah lulus dan datang ke Batam lagi, Irfan disuruhnya mampir ke rumah.
Kurang lebih setahun kemudian, Suwarto hampir tidak pernah mendengar kabar Irfan, hanya beberapa kali setelah selesai PKL Irfan menghubunginya untuk konsultasi pembuatan laporan dan mengirimkan laporan PKL-nya melalui pos untuk ia tandatangani, setelah itu ia tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga suatu hari ia dikagetkan oleh kedatangan Irfan di rumahnya. Penampilan Ifran sudah berubah. Ia berpenampilan seperi seorang aktifis. Celananya dipotong di atas lutut dan mengenakan kopiah haji. Ia juga mengenakan baju koko.
"Datang ke Batam kok nggak bilang-bilang, kapan sampainya?" Tanya Suwarto ketika Irfan sudah ia persilakan duduk di ruang tamunya.
"Maaf Pak To, Fan sebenarnya sudah satu bulan disini, tapi menghubungi Pak To malu, takut merepotkan. Sekarang Fan sudah punya pekerjaan." jelas Irfan.
"Oh, iya? Kerja dimana" sambung Suwarto
"Usaha kecil-kecilan, berdagang. Tapi sekarang sedang ada peluang bagus. Fan mau membuat kue, pasarnya sudah ada. Tapi Fan modalnya belum cukup. Makanya Fan datang kesini, mau minta tolong Bapak. Fan perlu tambahan modal.. " jawab Irfan tanpa segan-segan langsung mengungkapkan keinginannya.
"Berapa kira-kira perlu modalnya, kalau banyak ya aku nggak punya. Tahu sendiri kan bagaimana keuanganku." jawab Suwarto.
"Nggak banyak kok Pak, cuma 500 ribu saja, untuk tambahan beli tepung dan gula. Peralatannya sudah ada."
Sambil melajutkan pembicaraan seperlunya, akhirnya mereka berpisah. Suwarto memberikan uang yang diminta bekas anak didiknya itu. Irfan berjanji akan mengembalikan bulan depan jika kuenya sudah laku.
Sebulan kemudian Irfan datang lagi, tapi tidak untuk membayar hutangnya yang 500 ribu itu. Dia malah menceritakan omset kuenya yang sudah bertambah banyak. Pelanggannya juga bertambah setiap hari. Dalam waktu sebulan ia sudah bisa mengirim 1500 paket kue ke warung-warung dan toko di Batu Aji dan sekitarnya. Bahkan sudah ada beberapa toko di Simpang Dam, Perumahan Genta dan Sekupang. 2 minggu terakhir ia harus menyewa mobil untuk mengantarkan pesanan ke pelanggannya.
Karena itulah Irfan datang ke rumah Suwarto lagi untuk meminta maaf kalo pinjamannya akan ia pakai untuk diputar lagi, bahkan ia menawarkan kalau mau ikut investasi Suwarto bisa menambahkan modal dan nanti akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungannya. Irfan juga merayu Suwarto untuk menyewa mobilnya saja, agar uang sewanya untuk Pak Suwarto saja, tidak usah menyewa ke orang lain.
Dengan tujuan untuk membantu teman karibnya itu, akhirnya Suwarto merelakan mobilnya dibawa Irfan. Ia dijanjikan akan diberikan uang sewa 1,5 juta per bulan, sebagaimana wajarnya harga sewa mobil. Tapi Suwarto tidak menyanggupi permintaan tambahan modal dari Irfan karena memang ia tidak memilikinya. Ia hanya pesan kalau sudah ada, uangnya dikembalikan sejumlah yang ia pinjam saja.
Bulan berikutnya Irfan datang lagi. Kali ini Irfan semakin terlihat cerah. Usahanya boleh dibilang sangat berhasil. Dan kali ini ia ingin melakukan negosiasi dengan Suwarto tentang mobilnya.
"Setelah Fan pikir, daripada Fan menyewa terus ke Bapak, bagaiman kalau mobil Bapak Fan beli saja. Harganya berapa terserah Bapak, tapi Fan membayarnya mengangsur sesuai dengan harga sewa mobil ini, yaitu 1,5 juta sebulan." jelas Irfan kepada pembimbing PKL-nya itu.
Sekali lagi Suwarto tidak bisa menolak permintaan orang yang ia anggap sebagai adiknya itu. Ia menyetujui menjual mobilnya kepada Irfan dengan harga 20 juta, dengan rincian uang muka sebesar 2 juta, selanjutnya angsuran 1,5 juta per bulan selama setahun.
Mereka kemudian membuat surat perjanjian jual beli yang ditandatangi di atas materai. Mereka juga mengajak 2 orang yang mereka kenal untuk menjadi saksi. Jual beli telah sah, namun Ifran berjanji akan membayar uang mukanya besok pagi, paling lambat 2 hari, sekaligus membayar pinjaman yang 500 ribu dan cicilan bulan pertama. Berarti, besok ia akan membawa uang 4 juta untuk Suwarto.
Hari yang dijanjikan tiba, tapi Irfan tidak kunjung datang. Suwarto berbaik sangka mungkin ia sibuk. Ia tunggu hari berikutnya. Namun Irfan tidak kunjung datang juga. Suwarto masih menunggu kabar dari Irfan. Hari berikutnya sama juga. Suwarto coba menghubungi nomor telepon Irfan, tapi tidak bisa dihubungi. Nomor handphone yang diberikan juga selalu tidak aktif.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Ternyata Ifran tidak pernah datang lagi ke rumah Suwarto, bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Suwarto coba cari informasi ke teman-temannya. Beberapa kali ia cari alamat yang pernah ditinggali Irfan. Ia juga datang ke rumah yang ditunjukkan Irfan sebagai lokasi pembuatan kuenya, tapi tidak ada siapapun di rumah itu.
Suwarto hanya membaca istighfar dalam hati, mungkin Allah sedang mengujinya. Mobil itu mungkin juga memang bukan rejekinya. Pikirnya dalam hati. Sempat terpikir untuk melaporkan ke polisi, tapi mungkin juga tidak akan memecahkan masalah. Mungkin juga Irfan sudah tidak ada di Batam lagi. Buktinya beberapa hari lalu ada seorang temannya di Muka Kuning yang menelepon ke HP-nya, menceritakan hal yang sama dengannya. Bahwa Irfan telah meminjam sejumlah uang, namun malah sekarang tidak bisa dihubungi.
Ah, sudahlah, bukan rejeki saya, batin Suwarto. Semoga Irfan diberikan petunjuk oleh Allah dan diberi kesadaran atas khilafnya. Allah pasti akan mengganti yang lebih baik lagi.
kenangan mobil merah, yang telah menyertai kehidupan kami selama di Batam
Kejadian itulah yang dialami Suwarto. Ayah seorang anak itu sama sekali tidak menaruh sedikitpun curiga kepada Irfan, teman yang sudah dianggap adiknya itu. Bagaimana tidak. Irfan adalah remaja yang ia didik untuk bekerja di bengkel mobil tempat ia bekerja. Selama bersamanya Irfan belum pernah sekalipun menunjukkan ciri bahwa ia akan mendustainya.
Awalnya Suwarto mengenal Irfan ketika seorang temannya datang ke bengkelnya untuk menanyakan apakah bisa menerima anak PKL di bengkelnya tersebut. Memang bengkel miliki Suwarto cukup dikenal dan sering dijadikan tempat praktek oleh siswa STM bahkan mahasiswa. Di samping karena manajemen bengkelnya bagus, pengelolaannya yang profesional, menangani berbagai merek kendaraan, dikerjakan oleh teknisi yang sudah ahli dan sudah mendapatkan sertifikasi untuk bengkel standard nasional. Dan Suwarto adalah salah seorang teknisi senior di bengkel tersebut.
Karena sudah sering menangani siswa PKL, dan lagipun ia kenal baik dengan temannya itu, maka Suwarto pun mendaftarkan Irfan untuk PKL di bengkel itu selama 3 bulan. Selama waktu itu Irfan boleh membantu pekerjaan bengkel dan hanya mendapat fasilitas makan siang. Dan sejak saat itu pula Irfan sudah langsung diterima.
Beberapa hari berikutnya Irfan menunjukkan sikap sebagai pelajar yang baik. Ia selalu membantu Suwarto dalam melakukan pekerjaannya. Mengambilkan toolset, membersihkan onderdil, mengganti oli dan pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Suwarto juga tanpa segan-segan memberikan penjelasan yang dibutuhkan oleh Irfan.
Semakin lama, mereka semakin dekat dan akrab. Irfan sering bermain ke rumah Suwarto, dan Suwarto juga sering memberikan bantuan kepada Irfan. Kadang-kadang Suwarto mengajaknya makan siang bersama di rumah, kadang mentraktirnya makan di luar. Irfan juga banyak belajar tentang agama kepada Suwarto. Kebetulan Suwarto termasuk orang yang taat dan memiliki wawasan yang luas. Meskipun kerja di bengkel, Suwarto selalu mengikuti perkembangan politik, situasi sekitar pada umumnya. Suwarto juga termasuk orang yang gemar membaca, terbukti di rumahnya banyak buku-buku bacaan dari berbagai jenis ilmu, mulai buku-buku Islam, buku politik, buku tentang mesin otomotif, karya sastra dan beberapa jenis majalah yang tersusun rapi berdasarkan periode terbitnya. Terlihat bahwa Suwarto memang memiliki kegemaran membaca yang cukup baik.
Begitulah, mereka berdua semakin akrab hingga waktu PKL berakhir. Irfan akhirnya pulang kampung di daerah bagian barat Sumatera. Ia harus melanjutkan sekolah, membuat laporan dan meneruskan hingga lulus. Katanya setelah lulus ia ingin kembali ke Batam lagi dan mencoba mengadu nasib di kota ini. Suwarto tidak lupa berpesan, menitip salam untuk keluarganya, guru pembimbing di sekolah dan mengimgatkan untuk sering-seirng menghubunginya, apalagi jika nanti sudah lulus dan datang ke Batam lagi, Irfan disuruhnya mampir ke rumah.
Kurang lebih setahun kemudian, Suwarto hampir tidak pernah mendengar kabar Irfan, hanya beberapa kali setelah selesai PKL Irfan menghubunginya untuk konsultasi pembuatan laporan dan mengirimkan laporan PKL-nya melalui pos untuk ia tandatangani, setelah itu ia tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga suatu hari ia dikagetkan oleh kedatangan Irfan di rumahnya. Penampilan Ifran sudah berubah. Ia berpenampilan seperi seorang aktifis. Celananya dipotong di atas lutut dan mengenakan kopiah haji. Ia juga mengenakan baju koko.
"Datang ke Batam kok nggak bilang-bilang, kapan sampainya?" Tanya Suwarto ketika Irfan sudah ia persilakan duduk di ruang tamunya.
"Maaf Pak To, Fan sebenarnya sudah satu bulan disini, tapi menghubungi Pak To malu, takut merepotkan. Sekarang Fan sudah punya pekerjaan." jelas Irfan.
"Oh, iya? Kerja dimana" sambung Suwarto
"Usaha kecil-kecilan, berdagang. Tapi sekarang sedang ada peluang bagus. Fan mau membuat kue, pasarnya sudah ada. Tapi Fan modalnya belum cukup. Makanya Fan datang kesini, mau minta tolong Bapak. Fan perlu tambahan modal.. " jawab Irfan tanpa segan-segan langsung mengungkapkan keinginannya.
"Berapa kira-kira perlu modalnya, kalau banyak ya aku nggak punya. Tahu sendiri kan bagaimana keuanganku." jawab Suwarto.
"Nggak banyak kok Pak, cuma 500 ribu saja, untuk tambahan beli tepung dan gula. Peralatannya sudah ada."
Sambil melajutkan pembicaraan seperlunya, akhirnya mereka berpisah. Suwarto memberikan uang yang diminta bekas anak didiknya itu. Irfan berjanji akan mengembalikan bulan depan jika kuenya sudah laku.
Sebulan kemudian Irfan datang lagi, tapi tidak untuk membayar hutangnya yang 500 ribu itu. Dia malah menceritakan omset kuenya yang sudah bertambah banyak. Pelanggannya juga bertambah setiap hari. Dalam waktu sebulan ia sudah bisa mengirim 1500 paket kue ke warung-warung dan toko di Batu Aji dan sekitarnya. Bahkan sudah ada beberapa toko di Simpang Dam, Perumahan Genta dan Sekupang. 2 minggu terakhir ia harus menyewa mobil untuk mengantarkan pesanan ke pelanggannya.
Karena itulah Irfan datang ke rumah Suwarto lagi untuk meminta maaf kalo pinjamannya akan ia pakai untuk diputar lagi, bahkan ia menawarkan kalau mau ikut investasi Suwarto bisa menambahkan modal dan nanti akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungannya. Irfan juga merayu Suwarto untuk menyewa mobilnya saja, agar uang sewanya untuk Pak Suwarto saja, tidak usah menyewa ke orang lain.
Dengan tujuan untuk membantu teman karibnya itu, akhirnya Suwarto merelakan mobilnya dibawa Irfan. Ia dijanjikan akan diberikan uang sewa 1,5 juta per bulan, sebagaimana wajarnya harga sewa mobil. Tapi Suwarto tidak menyanggupi permintaan tambahan modal dari Irfan karena memang ia tidak memilikinya. Ia hanya pesan kalau sudah ada, uangnya dikembalikan sejumlah yang ia pinjam saja.
Bulan berikutnya Irfan datang lagi. Kali ini Irfan semakin terlihat cerah. Usahanya boleh dibilang sangat berhasil. Dan kali ini ia ingin melakukan negosiasi dengan Suwarto tentang mobilnya.
"Setelah Fan pikir, daripada Fan menyewa terus ke Bapak, bagaiman kalau mobil Bapak Fan beli saja. Harganya berapa terserah Bapak, tapi Fan membayarnya mengangsur sesuai dengan harga sewa mobil ini, yaitu 1,5 juta sebulan." jelas Irfan kepada pembimbing PKL-nya itu.
Sekali lagi Suwarto tidak bisa menolak permintaan orang yang ia anggap sebagai adiknya itu. Ia menyetujui menjual mobilnya kepada Irfan dengan harga 20 juta, dengan rincian uang muka sebesar 2 juta, selanjutnya angsuran 1,5 juta per bulan selama setahun.
Mereka kemudian membuat surat perjanjian jual beli yang ditandatangi di atas materai. Mereka juga mengajak 2 orang yang mereka kenal untuk menjadi saksi. Jual beli telah sah, namun Ifran berjanji akan membayar uang mukanya besok pagi, paling lambat 2 hari, sekaligus membayar pinjaman yang 500 ribu dan cicilan bulan pertama. Berarti, besok ia akan membawa uang 4 juta untuk Suwarto.
Hari yang dijanjikan tiba, tapi Irfan tidak kunjung datang. Suwarto berbaik sangka mungkin ia sibuk. Ia tunggu hari berikutnya. Namun Irfan tidak kunjung datang juga. Suwarto masih menunggu kabar dari Irfan. Hari berikutnya sama juga. Suwarto coba menghubungi nomor telepon Irfan, tapi tidak bisa dihubungi. Nomor handphone yang diberikan juga selalu tidak aktif.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Ternyata Ifran tidak pernah datang lagi ke rumah Suwarto, bahkan tidak pernah menghubunginya lagi. Suwarto coba cari informasi ke teman-temannya. Beberapa kali ia cari alamat yang pernah ditinggali Irfan. Ia juga datang ke rumah yang ditunjukkan Irfan sebagai lokasi pembuatan kuenya, tapi tidak ada siapapun di rumah itu.
Suwarto hanya membaca istighfar dalam hati, mungkin Allah sedang mengujinya. Mobil itu mungkin juga memang bukan rejekinya. Pikirnya dalam hati. Sempat terpikir untuk melaporkan ke polisi, tapi mungkin juga tidak akan memecahkan masalah. Mungkin juga Irfan sudah tidak ada di Batam lagi. Buktinya beberapa hari lalu ada seorang temannya di Muka Kuning yang menelepon ke HP-nya, menceritakan hal yang sama dengannya. Bahwa Irfan telah meminjam sejumlah uang, namun malah sekarang tidak bisa dihubungi.
Ah, sudahlah, bukan rejeki saya, batin Suwarto. Semoga Irfan diberikan petunjuk oleh Allah dan diberi kesadaran atas khilafnya. Allah pasti akan mengganti yang lebih baik lagi.
kenangan mobil merah, yang telah menyertai kehidupan kami selama di Batam
Langganan:
Postingan (Atom)